RADAR TULUNGAGUNG - Musisi tak hanya didominasi orang ”awas”.
Mereka yang menyandang disabilitas pun pun kesempatan sama.
Contohnya, Arsyad Abdillah Bastomi yang terampil memainkan drum meski tunanetra.
Dentuman drum itu terdengar mantap.
Ritmenya rapi, temponya terjaga.
Sulit percaya, tangan yang memukul tiap bagian drum set itu milik bocah 9 tahun yang tak bisa melihat.
Dialah Arsyad Abdillah Bastomi, siswa SLBB Negeri Tulungagung asal Desa Sukowiyono, Kecamatan Karangrejo, Tulungagung.
Di tengah keterbatasan sebagai penyandang disabilitas tunanetra, Arsyad justru menemukan “penglihatannya” lewat musik.
Sejak usia 7 tahun, Arsyad mulai jatuh cinta pada dunia musik.
Bukan piano atau gitar yang ia pilih, melainkan drum.
Alat musik yang bagi sebagian orang justru dianggap paling sulit.
“Lebih suka drum, rasanya bisa bebas berekspresi,” ucapnya polos.
Baca Juga: Tebing Longsor, Akses Jalan Menuju Candi Penampihan Tulungagung Terputus
Perjalanannya tidak instan.
Sang ayah, Sahrul Ali Bastomi, menjadi orang pertama yang mengenalkan ritme kepada Arsyad.
Dari rumah sederhana, ketukan demi ketukan mulai dikenalnya.
Kini, kemampuannya terus diasah lewat latihan rutin dan les drum.
Setiap hari, Arsyad menghabiskan waktu 30 hingga 60 menit untuk berlatih.
Tanpa melihat not balok atau not angka, dia mengandalkan pendengaran.
Lagu diputar berulang-ulang, lalu ia mencoba menirukan sedekat mungkin dengan versi asli.
“Yang sulit itu memastikan pukulan selalu tepat, karena tidak bisa melihat posisi,” katanya.
Baca Juga: Jembatan Gantung Kendalbulur Tulungagung Jadi Akses Vital Warga, Perawatan Berkala Wajib Dilakukan
Namun, keterbatasan itu tak mematahkan semangatnya.
Justru dari situlah kepekaan Arsyad terasah.
Dia belajar mengenali setiap bagian drum set dengan perasaan, bukan penglihatan.
Genre pop rock menjadi favoritnya.
Energi dan dinamika musik itu seolah selaras dengan semangatnya yang tak pernah padam.
Tak hanya berlatih, Arsyad juga mulai mencicipi panggung.
Dia pernah tampil di GOR dalam Festival Ramadan 2026 hingga Mataraman Rock Festival yang baru-baru ini digelar.
Di hadapan banyak orang, Arsyad justru tampil percaya diri.
Baca Juga: ORI Campak di Ringinpitu Tulungagung Tembus 68,4 Persen, Dinkes Kejar Sisanya lewat Imunisasi Rutin
“Senang sekali, banyak yang melihat dan saya merasa diapresiasi,” ungkapnya.
Di balik itu semua, ada perjuangan panjang.
Arsyad terlahir prematur saat usia kandungan 6 bulan.
Kondisi itu membuat saraf matanya tidak berkembang sempurna hingga akhirnya mengalami lepas retina pada kedua mata.
Namun, bagi keluarganya, kondisi tersebut bukan akhir.
Justru menjadi awal untuk menemukan potensi lain.
“Yang paling penting kami jaga itu mentalnya, supaya Arsyad tidak minder,” ujar sang ayah.
Pendampingan pun tidak mudah.
Tanpa notasi visual, Arsyad harus belajar mengandalkan feeling art.
Mengatur tempo dan menghafal lagu menjadi tantangan tersendiri. Tapi di situlah kekuatannya tumbuh.
Bagi keluarga, musik bukan sekadar hobi.
Lebih dari itu, menjadi terapi yang mengasah keseimbangan otak kiri dan kanan Arsyad.
Bahkan, dia menyimpan harapan bisa tampil di Jakarta dan berkolaborasi dengan Dewa 19. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri