RADAR TULUNGAGUNG - Suara anak muda saat ini bisa menjadi sebuah bahasan yang menarik. Hal inilah yang menggerakkan Aktivis Peneleh untuk membangkitkan ruang diskusi. Berikut kegiatan mereka.
Di sebuah warung kopi di Tulungagung, sekelompok anak muda tampak serius membahas nilai tukar rupiah, krisis ekonomi, hingga isu lingkungan.
Pemandangan yang kini semakin jarang ditemui di tengah budaya media sosial itu sedang coba dihidupkan kembali oleh Kurnia Ahmad Sabili Robbiki, pemuda asal Desa Sumberagung, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung.
Sejak bergabung dengan Aktivis Peneleh pada 2024, cowok yang akrab disapa Bili ini meyakini bahwa salah satu persoalan yang dihadapi anak muda saat ini bukan sekadar minimnya akses informasi, melainkan berkurangnya ruang untuk mengolah informasi secara kritis.
"Anak muda hari ini sebenarnya tidak kekurangan informasi. Yang sering kurang adalah ruang untuk berdialog dan menguji gagasan bersama," ujarnya.
Cowok 23 tahun ini mengungkapkan, Aktivis Peneleh merupakan organisasi kepemudaan yang berada di bawah naungan Yayasan Peneleh.
Gerakan ini terinspirasi dari pemikiran HOS Tjokroaminoto yang menekankan pentingnya kesadaran, pendidikan, dan peran strategis anak muda dalam perubahan sosial.
Di Tulungagung, organisasi tersebut masih terbilang baru. Kegiatannya pun belum banyak. Sejauh ini, mereka telah menggelar bedah buku dan diskusi isu-isu aktual yang menyentuh kehidupan masyarakat. Meski sederhana, langkah tersebut berangkat dari kegelisahan yang sama.
"Kini semakin banyak anak muda memilih belajar secara individual dibanding membangun ruang belajar kolektif," imbuhnya.
Dia tidak menampik fenomena itu bukan hanya terjadi di Tulungagung. Berbagai survei nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan partisipasi generasi muda dalam organisasi kemasyarakatan dan forum diskusi mengalami pergeseran.
Anak muda kini lebih aktif menyuarakan pendapat melalui media sosial dibanding terlibat dalam ruang dialog tatap muka. Akibatnya, perdebatan sering kali berhenti pada kolom komentar tanpa menghasilkan gagasan yang benar-benar matang.
"Kami melihat ada kecenderungan anak muda lebih nyaman belajar sendiri. Padahal, proses bertukar pikiran dalam kelompok itu penting untuk membangun cara pandang yang lebih luas," katanya.
Karena itu, Peneleh memilih menggunakan pendekatan yang dekat dengan generasi muda. Selain diskusi langsung, mereka mulai memanfaatkan media digital untuk membahas berbagai persoalan yang terjadi di Tulungagung.
Tema yang diangkat pun tidak selalu soal politik. Mereka mencoba mengajak anak muda melihat persoalan dari berbagai sudut, mulai ekonomi, lingkungan, hingga kondisi sosial di sekitarnya.
Menurut Bili, kesadaran sosial tidak lahir dari ruang hampa. Kesadaran muncul ketika seseorang mau melihat dan memahami persoalan yang terjadi di daerahnya sendiri.
Dia mencontohkan isu lingkungan yang sering luput dari perhatian generasi muda. Padahal, dampaknya dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
"Harapan kami, anak muda tidak hanya melihat Tulungagung dari sisi politik. Mereka juga perlu melihat kondisi lingkungan, sosial, dan berbagai persoalan lain yang ada di sekitar," tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri