RADAR TULUNGAGUNG - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang baru berlalu membawa beragam cerita. Khususnya perjuangan guru yang mengajar di lokasi terpencil. Seperti yang dilakukan Mukhammad 'Ainul 'Arifin.
Di saat fajar baru saja menyingsing di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Mukhammad 'Ainul 'Arifin sudah harus memacu kendaraannya.
Bukan menuju kantor yang nyaman di pusat kota, melainkan pria ini harus menempuh perjalanan panjang membelah pegunungan menuju SDN 1 Pakisrejo, Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung.
Jarak tempuh sekitar 80 menit pergi-pulang setiap hari telah menjadi kawan akrabnya.
Perjalanan itu bukanlah sekadar rutinitas, melainkan perjuangan nyata melawan medan Tanggunggunung yang ekstrem, tanjakan tajam, tikungan berkelok, hingga ancaman kabut tebal yang kerap menyelimuti jarak pandang.
"Motivasi saya sederhana, yakni mencari rida Allah SWT dan mengamalkan ilmu. Lelah itu pasti ada, apalagi kalau musim hujan, jalur ke Tanggunggunung jadi licin karena aliran tanah. Tapi, semuanya hilang saat melihat antusiasme siswa di SDN 1 Pakisrejo yang bahkan sudah menanyakan halaman buku sebelum saya mengucap salam," ujar Arifin.
Perjalanan pengabdian Arifin pun sempat diuji oleh dinamika birokrasi.
Dia pernah berada di titik nyaris menyerah ketika jam mengajarnya di sekolah lama tergeser oleh masuknya guru P3K. Namun, dia percaya bahwa "Lillah" bukan sekadar ucapan.
Baca Juga: DPRD Tulungagung Tekankan Kesejahteraan Guru dan Peran Orang Tua untuk Wujudkan Pendidikan Bermutu
Berkat bantuan rekan guru dan kepala sekolah, dia justru menemukan jalan baru untuk tetap mengabdi, meski harus beradaptasi kembali di lingkungan yang lebih jauh dan menantang.
Untuk menyiasati kelelahan fisik akibat perjalanan jauh, Arifin punya resep khusus di dalam kelas. Dia kerap menyelipkan gurauan ringan saat mengajar untuk memecah kekakuan.
Hasilnya, rasa lelahnya menguap berganti dengan keceriaan siswa dan ikatan kekeluargaan yang semakin kuat.
Tak jarang, antusiasme siswa kelas kecil yang bersalaman hingga memeluknya menjadi obat paling mujarab setelah bertaruh nyawa di jalanan.
"Setiap kali merasa capek, saya ingat bahwa banyak orang ingin berada di posisi saya untuk memiliki kesempatan mengajar. Itu yang membuat saya tetap semangat berdiri di depan kelas," tambahnya.
Sebagai pendidik yang merasakan langsung getirnya mengajar di wilayah pelosok, Arifin menitipkan harapan besar kepada pemerintah agar lebih memperhatikan nasib guru-guru di wilayah sulit jangkau, terutama dalam hal kemudahan administrasi agar fokus guru tidak terpecah.
Menutup percakapan, pria asal Desa Majan ini memberikan pesan mendalam bagi rekan sejawat dan generasi muda.
"Bagi teman-teman pengajar, tetap semangat, lelahmu akan disertai 'Lillah'. Dan untuk para pemuda, teruslah berkarya, kurangi bergaya, dan abdikan diri demi bangsa," pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri