RADAR TULUNGAGUNG - Di sebuah sudut Desa Bulusari, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, deretan tanaman hias tampak tertata rapi.
Aneka warna daun dan bunga menyambut setiap pengunjung yang datang. Di balik itu, ada sosok Youngki Purnomo, pemilik Krishna Flower, yang sukses mengubah hobi menjadi ladang cuan.
Berawal dari kegemaran sang istri mengoleksi tanaman hias, Youngki tak pernah menyangka langkah kecil itu berkembang menjadi usaha yang menjanjikan.
“Awalnya cuma iseng jualan dari tanaman yang sudah banyak di rumah. Lama-lama kok ternyata diminati,” ujarnya.
Baca Juga: Relawan SPPG Menganggur, 8 Dapur MBG di Tulungagung Kena Sanksi Suspend Imbas Dugaan Keracunan
Krishna Flower resmi berdiri pada 24 September 2017. Nama “Krishna” diambil dari nama sang istri, Resti Krishnawati.
Dari kios kecil berukuran 3x6 meter di depan rumah, usaha ini perlahan tumbuh. Kini, tak hanya menjual tanaman hias, Youngki juga melayani pembuatan taman hingga luar kota.
Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Di awal merintis usaha, dia harus berjuang mengenalkan produknya ke masyarakat. Promosi dilakukan lewat media sosial seperti Facebook dan Instagram.
“Awal buka itu berat. Konsumen belum kenal, omzet juga kecil. Yang penting jalan dulu,” katanya.
Seiring waktu, usaha tersebut mulai menunjukkan hasil. Bahkan, pada masa pandemi Covid-19, bisnis tanaman hias justru mencapai puncaknya.
Permintaan melonjak tajam seiring masyarakat yang lebih banyak beraktivitas di rumah.
“Waktu pandemi itu sehari bisa dapat bersih Rp 3 sampai Rp 6 juta. Bahkan, ada tanaman seperti Monstera variegata, yang satu daun bisa jutaan rupiah,” kenangnya.
Meski begitu, tantangan baru muncul setelah pandemi mereda. Ketika aktivitas masyarakat kembali normal, minat terhadap tanaman hias sempat menurun.
Youngki pun tak tinggal diam. Dia mengubah strategi dengan sistem jemput bola, termasuk layanan antar dan pengembangan jasa pembuatan taman.
“Kalau orang malas ke kios, ya kita yang datang ke mereka,” ujarnya.
Selain strategi pemasaran, kunci utama bisnis ini ada pada pemahaman karakter tanaman. Menurutnya, setiap jenis tanaman memiliki kebutuhan berbeda. Kesalahan perawatan bisa berujung kerugian.
“Misalnya aglonema, itu penyiramannya 3-4 hari sekali. Kalau tiap hari disiram malah mati. Jadi harus benar-benar paham karakter tanaman,” jelasnya.
Tak hanya itu, risiko juga datang dari pengiriman luar kota. Tanaman memiliki batas ketahanan maksimal tiga hari dalam kemasan. Jika lebih dari itu, potensi kerusakan sangat besar.
“Kalau sampai rusak, kita harus tanggung jawab. Kadang kirim ulang, padahal itu sudah rugi. Tapi demi menjaga kepercayaan konsumen,” katanya.
Dalam sebulan, Youngki mengaku bisa meraup omzet rata-rata Rp 10 juta hingga Rp 15 juta dari kios. Sementara proyek taman menjadi bonus tambahan yang nilainya bisa lebih besar, tergantung proyek yang dikerjakan.
Kini, Krishna Flower memiliki lebih dari 500 jenis tanaman, dengan harga bervariasi mulai Rp 2 ribu hingga jutaan rupiah. Segmentasi pasarnya pun luas, dari anak muda hingga orang tua.
Meski pernah mengalami kendala seperti pelanggan yang tak melunasi pembayaran, Youngki memilih untuk ikhlas. Baginya, menjaga hubungan baik lebih penting.
“Kalau sudah kejadian, ya diikhlaskan saja. Daripada kehilangan teman,” ucapnya.
Bagi Youngki, kesuksesan usahanya tak lepas dari keberanian memulai. Dia berpesan agar siapa pun yang ingin berwirausaha tidak ragu untuk mencoba.
“Usaha itu cuma dua, sukses atau gagal. Tapi kalau tidak dimulai, pasti sudah gagal duluan,” tegasnya.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri