RADAR TULUNGAGUNG - Perubahan besar dalam hidup tak selalu dimulai dari langkah yang rumit. Bagi Putri Habiba Khusnul Laila, 32, semuanya berawal dari keinginan hidup lebih sehat.
Warga Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, itu kini dikenal sebagai personal trainer.
Namun, di balik perannya saat ini, ada perjalanan panjang yang tak mudah. Ella, sapaan akrabnya, pernah berada di titik berat badannya menyentuh angka 78 kilogram.
Kondisi ini membuatnya cepat lelah dan kurang nyaman beraktivitas.
Baca Juga: Nur Aini Lustoro, Atlet Jujitsu Tulungagung yang Andalkan Ketenangan untuk Raih Kemenangan
“Dulu gampang ngos-ngosan. Dari situ mulai kepikiran untuk hidup lebih sehat dan kembali ke berat badan ideal,” ujarnya kepada Radar Tulungagung, Sabtu (2/5).
Tekad itu mulai ia wujudkan sejak Maret 2024. Dia rutin berolahraga dan perlahan mengubah pola hidupnya.
Hasilnya tak hanya terlihat dari penurunan berat badan, tetapi juga dari perubahan energi dan kepercayaan diri.
Tubuhnya kini lebih bugar dan lincah. Lebih dari itu, semangatnya justru menular ke lingkungan sekitar. Banyak teman yang ikut tergerak untuk mulai berolahraga.
“Banyak teman akhirnya ikut termotivasi untuk mulai gym. Itu jadi salah satu titik balik saya untuk serius di bidang ini,” imbuhnya.
Dari situlah, langkahnya berkembang. Ella tak sekadar berlatih untuk diri sendiri, tetapi juga mulai menekuni profesi sebagai personal trainer.
Baginya, menjadi pelatih bukan hanya soal memberi instruksi, melainkan juga menjadi contoh.
Dia tetap disiplin menjalani latihan mandiri sembari mengatur jadwal dan memantau perkembangan kliennya. Konsistensi menjadi kunci utama yang terus ia pegang.
“Sebagai trainer, saya harus tetap latihan. Harus bisa jadi figur motivasi, sekaligus memahami kebutuhan dan progres klien,” jelasnya.
Di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Ella tetap menjaga ritme hidup sehat.
Baca Juga: Perajin Marmer Tulungagung Berinovasi di Tengah Kenaikan Harga, Sisa Batu Disulap Jadi Produk Seni
Dia rutin berlatih empat kali dalam seminggu, memperhatikan asupan nutrisi, terutama protein, serta menjaga waktu istirahat.
Menurutnya, keberhasilan dalam membentuk tubuh tak hanya ditentukan oleh latihan. Pola makan justru memegang peranan lebih besar.
“Sekitar 70 persen hasil itu dari apa yang kita makan. Sisanya dari latihan dan istirahat,” tegasnya.
Meski begitu, dia tak menampik bahwa menjaga konsistensi adalah tantangan terbesar. Namun, dia percaya bahwa kunci utamanya adalah kembali pada tujuan awal.
“Olahraga itu tidak butuh waktu lama, 30 sampai 45 menit cukup. Yang penting konsisten. Kalau sudah jadi kebiasaan, nanti malah jadi ‘ketagihan’,” ungkapnya.
Baca Juga: Menyusuri Pantai Popoh Tulungagung yang Kian Sepi, Warga dan Pedagang Rindukan Ramainya Wisata
Bagi Ella, hidup sehat bukan sekadar soal penampilan. Ada tujuan yang lebih dalam yang ia pegang: ingin tetap sehat di masa depan, terutama untuk keluarganya.
“Kebanyakan ibu rela mati untuk anaknya. Tapi saya ingin hidup sehat untuk anak saya. Ingin tetap bugar, awet muda, dan tidak sakit-sakitan,” tuturnya.
Ke depan, dia berharap bisa menginspirasi lebih banyak perempuan untuk berani memulai. Dia juga ingin menghapus stigma negatif terhadap dunia gym yang masih kerap melekat di masyarakat.
“Masih banyak yang menganggap gym itu negatif, terutama untuk perempuan. Padahal justru perempuan sangat membutuhkan untuk menjaga kesehatan,” tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri