RADAR TULUNGAGUNG - Perayaan Hari Tari Sedunia di Tulungagung tahun ini tampil beda. Tak sekadar menyuguhkan estetika gerak di atas panggung.
Ajang bertajuk 'Majua' yang diinisiasi Mart Event Management di Taman Bina Bakat dan Kompetensi Siswa (TB2KS) mengajak para penari untuk kembali mengenali ketubuhannya melalui filosofi Jawa yaitu Manjing, Ajur, dan Ajer.
Suasana TB2KS kemarin tampak berbeda dibanding biasanya. Lazimnya suasana yang cukup lengang dan hanya diisi mereka yang berlatih tari, namun kali ini mereka unjuk kebolehan di hadapan masyarakat Tulungagung.
Pegiat tari tradisional Clairine Faiza Saharani Putri Kusumawardhani, mengungkapkan bahwa kegiatan yang berlangsung selama empat hari (21-24 April 2026) ini didasari atas kegelisahannya melihat tren penari muda saat ini.
Menurut dia, banyak penari yang hanya sekadar menghafal gerak tanpa memahami esensi atau jiwa dari tarian tersebut.
"Mungkin banyaknya penari yang menari itu langsung menari saja tanpa mengetahui apa yang terkandung dalam isi tarinya. Mengenal tubuh dahulu sebelum menari itu menurut saya sangat penting, atau istilahnya mawas diri," ujar Clairine.
Rangkaian acara 'Majua' diformulasikan secara berimbang. Pada pagi hari, peserta mengikuti workshop intensif bersama fasilitator berkompeten dari luar kota seperti Jogja, Solo, hingga Semarang.
Sementara siang hingga sore hari, panggung dibuka untuk penampilan sanggar-sanggar tari lokal guna mewadahi minat tampil generasi muda.
Clairine menjelaskan, konsep Majua merupakan akronim dari filosofi Manjing (masuk), Ajur (melebur), dan Ajer (menyatu). Pada tahap awal, penari diajak mengenal potensi diri.
Kemudian melebur dalam eksplorasi ketubuhan yang fleksibel, hingga akhirnya mampu menyatu dengan tarian yang dibawakan.
"Potensi diri harus dikenali, sehingga tidak hanya sekadar menggerakkan anggota badan sesuai tabuhan," tuturnya.
Puncak acara pada hari keempat akan ditutup dengan Solah Bawa, sebuah sesi melaras tubuh yang memberikan kebebasan bagi penari untuk mengeluarkan karakter aslinya.
"Setiap tubuh mempunyai memori ketubuhan yang berbeda. Kami membebaskan adik-adik untuk merasakan ketubuhannya sendiri dan mengeluarkan penariannya masing-masing," tambahnya.
Meski digelar secara intimate dengan jumlah peserta workshop yang terbatas, Laili berharap api semangat pelestarian budaya ini terus menyala di pundak generasi muda Tulungagung.
Ia berpesan agar para penari muda tidak hanya mengejar hasil instan, melainkan menikmati setiap proses panjang dalam berkarya.
"Ini harinya para penari yang patut dirayakan bersama. Kalau bukan kita yang menghidupi dan melestarikan ini, siapa lagi? Untuk generasi muda, fokuslah pada bidang yang kalian senangi karena tidak ada hasil yang instan," pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri