RADAR TULUNGAGUNG - Nur Aini Lustoro tak mau setengah hati menekuni jujitsu. Bahkan, dia rela berlatih keras untuk meraih prestasi impian. Meskipun, dia harus tetap membagi waktu untuk beragam aktivitasnya.
Pagi di Dusun Campurjanggrang, Desa/Kecamatan Campurdarat, Tulungagung, selalu dimulai dengan kesederhanaan. Jalan desa yang lengang, suara aktivitas warga, dan ritme hidup yang berjalan pelan.
Namun, dari tempat yang tampak biasa itulah, seorang atlet muda membangun mimpi yang tidak sederhana.
Namanya Nur Aini Lustoro. Usianya mungkin masih terbilang muda, tetapi keteguhan sikapnya di atas matras sudah berbicara banyak.
Dalam dunia jujitsu yang penuh teknik, tekanan, dan pertarungan strategi, dia belajar satu hal penting: menang bukan hanya soal kekuatan, melainkan tentang ketenangan.
Medali yang kini berhasil ia raih bukanlah hasil instan, melainkan akumulasi dari latihan panjang yang sering kali terasa melelahkan. Ada hari-hari ketika tubuh terasa berat, pikiran jenuh, dan waktu terasa sempit. Namun di situlah ujian sebenarnya sebagai atlet dimulai.
“Yang paling sulit itu membagi waktu,” ucapnya.
Baginya, disiplin bukan hanya hadir saat latihan berlangsung, melainkan juga saat harus memilih untuk beristirahat cukup di tengah godaan aktivitas lain.
Dalam keseharian, Nur Aini terbiasa menjaga ritme hidupnya dengan ketat. Jam tidur dijaga, pola aktivitas diatur, dan fokus selalu dipertahankan. Dia menyadari betul bahwa performa di arena sangat dipengaruhi oleh hal-hal kecil yang sering dianggap sepele.
“Kalau jam tidur terganggu, itu langsung terasa saat bertanding,” katanya.
Baca Juga: Perajin Marmer Tulungagung Berinovasi di Tengah Kenaikan Harga, Sisa Batu Disulap Jadi Produk Seni
Namun, ujian terbesar dalam jujitsu tidak hanya datang dari fisik, tetapi dari mental. Setiap lawan membawa gaya berbeda, strategi berbeda, dan tekanan yang tidak sama. Dalam situasi itulah, Nur Aini belajar membaca permainan.
Dia tidak terburu-buru. Dia tidak mudah terpancing. Saat poin tertinggal sekalipun, dia memilih untuk tetap tenang. Baginya, kepanikan hanya akan membuka celah bagi lawan.
Di atas matras, dia seperti menyusun teka-teki. Mengamati pergerakan lawan, mencari kelemahan, lalu mengeksekusi teknik yang telah berkali-kali dilatih. Semua dilakukan dengan kesadaran penuh, bukan dengan emosi.
“Kalau panik, biasanya justru salah langkah,” ujarnya.
Perjalanan itu tentu tidak berdiri sendiri. Di belakangnya, ada keluarga yang menjadi akar kekuatan.
Baca Juga: Menyusuri Pantai Popoh Tulungagung yang Kian Sepi, Warga dan Pedagang Rindukan Ramainya Wisata
Dukungan yang mungkin terlihat sederhana seperti mengantar latihan, memberi semangat, atau sekadar hadir saat pertandingan justru menjadi bahan bakar terbesar dalam perjalanannya.
Dengan pendekatan latihan yang semakin terstruktur dan intensif, Nur Aini kini mulai menatap target yang lebih besar. Kejuaraan daerah, kejuaraan provinsi, hingga ajang porprov telah masuk dalam peta jalan yang ia susun bersama tim.
”Saya harus terus berlatih intensif karena banyak agenda kejuaraan di depan mata,” tuturnya.
Meski demikian, dia tetap membumi. Dia sadar bahwa perjalanan sebagai atlet adalah maraton panjang, bukan perlombaan singkat. Setiap capaian adalah pijakan untuk langkah berikutnya.
Lebih jauh, Nur Aini menyimpan harapan sederhana namun bermakna. Dia ingin jujitsu bisa semakin dikenal di Tulungagung.
Tidak hanya sebagai olahraga kompetitif, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter generasi muda. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri