RADAR TULUNGAGUNG - Dian Kurnia Sari melihat suara perempuan kurang bergema di ruang akademis di Tulungagung.
Tak ayal, dia pun berusaha mematahkan stigma itu dengan beragam kiprah di ruang publik.
Di sudut Kecamatan Karangrejo, tepatnya di Desa Sukowidodo, Tulungagung, seorang perempuan muda bernama Dian Kurnia Sari sedang merawat sebuah kegelisahan besar.
Kegelisahan itu bukan tentang hal-hal personal, melainkan tentang senyapnya suara perempuan dalam diskursus intelektual di ruang-ruang akademik Tulungagung.
Dian mengenang masa-masa kuliahnya di tahun 2016. Kala itu, dia melihat pemandangan yang timpang.
Mahasiswi cenderung pasif di kelas, sementara diskusi publik didominasi oleh laki-laki. Sedikit sekali perempuan yang berani tampil dan bicara di depan umum.
Kondisi ini yang kemudian memicu Dian dan rekan-rekannya untuk mendirikan Forum Perempuan Filsafat.
"Kami ingin level up diri. Forum ini lahir dari kegelisahan atas kesenjangan intelektual antara perempuan dan laki-laki saat itu," ujar perempuan yang sehari-hari sebagai pengajar di bimbingan belajar dan salah satu kampus di Tulungagung ini.
Bagi Dian, filsafat bukan sekadar menghafal teori, melainkan alat untuk memutus mata rantai ketidakadilan.
Bersama dosen-dosen yang memiliki perhatian pada isu gender, dia mulai membedah ketimpangan yang terjadi, mulai dari bangku kuliah hingga ke tengah masyarakat.
Visinya adalah keadilan harus dimulai dari kejernihan berpikir di ruang akademik.
Namun, menanamkan kesadaran bukanlah perkara instan. Tantangan terberatnya adalah banyak orang merasa kondisi ketimpangan tersebut adalah hal yang baik-baik saja.
"Membangun kesadaran itu memakan waktu lama. Tantangannya adalah budaya yang menganggap ketimpangan sebagai kewajaran," ungkapnya.
Aktivitas Dian tidak berhenti di meja diskusi. Forum yang ia bangun juga memberikan pendampingan berkelanjutan bagi para korban ketidakadilan gender.
Jika ada yang membutuhkan bantuan hukum, Dian dan timnya siap menjembatani hingga ke lembaga hukum yang direkomendasikan.
Kini, setelah hampir satu dekade bergerak, Dian mulai melihat tunas-tunas kesadaran itu tumbuh.
Perempuan-perempuan di Tulungagung mulai menempati posisi strategis dan berani bersuara (speak up) jika menemui ketimpangan.
Melalui pelatihan feminisme dan gender yang ia adakan bagi mahasiswa serta pemuda, Dian terus menyemai benih kebaikan.
"Harapan saya, semakin banyak pemuda yang memiliki kesadaran gender. Saya ingin perempuan di daerah seperti saya bisa terus produktif dan menumbuhkan kebaikan di mana pun mereka berada," pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri