RADAR TULUNGAGUNG - Bagi Rinaldy Rachmad Subekti, tempe bukan sekadar makanan. Di usia yang masih muda, dia terus menjaga eksistensi sumber protein yang sering disebut superfood ini. Berikut kisahnya.
Pagi baru saja merekah di Desa Kiping, Kecamatan Gondang, Tulungagung. Aroma khas fermentasi kedelai perlahan menyelinap dari sebuah rumah produksi sederhana.
Di sanalah, Rinaldy Rachmad Subekti memulai harinya. Dia tak sekadar membuat tempe, tapi merawat warisan rasa yang sudah lama hidup di tengah masyarakat.
Di tengah gempuran makanan instan dan tren kuliner modern, Rinaldy memilih bertahan. Baginya, tempe bukan sekadar lauk, melainkan identitas sekaligus sumber protein asli Indonesia yang tak lekang oleh zaman.
“Yang dijaga itu rasa dan teksturnya. Kalau itu konsisten, orang pasti balik lagi,” ujarnya.
Keputusan Rinaldy untuk tetap menggunakan kedelai impor berkualitas tinggi bukan tanpa alasan.
Meski harga bahan baku kerap naik turun, dia tak ingin mengorbankan kualitas. Prinsipnya sederhana, sekali pelanggan kecewa, kepercayaan bisa hilang.
Dan benar saja, dari dapur kecilnya di Gondang, tempe produksi Rinaldy telah menjangkau banyak kalangan. Mulai dari warga sekitar hingga para pelaku usaha kuliner yang mengandalkan kualitas bahan baku.
Namun, cara Rinaldy menjual produknya tak biasa. Dia tak hanya menunggu pembeli datang. Setiap pagi, dia justru berkeliling, menyambangi satu per satu pelaku UMKM, terutama penjual nasi pecel yang membutuhkan pasokan tempe segar.
Di situlah interaksi sederhana terjadi. Obrolan ringan, tawa kecil, hingga kepercayaan yang dibangun dari hari ke hari.
“Kalau pagi itu tempenya bagus, jualan mereka juga ikut lancar,” katanya.
Lebih dari sekadar usaha, ada kegelisahan yang diam-diam ia simpan. Rinaldy melihat perubahan pola konsumsi, terutama di kalangan generasi muda.
Tempe yang dulu akrab di meja makan, kini mulai tersisih oleh makanan cepat saji dan tren luar negeri.
Padahal ironisnya, di luar Indonesia, tempe justru semakin dikenal. Disebut sebagai superfood, kaya protein, dan digemari karena manfaat kesehatannya.
“Tempe itu sudah mendunia. Tapi jangan sampai kita sendiri malah meninggalkannya,” ucapnya pelan, namun tegas.
Dia pun mengajak generasi Z untuk kembali melirik tempe, bukan sebagai makanan jadul, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan bentuk kebanggaan terhadap produk lokal.
Bagi Rinaldy, setiap potong tempe yang ia produksi membawa pesan sederhana. Bahwa yang lokal tak kalah berkualitas.
Bahwa dari desa kecil seperti Kiping, ada upaya menjaga warisan bangsa tetap hidup. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri