Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Semangat Hari Kartini: Kisah drg Ade Yuly Harizca, Dokter Gigi yang Bangkitkan Kepercayaan Diri Perempuan lewat Senyum Berani

Mega Mustika Sari • Selasa, 21 April 2026 | 09:52 WIB
drg Ade Yuly Harizca: Senyum berani itu simbol kekuatan dan kepercayaan diri perempuan, walaupun dalam kondisi apa pun.
drg Ade Yuly Harizca: Senyum berani itu simbol kekuatan dan kepercayaan diri perempuan, walaupun dalam kondisi apa pun.

RADAR TULUNGAGUNG - Semangat Hari Kartini hari ini tak lagi hanya tentang emansipasi dalam ruang besar, tetapi juga hadir dalam hal-hal sederhana yang berdampak nyata, seperti keberanian untuk tersenyum.

Bagi drg Ade Yuly Harizca, seorang dokter gigi, senyum bukan sekadar estetika, melainkan simbol kekuatan perempuan.

Dari kursi praktiknya, dia melihat bagaimana senyum mampu mengubah cara perempuan memandang dirinya sendiri.

Sebagai perempuan sekaligus tenaga medis, dia memaknai profesinya lebih dalam.

“Kalau menurut saya, semua perempuan itu secara intuisi memang punya rasa untuk merawat. Itu seperti fitrah,” ujarnya. 

Baca Juga: Semangat Hari Kartini, Dr Triswati: Perempuan Berpendidikan Kunci Kemandirian dan Kesetaraan

Di dunia kedokteran gigi, dia tidak hanya fokus pada pengobatan saat sakit datang, tetapi juga mengajak pasien untuk memahami pentingnya perawatan sejak dini.

“Merawat itu bentuk empati kita. Jadi bukan nunggu sakit, tapi bagaimana kita menjaga sebelum itu terjadi,” tambahnya.

Dia kerap menjumpai pasien, khususnya perempuan muda, yang datang dengan rasa kurang percaya diri akibat kondisi gigi yang tidak rapi.

Senyum yang seharusnya menjadi ekspresi kebahagiaan justru ditutupi karena rasa malu.

Dari situ, peran dokter gigi tak lagi sekadar memperbaiki struktur gigi, tetapi juga membantu memulihkan kepercayaan diri. 

Baca Juga: Dian Kurnia Sari, Perempuan Muda Tulungagung yang Perjuangkan Kesetaraan Gender lewat Forum Perempuan Filsafat

“Ada pasien yang sampai kalau senyum itu ditutup, karena nggak pede. Tapi setelah dirawat, mereka jadi berani senyum lepas,” katanya.

Di tengah perkembangan zaman, drg Ade melihat perubahan positif.

Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi mulai meningkat, didukung oleh edukasi yang masif melalui media sosial dan berbagai program penyuluhan.

Namun, dia tetap menekankan bahwa kunci utamanya adalah konsistensi merawat sebelum sakit, bukan menunggu hingga kondisi memburuk.

“Sekarang sudah mulai bagus. Banyak yang rutin scaling tiap 6 bulan. Itu tanda mereka mulai sadar pentingnya merawat gigi,” jelasnya.

Baginya, menjadi Kartini modern bukan hanya tentang capaian besar, melainkan tentang keberanian menjalani peran dengan penuh makna.

Baca Juga: Modal Kamera dan Lighting, Perempuan Asal Kedungwaru Tulungagung Ini Sukses Jalankan Bisnis Dekorasi Mahar dan Seserahan Online

Dia menemukan itu dalam setiap senyum pasien yang kembali percaya diri.

“Kalau kita bisa bikin orang lebih percaya diri lewat senyumnya, itu rasanya puas banget,” ungkapnya. 

Dalam setiap perubahan kecil yang berdampak besar pada hidup seseorang, di situlah nilai perjuangan itu terasa nyata.

Di momen Kartini ini, “senyum berani perempuan” menjadi lebih dari sekadar ungkapan.

“Senyum berani itu simbol kekuatan dan kepercayaan diri perempuan, walaupun dalam kondisi apa pun,” tutupnya.

Melalui tangan seorang dokter gigi seperti drg Ade Yuly Harizca, senyum bukan hanya dirawat, melainkan juga diberdayakan menjadi kekuatan perempuan masa kini. (meg/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#dokter gigi #perempuan #senyum #hari kartini