Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Ali Muhsen Mahdiy Bangun Kedai Kopi di Tulungagung, Yakin Bertahan dengan Konsep Pengalaman Personal

Rahiiq Al Bachri • Rabu, 20 Mei 2026 | 11:06 WIB
Ali Muhsen Mahdiy punya konsep tersendiri dalam persaingan bisnis kafe yang makin menjamur.
Ali Muhsen Mahdiy punya konsep tersendiri dalam persaingan bisnis kafe yang makin menjamur.

RADAR TULUNGAGUNG - Setiap tempat usaha pasti punya konsep sendiri. Hal inilah yang coba diungkapkan Ali Muhsen Mahdiy melalui kafe Manifest yang memilih pendekatan sedikit berbeda. Berikut kisahnya.

Di tengah menjamurnya kafe modern berkonsep industrial-cozy di pusat Kota Tulungagung, sebagian besar tempat nongkrong berlomba menghadirkan menu cepat saji yang seragam.

Kopi susu gula aren, interior estetik, musik senja, dan sudut swafoto menjadi formula umum yang nyaris tak berubah.

Namun di sudut Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung, seorang pemuda bernama Ali Muhsen Mahdiy justru memilih jalur berbeda.

Baca Juga: Raffi Zamzam Buktikan Kegagalan Bukan Akhir, Kini Sukses Bangun Startup dan Bisnis EO di Tulungagung

Alih-alih mengikuti arus bisnis kafe mainstream, Muhsen membangun sebuah ruang kecil yang lahir dari keresahan sekaligus idealisme tentang bagaimana kopi seharusnya dinikmati.

Bagi Muhsen, kopi bukan sekadar minuman pengusir kantuk atau teman berbincang.

Di balik satu cangkir kopi, ada proses panjang, karakter rasa, hingga cerita manusia yang sering kali hilang di tengah budaya konsumsi serbainstan.

“Karena kami melihat, terutama di Tulungagung, belum banyak kedai yang benar-benar memperhatikan rasa, proses, dan karakter kopi itu sendiri. Kebanyakan masih fokus pada minuman yang cepat dan umum. Dari situ, kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda lewat konsep specialty coffee dan pengalaman ngopi yang lebih personal,” ungkap Muhsen.

Baca Juga: Perjuangan Ella Turunkan Berat Badan dari 78 Kg hingga Jadi Personal Trainer di Tulungagung

Pilihan menghadirkan specialty coffee di wilayah pinggiran tentu bukan keputusan mudah. Pasar kopi di tingkat kecamatan dianggap belum sepenuhnya akrab dengan pendekatan manual brew, eksplorasi rasa, maupun edukasi tentang biji kopi.

Banyak orang meragukan konsep yang dibangun Muhsen akan mampu bertahan di tengah dominasi kafe-kafe besar di pusat kota. Keraguan itu bahkan sudah muncul sejak pertama kali berdiri.

“Pasti ada. Di awal, konsep yang lebih fokus ke kualitas dan pengalaman sempat dianggap terlalu niche atau tidak cocok untuk semua orang. Ada juga yang berpikir pelanggan lebih memilih minuman yang umum dan cepat,” kenangnya.

Muhsen memilih bertahan dengan keyakinannya. Dia percaya konsistensi akan mempertemukan tempat kecil itu dengan orang-orang yang memahami nilai dari sebuah pengalaman.

Baca Juga: Nur Aini Lustoro, Atlet Jujitsu Tulungagung yang Andalkan Ketenangan untuk Raih Kemenangan

“Kalau dikerjakan dengan konsisten, orang akan bisa merasakan perbedaannya. Perlahan pelanggan mulai memahami value yang ingin kami bangun,” lanjut pemuda asal Desa Kromasan, Kecamatan Ngunut, Tulungagung, tersebut.

Keyakinan itu kemudian diterjemahkan bukan hanya lewat kopi, melainkan juga melalui suasana. Kafenya dirancang jauh dari kesan bising dan padat khas kafe perkotaan.

Muhsen memanfaatkan lanskap layaknya desa kelahirannya untuk menghadirkan konsep taman terbuka yang hangat dan menenangkan.

Di sana, pengunjung tidak dipaksa terburu-buru. Aroma kopi bercampur angin desa, percakapan mengalir pelan, sementara suara kendaraan kota tergantikan oleh suasana yang lebih akrab dan manusiawi.

Baca Juga: Berawal dari Konten FYP, Fiona Asal Tulungagung Sukses Raup Pasar Nasional hingga Singapura lewat Selempang Wisuda

Bahkan perlahan tumbuh bukan sekadar menjadi tempat membeli kopi, melainkan “ruang ketiga” bagi anak-anak muda. Tempat untuk singgah setelah penat bekerja, bertukar ide, mencari ketenangan, atau sekadar merasa diterima tanpa harus menjadi siapa-siapa.

Muhsen mengaku momen paling berkesan baginya justru ketika melihat pelanggan datang bukan hanya untuk menikmati minuman.

“Ada yang awalnya datang sendiri lalu akhirnya menjadikan kafe saya sebagai tempat rutin untuk bertemu teman, relasi, bahkan membangun ide baru,” ujarnya.

Dari ruang kecil di pinggiran Tulungagung itu, Muhsen melihat bagaimana kopi dapat menjadi medium yang mempertemukan manusia dengan cerita-ceritanya.

Kafe ini berubah menjadi inkubator organik bagi relasi sosial yang tumbuh perlahan namun hangat.

Baca Juga: Perajin Marmer Tulungagung Berinovasi di Tengah Kenaikan Harga, Sisa Batu Disulap Jadi Produk Seni

Bagi Muhsen sendiri, usahanya tersebut bukan semata bisnis yang mengejar keuntungan. Kedai itu adalah bentuk harapan.

Sebuah ruang aman yang ingin ia hadirkan untuk anak muda Tulungagung agar bisa berkembang tanpa takut dihakimi. 

“Kami berharap bisa menjadi ruang yang positif dan hangat untuk siapa saja. Tempat di mana anak muda bisa berkembang, bertemu relasi baru, belajar, berkarya, atau sekadar merasa diterima,” tuturnya.

Dia juga berharap masyarakat mulai melihat kopi lebih dari sekadar minuman kekinian.

“Kopi bukan hanya tentang minuman, tapi juga tentang proses, cerita, dan pengalaman,” pungkasnya. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#kedai kopi #ngopi #tempat nongkrong #kafe