Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Kafa Tsalitsal Kurnia Lawan GERD dengan Rutin Nge-Gym di Tulungagung, Berat Badan Turun dan Kondisi Membaik

Rahiiq Al Bachri • Rabu, 20 Mei 2026 | 11:48 WIB
Kafa Tsalitsal Kurnia memiliki pengalaman buruk terkena GERD hingga menemukan cara penyembuhan.
Kafa Tsalitsal Kurnia memiliki pengalaman buruk terkena GERD hingga menemukan cara penyembuhan.

RADAR TULUNGAGUNG - Gastroesophageal reflux disease (GERD) pernah menjadi momok bagi Kafa Tsalitsal Kurnia. Namun, jalan kesembuhan tidak melulu dengan obat. Justru dia menemukan dari aktivitas nge-gym secara rutin.

Denting alat beban, suara musik yang menghentak, hingga deretan orang berlatih di depan cermin sering kali identik dengan gaya hidup anak muda yang ingin membentuk tubuh ideal.

Namun, bagi Kafa Tsalitsal Kurnia, ruang gym bukan sekadar tempat membangun otot. Tempat itu justru menjadi titik balik perjuangannya melawan gangguan asam lambung atau GERD yang sempat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Awalnya, Kafa tidak pernah membayangkan dirinya akan rutin datang ke pusat kebugaran. Aktivitas kuliah yang padat, kebiasaan tidur larut malam, serta minimnya gerak membuat kondisi tubuhnya perlahan menurun.

Baca Juga: Raffi Zamzam Buktikan Kegagalan Bukan Akhir, Kini Sukses Bangun Startup dan Bisnis EO di Tulungagung

Dia mulai sering mengalami sesak napas dan rasa tidak nyaman akibat asam lambung yang kambuh berkali-kali. 

“Dulu sering sesak karena GERD. Aku mikir, kalau terus-terusan bergantung obat juga tidak bagus,” ujarnya saat ditemui Radar Tulungagung.

Dari situlah, cewek asal Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, ini mulai mencari alternatif pemulihan. Dia mencoba memahami penyebab kondisi tubuhnya yang semakin mudah drop. 

Setelah mencari berbagai referensi, dia menyadari bahwa pola hidup kurang aktif menjadi salah satu pemicu yang memperburuk kondisi kesehatannya. 

“Aku sadar karena kuliah sampai malam, terus kurang gerak juga. Akhirnya coba olahraga,” katanya.

Pilihan itu kemudian membawanya ke sebuah tempat gym di Tulungagung. Awalnya, dia datang hanya untuk mencoba.

Baca Juga: Kisah Mahasmara Lituhayu Setyobudi, Atlet Taekwondo 13 Tahun Asal Tulungagung Tembus Kejurnas 2026 di Samarinda

Namun perlahan, rutinitas latihan fisik justru membuat tubuhnya mulai terasa lebih baik. Dalam waktu sekitar satu bulan, perubahan signifikan mulai dirasakan.

Pernapasan yang sebelumnya sering terasa berat mulai stabil. Tubuhnya juga terasa lebih bugar dibanding sebelumnya.

Bahkan, berat badannya turun dari 63 kilogram menjadi sekitar 58 kilogram. 

“Yang paling terasa itu napas jadi lebih enak. Badan juga lebih ringan,” ungkapnya.

Bagi Kafa, olahraga di gym ternyata bukan hanya soal kebugaran fisik. Aktivitas tersebut juga menjadi ruang untuk melepas penat di tengah rutinitas kuliah dan pekerjaan yang cukup padat.

Saat mulai rutin berolahraga, dia merasa kondisi mentalnya ikut membaik. “Kalau habis olahraga itu pikiran lebih lega. Jadi semacam healing juga,” tuturnya sambil tersenyum.

Baca Juga: Cerita Ali Muhsen Mahdiy Bangun Kedai Kopi di Tulungagung, Yakin Bertahan dengan Konsep Pengalaman Personal

Di tengah anggapan sebagian orang bahwa nge-gym identik dengan biaya mahal, pengalaman Kafa justru sebaliknya.

Dia mengaku biaya latihan yang dikeluarkan masih cukup terjangkau, yakni sekitar Rp 55 ribu per bulan.

Menurutnya, tempat gym yang ia datangi juga memiliki suasana yang nyaman dan tidak membuat orang minder. Sesama anggota justru saling mendukung meskipun memiliki tujuan latihan dan kemampuan yang berbeda-beda.

“Di sana tidak ada yang saling menghakimi. Mau cowok atau cewek, pemula atau sudah lama latihan, semua biasa saja,” jelasnya.

Meski rutin berolahraga, Kafa menyadari pemulihan kesehatannya tidak hanya bergantung pada latihan fisik semata.

Dia juga mulai disiplin menjaga pola makan. Selama proses pemulihan GERD, dia memilih makanan yang lebih sederhana dan minim pemicu asam lambung.

Baca Juga: Perjuangan Ella Turunkan Berat Badan dari 78 Kg hingga Jadi Personal Trainer di Tulungagung

Dia lebih sering mengonsumsi telur, tempe rebus, serta makanan dengan bumbu yang tidak terlalu kuat.

Baginya, kombinasi antara olahraga dan pola makan sehat menjadi kunci utama memperbaiki kondisi tubuhnya. 

“Kalau diimbangi makan sehat dan nge-gym, alhamdulillah lebih cepat membaik,” katanya.

Kini, gym bukan lagi tempat asing bagi Kafa. Di sela aktivitas harian yang padat, dia tetap berusaha meluangkan waktu untuk berolahraga.

Bukan demi mengejar bentuk tubuh tertentu, melainkan menjaga tubuh tetap sehat dan terhindar dari kambuhnya penyakit yang dulu sempat mengganggunya.

Melalui pengalamannya, Kafa berharap masyarakat tidak lagi memandang olahraga di gym hanya sebagai tren gaya hidup semata.

Menurutnya, aktivitas fisik bisa menjadi langkah sederhana untuk membantu memulihkan kesehatan, selama dilakukan secara konsisten dan disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

“Yang paling sulit itu sebenarnya melawan rasa malas dan konsisten membagi waktu,” tandasnya. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#berar badan turun #gerd #gym #asam lambung