RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah derasnya arus informasi digital yang membanjiri kehidupan anak-anak dan remaja, tugas seorang guru tak lagi sekadar mengajarkan mata pelajaran.
Lebih dari itu, guru kini dituntut menjadi pembimbing karakter yang mampu membantu siswa memilah nilai, membangun etika, dan menjaga arah perkembangan mereka di tengah perubahan zaman.
Peran itulah yang dijalani Ahmada Fahma Sakilla, 24, guru muda asal Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Setiap hari, Fahma berinteraksi dengan siswa baik di sekolah formal maupun lembaga bimbingan belajar.
Dari pengalamannya, tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan membuat siswa menghafal teori, melainkan menanamkan nilai moral agar tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari.
"Tantangan mengajar anak-anak zaman sekarang itu bukan lagi membuat mereka hafal lima sila, tetapi bagaimana nilai-nilai itu hidup dalam perilaku mereka sehari-hari," ujarnya.
Menurut Fahma, perkembangan teknologi membawa banyak manfaat bagi proses belajar. Namun di sisi lain, penggunaan gawai yang berlebihan juga berpotensi mengurangi interaksi sosial anak-anak.
Kondisi tersebut mendorongnya untuk menghadirkan berbagai metode pembelajaran yang menekankan kerja sama, komunikasi, dan kepedulian antarsiswa.
Di kelas maupun saat kegiatan bimbingan belajar, Fahma kerap mengajak siswa bekerja dalam kelompok dan berdiskusi bersama.
Cara tersebut dinilainya efektif untuk melatih toleransi, menghargai pendapat orang lain, serta membangun semangat gotong royong yang menjadi salah satu nilai utama Pancasila.
"Anak-anak sekarang cenderung lebih banyak berinteraksi dengan layar gawai. Karena itu mereka perlu dibiasakan kembali untuk bekerja sama, berdiskusi, dan saling membantu dengan teman-temannya," katanya.
Tidak hanya itu, Fahma juga menilai generasi muda saat ini menghadapi tantangan baru berupa banjir informasi dari media sosial dan internet.
Informasi yang datang tanpa batas sering kali membuat anak-anak kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan.
Karena itu, menurutnya, pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan pendidikan akademik.
Guru memiliki peran penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis sekaligus menanamkan nilai kebangsaan sebagai pegangan dalam menyikapi berbagai informasi yang diterima siswa.
"Kalau sejak dini mereka memiliki dasar pemikiran yang kuat dan memahami nilai kemanusiaan serta persatuan, mereka tidak akan mudah terpengaruhi hal-hal negatif yang bisa memecah belah," jelasnya.
Fahma menilai menanamkan nilai kebangsaan tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial semata. Pembentukan karakter harus dilakukan secara konsisten melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang diterapkan setiap hari.
Mulai dari menghargai perbedaan pendapat, membangun sikap saling menghormati, hingga membiasakan siswa bertanggung jawab terhadap tugas dan lingkungan sekitar.
Hal-hal sederhana tersebut diyakininya menjadi langkah awal dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.
Fahma optimistis generasi muda Tulungagung memiliki potensi besar untuk berkembang di berbagai bidang. Namun, perkembangan tersebut harus tetap dibarengi dengan pegangan moral yang kuat agar mereka mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
"Pancasila adalah fondasi yang memberi ruang bagi anak-anak untuk berkembang sesuai potensinya. Harapannya, mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan tetap memiliki kepedulian terhadap sesama," pungkasnya. (bac/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri