RADAR TULUNGAGUNG - Kondisi Pantai Popoh yang seakan tak terurus membuat warga dan pengunjung hanya bisa mengelus dada.
Berikut sekelumuit catatan perjalanan di pantai legendaris di selatan Tulungagung ini.
Siapa yang tidak mengenal Pantai Popoh? Mereka yang berusia di atas 30 tahun tentu tidak asing dengan kawasan wisata di Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung, ini.
Apalagi, pantai yang menghadap Samudra Hindia ini pernah menjadi objek wisata primadona Tulungagung sebelum tergeser pantai-pantai baru yang bertebaran di sepanjang jalur lintas selatan (JLS).
Saya sendiri pada Senin (3/5/2026) lalu nekat berkunjung di hari aktif yang biasanya memang sepi pengunjung. Ini kunjungan terbaru setelah sekitar 8 tahun tidak pernah menginjakkan kaki di pantai ini.
Baca Juga: Pantai Popoh Tulungagung Terpuruk, Dana Perbaikan Nihil, Hanya Ada Dana Kebersihan
Lagipula ini sekalian berangkat ke kantor karena kebetulan sejak 6 tahun lalu berdomisili di kawasan Prigi, Trenggalek, yang notabene bertetangga dengan wilayah Kecamatan Besuki.
Selepas keluar dari JLS Tulungagung-Trenggalek, saya belok ke kanan melintasi PLTA Tulungagung. Jalurnya memang naik turun, tapi lebih cepat dibanding harus lewat jalur utama Besuki-Besole. Bahkan, waktu tempuh bisa terpangkas hingga 5 menit lebih.
Sekitar pukul 10.40, saya pun menginjakkan kaki di Pantai Popoh. Sejenak saya terkesiap, ternyata kondisinya sudah berbanding terbalik dibanding sewindu yang lalu.
Kondisinya memang tetap sepi, tetapi di beberapa titik tampak tidak terurus. Namun, dalam hati kecil saya bilang, kawasan wisata ini masih menyimpan daya tarik sendiri.
Karena cuaca yang cenderung panas dan nyaris tidak ada angin laut berembus, saya pun melangkahkan kaki ke sebuah warkop kecil yang ada di barat Pendapa Agung Popoh.
Baca Juga: Pantai Popoh Tulungagung Sepi Pol: Pendapa Trocoh, Wahana Rusak, Dampak Pandemi Covid-19 Belum Pulih
Dalam kesempatan ini, saya pun mengobrol dengan ibu si pemilik warung yang bernama Sukapi. Dari dia, saya mendapat beberapa hal yang menarik untuk disimak.
Apalagi, dia terkejut setelah mendengar penuturan saya yang sudah cukup lama tidak berkunjung ke Popoh.
"Ya, kondisi Popoh sekarang memang seperti ini. Tetap sepi pada hari aktif," katanya memulai obrolan, usai menyajikan kopi panas pesanan saya.
Menurut wanita yang berdomisili di Dusun Sidem yang selemparan batu dari Pantai Popoh ini, kondisi yang lumayan ramai baru terlihat saat akhir pekan.
Namun, jumlah wisatawan pun tidak seramai pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an. Padahal saat masih dipegang Retjo Pentung bisa dikatakan sangat luar biasa.
"Wisatawan turun drastis," tambahnya.
Wanita berkerudung ini melanjutkan, kondisi bangunan di dalam kawasan wisata pun memprihatinkan. Seperti wahana permainan yang berkarat, pendapa yang trocoh (bocor), dan lain sebagainya.
Tentunya hal ini patut disayangkan, mengingat kawasan wisata ini terhitung legendaris di Tulungagung.
"Bisa sampeyan lihat sendiri seperti apa kondisi di sini. Semua perlu perbaikan," ujarnya.
Sukapi mengakui jika sedikitnya jumlah wisatawan juga berdampak pada pendapatan warga sekitar yang membuka warung seperti dirinya.
Namun, dia sedikit bersyukur jika ada kapal besar bersandar di pelabuhan karena para awak pasti membutuhkan makanan dan minuman.
"Seperti sekarang, ada kapal besar dari Pekalongan yang bersandar. Hal ini cukup membuat para pedagang sini tersenyum karena mendapat pemasukan," tuturnya.
Dia pun hanya berharap kondisi Pantai Popoh bisa kembali seperti dulu. Apalagi masih menyimpan potensi wisata yang menjanjikan, meskipun membutuhkan effort yang luar biasa agar bisa seperti sebelumnya.
Bahkan kalau perlu panggung hiburan yang tersedia bisa kembali dimanfaatkan.
"Beberapa waktu lalu ada pertunjukan musik dangdut di sini. Nyatanya cukup ramai dan membuat kami terhibur. Semoga hal ini bisa terus berlanjut," tutupnya.
Usai ngobrol cukup lama, saya pun berpamitan usai membayar secangkir kopi. Sepanjang jalan menuju pusat kota Tulungagung, pikiran saya masih berkecamuk usai melihat kondisi Pantai Popoh yang tak berubah.
Apakah akan kembali seperti dulu kala? Entahlah. Waktu dan kebijakan daerah yang akan menjawabnya.(*)
Editor : Vidya Sajar Fitri