RADAR TULUNGAGUNG - Pasar hewan terpadu (PHT) di Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, tidak hanya menjadi sandaran hidup para peternak.
Di antara mereka terselip pedagang makanan yang juga menggantungkan rezeki pada aktivitas pasar. Salah satunya, Anjar, yang berjualan soto daging.
Di tengah hiruk-pikuk PHT Tulungagung, suara tawar-menawar harga ternak bercampur aroma khas kandang dan debu yang beterbangan sejak pagi, ada satu sudut yang nyaris tak pernah sepi.
Kepulan asap tipis dari panci besar dan aroma kuah soto hangat menjadi penanda keberadaan warung milik Anjar, perempuan tangguh yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari pasar hewan.
Di tempat itulah, kehidupan berjalan pelan namun penuh perjuangan. Sementara para blantik sibuk menghitung harga sapi dan para peternak memikirkan untung rugi dagangan mereka, Anjar tetap setia berdiri di balik meja kayu warungnya, meracik soto dan menyeduh kopi hitam untuk pelanggan yang sebagian besar sudah ia kenal sejak lama.
Perempuan itu bukan pendatang baru di lingkungan pasar sapi. Dia sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan pasar sejak 2004 silam, saat pasar hewan masih menempati lokasi lama dengan kondisi yang jauh lebih sederhana dibanding sekarang.
“Saya jualan di pasar lama sejak 2004. Terus pindah ke sini (lokasi baru) kalau tidak salah tahun 2021 kemarin. Dari pasar sapi lama, saya ikut pindah ke sini,” kenang Anjar.
Puluhan tahun bertahan di lingkungan pasar tentu bukan perjalanan ringan.
Dia melewati berbagai perubahan zaman, naik turunnya harga bahan pokok, pandemi, hingga perubahan lokasi pasar yang memaksa para pedagang harus beradaptasi ulang dengan situasi baru.
Namun, bagi Anjar, warung kecil itu bukan sekadar tempat mencari nafkah. Dari warung sederhana itulah, dia membesarkan dua anaknya hingga mampu hidup mandiri.
Kalimat itu ia ucapkan dengan mata berbinar dan senyum tipis yang sulit disembunyikan. Ada rasa lega sekaligus bangga yang lahir dari perjuangan panjang seorang ibu.
“Selama jualan di sini sudah ini ya, mengantarkan anak menuju kemandirian hidup. Anak saya dua, alhamdulillah sekarang sudah kerja semua,” ujarnya lirih penuh syukur.
Setiap mangkuk soto yang disajikan seolah menyimpan cerita tentang ketekunan. Anjar mengaku bahwa sejak awal memegang satu prinsip yang tidak pernah berubah, yakni menjaga rasa.
Di tengah harga bahan baku yang terus naik, terutama daging sapi yang menjadi bahan utama jualannya, dia memilih tetap mempertahankan kualitas dibanding mengurangi bumbu atau menurunkan standar rasa demi mengejar keuntungan lebih besar.
“Untuk rasa masih tetap dijaga sampai sekarang. Harus dan wajib konsisten kalau mau bertahan. Jualan itu prinsipnya harus seperti itu. Harus,” tegasnya.
Baca Juga: Harga Bahan Pokok di Pasar Ngemplak Tulungagung Naik, Pedagang Keluhkan Modal Kulakan Membengkak
Prinsip sederhana itu rupanya menjadi alasan mengapa pelanggan lama masih terus datang.
Banyak pedagang sapi maupun pembeli ternak yang sengaja mampir hanya untuk menikmati soto racikan Anjar sebelum kembali bertransaksi di area pasar.
Meski demikian, perpindahan pasar ke lokasi baru sejak 2021 membawa tantangan tersendiri baginya.
Jika dulu jumlah warung makan masih terbatas, kini persaingan semakin padat. Lapak kuliner tumbuh lebih banyak, sementara jumlah pelanggan relatif tidak bertambah signifikan.
Kondisi itu membuat para pedagang lama harus berbagi pasar yang semakin sempit.
“Intinya, harapannya jangan ditambahi lapak lagi lah. Soalnya pedagang sapinya itu tetap, tapi warungnya yang semakin banyak,” pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri