RADAR TULUNGAGUNG - Menjadi atlet berprestasi butuh perjuangan dan pengorbanan. Hal ini juga dialami Adhymas Yudhistira yang merintis prestasi dari cabor panahan. Berikut kisah siswa SMPN 1 Tulungagung ini.
Di usia 14 tahun, hidup Adhymas Yudhistira seharusnya sederhana berangkat sekolah, pulang latihan, lalu beristirahat seperti remaja pada umumnya.
Namun bagi siswa kelas 2 SMPN 1 Tulungagung itu, hidup sempat berbelok arah bukan karena cedera fisik, melainkan luka yang tak terlihat: gangguan kecemasan.
Padahal, sebelum itu, langkah Dhymas -begitu ia akrab disapa- terbilang mulus.
Ia mengenal dunia panahan sejak usia tujuh tahun, mengikuti jejak sang kakek yang lebih dulu menekuni olahraga tersebut. Dari sekadar coba-coba, panahan perlahan menjadi bagian dari hidupnya.
Latihan demi latihan ia jalani dengan disiplin. Keringat, fokus, dan ketekunan membuahkan hasil. Prestasinya melesat.
Salah satu pencapaian yang paling membanggakan adalah saat ia berhasil meraih juara satu individu tingkat provinsi. Namanya mulai dikenal sebagai salah satu atlet muda potensial dari Tulungagung.
Namun, di tengah grafik yang menanjak, ujian justru datang tanpa tanda. Semua berubah saat Dhymas mengikuti seleksi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
Di momen itulah, untuk pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang asing dalam dirinya.
“Waktu lomba itu cemas mendadak dan panik,” kenangnya.
Bukan sekadar gugup biasa. Rasa itu datang tiba-tiba, intens, dan sulit dikendalikan. Sejak saat itu, kepercayaan dirinya goyah. Fokus yang selama ini menjadi kekuatannya seakan menghilang.
Bagi seorang atlet panahan, ketenangan adalah segalanya. Sedikit saja pikiran terganggu, bidikan bisa melenceng jauh dari target. Dan itulah yang dirasakan Dhymas.
“Yang berat bukan latihannya, tapi pemulihan mentalnya,” ujarnya lirih.
Baca Juga: Tetap Menari di Tengah Kuliah Padat, Mahasiswi Tulungagung Ini Bangga Lestarikan Tari Tradisional
Dhymas kemudian menjalani terapi. Bukan sebentar. Proses itu memakan waktu hingga satu setengah tahun. Ia bahkan sempat mendapatkan penanganan dari psikiater.
Hari-hari yang biasanya diisi dengan latihan dan sekolah kini juga diwarnai dengan upaya memahami diri sendiri.
Di usia yang masih sangat muda, ia harus belajar menghadapi rasa cemas yang datang tanpa diundang. Namun, Dhymas tidak berjalan sendiri.
Di balik proses panjang itu, ada kekuatan yang terus menjaganya tetap berdiri: keluarga. Dukungan dari orang tua menjadi fondasi yang membuatnya tidak menyerah.
“Ayah dan mama sangat mendukung saya,” katanya.
Tak hanya keluarga, pelatih dan tenaga profesional juga turut membantu. Sedikit demi sedikit, Dhymas mulai memahami cara mengendalikan pikirannya.
Ia belajar mengenali rasa cemas, bukan untuk dilawan dengan keras, tetapi untuk diterima dan dikelola.
Proses itu tidak instan. Ada jatuh, ada ragu, ada momen ingin menyerah. Namun perlahan, ia mulai menemukan kembali dirinya.
Hingga akhirnya, Dhymas kembali ke lapangan. Kali ini, bukan hanya dengan teknik yang terasah, tetapi juga dengan mental yang lebih matang.
Momen pembuktian itu datang di ajang Piala Gubernur III Jawa Timur. Di sana, Dhymas kembali berdiri sebagai atlet yantg bukan hanya menghadapi target, tetapi juga diri sendiri. Hasilnya, ia berhasil meraih medali perunggu.
“Deg-degan, senang, dan terharu. Yang pasti bangga juga sama diri sendiri,” ucapnya. (*/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri