RADAR TULUNGAGUNG - Tasya Maghfirotul Wahidah punya cara tersendiri agar anak mau menulis. Apalagi, dia menyadari setiap anak punya potensi sendiri-sendiri.
Di tengah derasnya arus digitalisasi yang perlahan menggeser budaya baca-tulis generasi muda tak menyurutkan semangat Tasya Maghfirotul Wahidah.
Wanita asal Desa Bendiljati Wetan, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, ini mendedikasikan diri sebagai pendamping literasi bagi anak-anak usia SD hingga SMP.
“Mengajari menulis bukan sekadar mengenalkan tata bahasa atau menyusun alur cerita. Lebih dari itu, menulis adalah cara anak-anak belajar mengenali diri dan berani jujur terhadap perasaan mereka sendiri,” tuturnya.
Dia mengaku biasanya mulai menemukan potensi siswanya melalui tugas sederhana di ruang kelas.
Saat siswa diminta membuat cerita pendek, Tasya diam-diam mengamati siapa saja yang memiliki imajinasi kuat, kepekaan rasa, hingga kemampuan merangkai diksi secara alami.
Ketika menemukan bakat terpendam, dia tak langsung membentuk kelas khusus. Tasya justru memilih pendekatan personal melalui obrolan santai di sela waktu luang.
Dia pun bisa mengenal lebih dekat pengalaman, minat, bahkan keresahan anak-anak yang ingin belajar menulis.
“Semua kembali lagi ke siswa. Kalau mereka tertarik belajar menulis cerita, tentu akan saya dampingi lebih intensif,” ujarnya.
Dalam mendampingi anak-anak, Tasya percaya tidak ada metode tunggal yang bisa diterapkan kepada semua siswa. Karena setiap anak lahir dengan kemampuan, karakter, dan kemauan yang berbeda.
Dia lebih sering mengajak anak-anak memulai cerita dari lingkungan terdekat. Mulai dari kisah orang tua, tetangga, sahabat, hingga pengalaman pribadi yang sederhana.
Dari situ, siswa diminta membayangkan watak tokoh, cita-cita, sampai gaya bicara yang kemudian berkembang menjadi cerita utuh.
“Inspirasi bisa datang dari sekitar atau bahkan dari mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Dari situ, karakter tulisan mereka akan muncul secara alami,” tambahnya.
Dia juga selalu menanamkan pemahaman bahwa menulis bukan pekerjaan yang harus selesai dalam sekali duduk.
Ada kalanya seseorang membutuhkan suasana hati yang baik agar ide dapat mengalir lebih jernih.
Saat anak-anak mengalami kebuntuan ide atau writer’s block, Tasya memilih tidak memberi tekanan.
Dia lebih sering menjadi pendengar curhat, teman berdiskusi, atau mengajak siswa mencari inspirasi dari buku, film, hingga kartun favorit mereka.
Pendekatan tanpa tekanan itu justru melahirkan keberanian pada diri siswa untuk menulis secara lebih jujur dan lepas.
Bahkan, ketika mengikuti lomba, Tasya selalu menekankan bahwa kompetisi bukan semata soal menang atau kalah, melainkan ruang untuk belajar dan menikmati proses bertumbuh.
“Bagi saya, membimbing itu bukan membuat tulisan mereka mirip dengan gaya tulisan saya. Tetapi membantu mereka menemukan ciri khasnya sendiri. Tulisan yang bagus itu tulisan yang jujur dan punya nyawa,” pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri