RADAR TULUNGAGUNG - Ahmad Ali Manshur memang sangat menyukai sejarah. Namun di balik itu semua, dia getol membudidayakan tanaman yang bernilai ekonomis. Dengan catatan tak meninggalkan sektor pangan.
Di tengah perubahan tren pertanian dan munculnya berbagai komoditas modern, Ahmad Ali Manshur memilih bertahan dengan merawat bibit pohon.
Bukan sekadar mengejar keuntungan, aktivitas pembibitan yang dijalaninya menjadi cara untuk menjaga keseimbangan alam sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.
Sebagai anggota komunitas sejarawan di Tulungagung, Ali Manshur memiliki dua dunia yang berjalan beriringan.
Di satu sisi ia aktif menelusuri jejak sejarah lokal, namun di sisi lain ia juga mengembangkan usaha pembibitan tanaman yang telah digeluti sejak lama.
Bagi pemuda asal Desa Kromasan, Kecamatan Ngunut, Tulungagung tersebut, bisnis bibit bukan hanya perkara jual beli tanaman. Ada nilai keberlanjutan yang ingin terus dijaga.
"Saya sudah lumayan lama berkecimpung di perbibitan pohon karena ikut bapak," ujarnya.
Pengalaman panjang tersebut membuatnya memahami pola kebutuhan pasar. Ali tidak memilih semua jenis tanaman untuk diproduksi dalam jumlah besar.
Dia justru fokus pada beberapa tanaman yang memiliki permintaan stabil di masyarakat. Tiga jenis bibit menjadi andalannya yakni jeruk purut, kenanga, dan jeruk buah.
Pohon kenanga misalnya, meski bukan termasuk tanaman langka, tetap memiliki pasar tersendiri. Bunganya masih banyak dicari masyarakat untuk berbagai kebutuhan tradisi dan kegiatan adat.
Sementara itu, jeruk purut menjadi komoditas yang lebih banyak diserap untuk kebutuhan dapur. Daunnya menjadi salah satu bahan penting dalam berbagai olahan masakan sehingga permintaan cenderung stabil.
"Untuk bibit lain seperti alpukat, nangka, kelengkeng, durian, mahoni, dan lainnya tetap ada, tetapi produksinya tidak sebanyak tanaman utama," jelasnya.
Kondisi pasar yang sudah terbentuk membuat Ali tidak terlalu khawatir dengan persaingan. Baginya, hubungan dengan pelanggan yang sudah terbangun selama bertahun-tahun menjadi kekuatan tersendiri.
"Saya sudah memiliki pasar tersendiri," ujarnya pendek.
Di balik aktivitas bisnis tersebut, kepedulian terhadap lingkungan juga tetap menjadi bagian dari perjalanan Ali. Setiap ada kegiatan penghijauan atau gerakan tanam pohon, dia berusaha ikut berkontribusi melalui penyediaan bibit.
Bibit-bibit tersebut biasanya disalurkan melalui komunitas maupun jaringan masyarakat yang menggelar aksi lingkungan.
Baginya, menanam pohon memiliki manfaat jauh lebih besar dibanding nilai ekonominya. Sebab, keberadaan pohon berkaitan langsung dengan keberlangsungan kehidupan manusia.
Selain mengembangkan pembibitan, Ali juga tidak meninggalkan sektor pangan. Lahan yang dimiliki tetap dimanfaatkan untuk menanam kebutuhan pokok seperti sayur, padi, dan jagung.
Namun, hasil panen tersebut tidak langsung berorientasi pada penjualan. Ada prinsip keluarga yang terus ia pegang, yakni memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi lebih dahulu.
"Setiap panen, saya sisihkan dulu untuk kebutuhan rumah, baru sisanya dijual. Itu yang diajarkan keluarga saya," tuturnya.
Dari bibit kecil yang tumbuh di polybag hingga hasil panen yang mengisi lumbung keluarga, Ali menunjukkan bahwa agribisnis tidak selalu harus bergerak dengan skala besar.
Kadang, keberlanjutan justru lahir dari ketekunan menjaga hal-hal sederhana: pohon, tanah, dan kebutuhan sehari-hari. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri