RADAR TULUNGAGUNG - Deru kendaraan di kawasan Ceplok Piring, Jalan Adi Sucipto, Kelurahan Kenayan, Kecamatan Tulungagung, Tulungagung, tak pernah benar-benar berhenti.
Di tengah lalu lalang itu, Didik Zakariya, 56, tetap setia duduk di balik mesin jahit tuanya. Tangannya lincah merapikan sobekan kain, seolah menantang laju zaman yang kian cepat berubah.
Warga Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, itu telah 20 tahun menekuni pekerjaan sebagai penjahit pinggir jalan.
Sejak 2005, Didik −sapaan akrabnya− membuka lapak sederhana, melayani permak pakaian warga. Di saat dunia mode bergerak ke arah serbainstan, mulai dari fast fashion, belanja online, hingga jasa jahit modern berbasis digital, dia memilih tetap bertahan dengan cara lama.
Baca Juga: Kisah Guru SD di Tulungagung Raup Cuan dari Sketsa Hitam Putih, Omzet Tembus Ratusan Ribu Per Bulan
Dia setiap hari mulai bekerja pukul 09.00 hingga sekitar pukul 15.00. Pelanggannya datang silih berganti, membawa celana yang kepanjangan, baju yang kebesaran, atau resleting yang rusak. Semua ditangani dengan ketelatenan yang tak tergantikan mesin.
Harga jasanya tak seberapa, mulai dari Rp 10 ribu untuk jasa potong celana hingga Rp 30 ribuan lebih untuk permak total. Namun, niat mencari rezeki untuk keluarga membuatnya lebih semangat dalam menjahit.
“Kalau ramai, sehari bisa dapat Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu,” tuturnya, Senin (6/4).
Namun saat sepi, penghasilannya bisa turun hingga sekitar Rp 150 ribu. Sebab, modernisasi, di satu sisi membawa tantangan tersendiri bagi pekerjaan seperti yang digelutinya.
Masyarakat kini lebih mudah membeli pakaian baru dengan harga terjangkau ketimbang memperbaiki. Belum lagi hadirnya jasa penjahit rumahan dengan promosi di media sosial yang semakin menjangkau luas.
Di sisi lain, justru di tengah arus itulah jasa Didik tetap dibutuhkan. Ada segmen masyarakat masih mengandalkan sentuhan tangan dan kecepatan layanan langsung di tempat.
Tanpa aplikasi, tanpa antre digital. Cukup datang, tunggu, dan pakaian baru maupun lama kembali rapi.
Di kawasan itu, Didik tak sendiri. Dia tergabung dalam “Kompas” (Komunitas Penjahit Pinggir Aspal). Mereka menjadi potret kecil pekerja informal yang berusaha bertahan di tengah modernisasi yang kian tak terelakkan.
Meski sederhana, mereka menyimpan harapan yang sama yaitu mendapat lokasi yang lebih layak dan strategis. Bukan untuk bersaing dengan teknologi, melainkan agar tetap punya ruang di tengah perubahan.
“Harapannya ada tempat yang lebih strategis. Yang penting, kami tetap bisa kumpul,” ujarnya.
Bagi Didik, modernisasi bukan untuk dilawan, melainkan dihadapi dengan keteguhan. Dia sadar tak semua hal harus berubah. Di tengah dunia yang serbacepat, masih ada ruang bagi ketelatenan, kepercayaan, dan hubungan langsung antar manusia.
Seperti benang yang ditariknya setiap hari, Didik terus merajut harapan, pelan, tapi pasti. Bertahan di pinggir aspal, di antara masa lalu yang ia jaga dan masa depan yang terus bergerak maju. (*/c1/din)
Editor : Vidya Sajar Fitri