RADAR TULUNGAGUNG - Niat awal hanya mengisi waktu luang saat libur. Namun siapa sangka, Kholifatul Khoiroh mampu menggerakkan denyut nadi pelestarian seni tradisional di Kecamatan Sendang.
Di lereng Gunung Wilis, tepatnya Kecamatan Sendang, Tulungagung, denyut pelestarian budaya tradisional terasa hidup. Bukan dari panggung megah atau institusi besar, melainkan dari langkah kecil seorang perempuan desa yang tekun menari dan mengajar.
Dialah Kholifatul Khoiroh, cewek asal Desa Dono, Kecamatan Sendang, Tulungagung, yang mengubah waktu luang menjadi ruang belajar bersama. Awalnya sederhana, mengisi libur sekolah dengan melatih anak-anak tetangga untuk keperluan hajatan.
Namun dari kesederhanaan itu tumbuh sesuatu yang lebih besar: kecintaan terhadap seni tari yang menjalar hingga ke luar kecamatan.
“Awalnya hanya untuk mengisi waktu libur, anak-anak sekitar saya ajari untuk tampil di hajatan. Tapi ternyata yang berminat semakin banyak, bahkan dari luar Sendang ikut bergabung,” tuturnya dengan senyum hangat.
Kini, langkah kecil itu telah bertransformasi menjadi paguyuban seni tari yang berpusat di Balai Desa Krosok, Tulungagung. Setiap gerak yang diajarkan bukan sekadar estetika, melainkan sarat makna.
Terutama dalam tari klasik yang mengajarkan kesabaran melalui gerak lambat, kedisiplinan lewat ketepatan, dan harmoni dalam setiap irama.
Bagi Kholif, menari adalah jalan membentuk karakter. Anak-anak tidak hanya belajar gerakan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan: menghormati yang lebih tua, berpenampilan sopan, dan bertanggung jawab terhadap waktu.
“Tari klasik itu bukan hanya gerakan, tapi juga budi pekerti. Kami ingin anak-anak tumbuh dengan karakter yang halus dan santun,” jelasnya.
Perjalanan ini tentu tidak tanpa tantangan. Dari balita yang mudah kehilangan fokus hingga remaja yang belum pernah mengenal tari sama sekali, semuanya membutuhkan pendekatan berbeda. Namun dengan kesabaran, Kholif tetap setia membimbing secara pelan, tapi pasti.
Di balik itu, ada kekuatan lain yang tak kalah penting yakni kebersamaan warga. Setiap kali ujian pentas digelar, suasana desa berubah menjadi ruang gotong royong.
“Warga sering bahu-membahu membantu, dari tenaga hingga dana demi kesuksesan acara,” ungkapnya.
Pemandangan ini menjadi bukti bahwa seni tari bukan lagi milik individu, melainkan kebanggaan kolektif masyarakat Sendang.
Dukungan Pemdes Krosok yang menyediakan tempat dan fasilitas latihan semakin memperkuat langkah ini. Sinergi antara penggerak seni dan masyarakat menciptakan ruang tumbuh bagi generasi muda untuk tetap dekat dengan akar budayanya.
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, harapan Kholif tetap sederhana yakni menjaga agar seni tradisional tidak hilang ditelan zaman.
“Saya ingin anak-anak tetap mencintai budaya kita sendiri. Karena dari menari, mereka belajar banyak khususnya tentang kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong,” pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri