RADAR TULUNAGGUNG - Kenaikan harga marmer mentah di pasaran membuat perajin di Tulungagung harus memanfaatkan bahan baku sekreatif mungkin.
Salah satunya, Muhamad Aris Rizal, yang memanfaatkan bahan sisa jadi kerajinan baru yang bernilai jual.
Di balik julukan Tulungagung sebagai Kota Marmer, ada denyut para perajin yang terus bertahan. Mereka bukan hanya mengolah batu, melainkan merawat identitas daerah.
Di tengah sorotan publik yang kerap bergeser ke sektor lain, para perajin ini tetap setia menjaga warisan, meski harus berhadapan dengan kenaikan biaya logistik dan tantangan produksi yang kian kompleks.
Memasuki 2026, harga marmer memang merangkak naik sekitar 5 hingga 8 persen. Namun, bagi perajin seperti Muhamad Aris Rizal, angka itu bukan sekadar statistik.
Ada beban yang harus ditanggung dari hulu hingga hilir yang makin dalam hingga ongkos distribusi yang terus meningkat.
Di bengkelnya yang sederhana di kawasan Desa Kates, Kecamatan Kauman, Tulungagung, Aris masih setia mengamati setiap guratan batu.
Baginya, marmer bukan benda mati. Ada cerita dalam setiap alur seratnya.
“Motif itu jiwa. Semakin langka dan unik alurnya, semakin tinggi nilainya,” ujarnya pelan.
Tak semua orang mampu membaca “jiwa” itu. Di tangan perajin, bongkahan kasar berubah menjadi karya bernilai seni.
Namun kini, tantangan bukan hanya soal teknik, melainkan juga keberlangsungan bahan baku.
"Lokasi tambang yang semakin sulit dijangkau membuat biaya produksi ikut terdorong naik," tambahnya.
Meski demikian, marmer lokal Tulungagung tetap punya tempat istimewa di pasar.
Harganya masih jauh lebih bersahabat dibanding marmer impor dari Italia atau Turki yang bisa melambung hingga lima kali lipat. Faktor ini menjadi harapan tersendiri bagi para pengrajin agar tetap kompetitif.
Di tengah keterbatasan, kreativitas justru menemukan jalannya. Sisa-sisa potongan marmer yang dulu terbuang kini disulap menjadi produk kecil bernilai seni mulai dari vandel, asbak, hingga aksesoris meja.
"Bukan sekadar efisiensi, tetapi juga bentuk adaptasi agar tetap bertahan," ujarnya.
Langkah itu sekaligus menjadi cara menjaga agar marmer tetap dekat dengan masyarakat.
Tidak harus selalu hadir dalam bentuk lantai mewah atau dinding megah, tetapi juga dalam benda-benda sederhana yang bisa dinikmati sehari-hari.
Bagi para perajin, persoalan terbesar bukan semata kenaikan biaya. Lebih dari itu, ada kekhawatiran akan semakin berkurangnya regenerasi.
Motif-motif klasik yang dulu menjadi ciri khas perlahan mulai jarang ditemui, seiring berkurangnya tangan-tangan terampil yang mampu mengolahnya.
Namun di balik semua tantangan itu, optimisme masih terjaga.
"Stok marmer di perut bumi Tulungagung diyakini masih cukup untuk puluhan tahun ke depan. Tinggal bagaimana mengelola, menjaga kualitas, dan memastikan para perajin tetap memiliki ruang untuk hidup," tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri