RADAR TULUNGAGUNG - Butuh sebuah kenekatan untuk melakukan hal baru. Kenyataan ini yang dihadapi Moch Chabibi Syafi'uddin saat memutuskan jadi peternak sapi. Hasilnya pun berbuah manis saat Idul Adha tiba.
Memulai bisnis dari hobi sering kali mendatangkan keberuntungan jika ditekuni dengan jeli.
Hal itulah yang dibuktikan Moch Chabibi Syafi'uddin, seorang peternak muda asal Desa Mojoarum, Kecamatan Gondang, Tulungagung, yang sukses menangkap peluang niaga musiman melalui pengadaan hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha di wilayah Tulungagung.
Kisah sukses pria yang akrab disapa Chabibi ini merangkak dari bawah sejak sekitar 2016 lalu.
Berbekal kecintaan pada dunia peternakan, langkah berani diambil tepat setelah menyelesaikan studi di bangku kuliah dengan memanfaatkan fasilitas perbankan demi memutar roda usaha hulu.
"Awal mula karena hobi ternak sapi sekitar 2016 lalu. Begitu lulus S-1, saya nekat melakukan pengadaan hewan kurban dengan modal utang KUR Rp 20 juta. Uang itu saya putar dan bisa dapat 10 ekor sapi dengan sistem membeli di petani pakai DP (uang muka), lalu diambil saat hari-H," ujar Chabibi.
Dalam menjalankan bisnisnya di Desa Mojoarum, Kecamatan Gondang, Tulungagung, dia sangat ketat menjaga kualitas. Sapi-sapi yang disediakan wajib memenuhi syariat Islam dan standar kesehatan yang baku.
Pembelian dilakukan langsung dari peternak pedesaan maupun pasar hewan dengan pola pengandangan dan pakan yang terukur menggunakan kombinasi rumput gajah dan pakan fermentasi guna menghasilkan daging kualitas super.
"Kami membeli hewan kurban yang sudah poel atau berumur 2 tahun. Sebelum beli, kita lihat dengan jeli, hewan harus sempurna. Soal kesehatan, kita juga meminta SKKH (Surat Keterangan Kesehatan Hewan) dari dinas peternakan," jelasnya.
Menariknya, di era digital ini, Chabibi menerapkan metode taksiran modern untuk mempermudah calon pembeli di lapak kandangnya yang representatif.
Konsumen tidak perlu menerka-nerka bobot sapi karena semuanya dihitung menggunakan rumus matematis yang transparan melalui dokumentasi visual.
"Caranya dengan memvideo hewan kurban tersebut, lalu diberikan materi lingkar dada, panjang badan, dan tinggi badan. Dari situ otomatis ketemulah berat badannya. Sejauh ini sapi jenis Limosin dan Simental yang paling diminati, kisaran harga Rp 21 juta sampai Rp 27 juta yang sangat ramai di pasaran," urainya.
Kendati lapak penjualannya di kawasan Gondang selalu siap, dia tak menampik bahwa dinamika pasar ternak tahun ini memiliki tantangan yang cukup berat.
Salah satunya adalah lonjakan harga bakalan dari tingkat pasar hulu yang terjadi sangat progresif mendekati hari raya.
"Tantangan paling terbesar saat ini adalah harga yang mengalami kelonjakan satu bulan terakhir sampai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per ekor. Namun, bagi saya, kepuasan batin yang diterima adalah menjadi manusia yang saling bermanfaat. Kita harus main panjang agar pelanggan tahun depan membeli sapi lagi ke sini," pungkas Chabibi optimistis. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri