RADAR TULUNGAGUNG - Sebutan Kota Marmer tidak bisa lepas dari Tulungagung. Hal ini disadari Muhammad Abdillah Subhin dengan membuat usaha yang diberi nama Kiai Rampak. Dia bertekad membawa marmer ke tingkat dunia.
Pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi fase sulit bagi banyak orang, termasuk Muhammad Abdillah Subhin. Saat aktivitas pendidikan yang menjadi kesehariannya harus beralih ke ruang virtual, dia mulai mencari jalan baru agar tetap produktif.
"Kalau orang Jawa bilang ‘ora obah ora mamah’. Akhirnya, saya memilih bergerak dan ketemunya dengan batu dan kayu," ujarnya.
Dari situ, pria asal Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, ini mulai merintis Kiai Rampak. Usaha kerajinan yang mengolah material alam seperti marmer, onyx, batu kali, fosil kayu, hingga kayu jati tersebut kini telah berjalan selama 6 tahun.
"Awalnya sederhana, saya hanya membuat produk seperti gelas dan tempat sabun. Tapi dari situ saya melihat ada peluang besar dari bahan lokal yang kita punya," jelasnya.
Baca Juga: Guru Muda Tulungagung Ungkap Tantangan Mendidik Generasi Digital, Pendidikan Karakter Jadi Kunci
Perjalanan Kiai Rampak tidak sekadar tentang membuat produk kerajinan, tetapi juga membawa misi mengenalkan kekayaan alam Tulungagung. Setiap karya yang dihasilkan berusaha menghadirkan nilai lokal dengan sentuhan yang bisa diterima pasar luas.
"Kami ingin produk ini bukan hanya menjadi barang kerajinan, tapi juga membawa cerita bahwa ada potensi besar dari Tulungagung," ungkapnya.
Nama Kiai Rampak pun dipilih bukan tanpa alasan. Ada filosofi yang ingin ditanamkan dalam setiap produk yang dibuat. Kiai merupakan singkatan dari Kerajinan Asli Indonesia, sedangkan Rampak berarti sejajar.
"Maknanya, kerajinan Indonesia harus mampu berdiri sejajar dengan produk dari negara lain. Bukan hanya menjadi penonton di pasar global," katanya.
Material utama yang digunakan berasal dari Tulungagung, terutama marmer yang selama ini menjadi salah satu kekuatan daerah. Proses produksi dilakukan dengan seleksi bahan yang ketat agar kualitas tetap terjaga.
"Marmer Tulungagung punya karakter sendiri. Kami berusaha mengolahnya agar tidak hanya menjadi batu, tetapi punya nilai seni dan ekonomi," terang Abdillah.
Namun, membangun usaha berbasis kerajinan bukan perkara mudah. Persaingan dengan perajin lain serta tantangan pemasaran menjadi ujian tersendiri bagi Kiai Rampak.
"Yang paling berat bukan hanya membuat produk, tetapi bagaimana membuat orang percaya bahwa produk lokal juga bisa memiliki kualitas," tuturnya.
Alih-alih menyerah, Abdillah memilih bertahan dengan menjaga konsistensi kualitas dan terus melakukan inovasi. Perlahan, langkah tersebut mulai membuahkan hasil.
"Tahun 2022 menjadi momen penting karena kami mendapat pembeli pertama dari India. Dari sana, pasar mulai terbuka," kenangnya.
Kini, produk Kiai Rampak telah mulai menjangkau pasar luar negeri dan terus memperluas jaringan melalui berbagai pameran internasional.
"Saya merasa senang ketika karya berbahan marmer Tulungagung bisa sampai ke luar negeri. Itu bukan hanya soal penjualan, tapi kebanggaan daerah," ujarnya.
Bagi Abdillah, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa potensi lokal mampu bersaing apabila dikelola dengan kreativitas dan ketekunan.
"Harapannya sederhana, ketika orang melihat produk itu, mereka tahu ini dari Tulungagung, ini dari Indonesia," tuturnya.
Melalui Kiai Rampak, Abdillah ingin mengajak generasi muda untuk lebih percaya diri mengembangkan potensi daerah. Menurutnya, kekayaan lokal tidak boleh hanya menjadi cerita, tetapi harus diubah menjadi karya nyata.
"Jangan takut memulai dari hal kecil. Kadang sesuatu yang sederhana dari daerah bisa membawa nama kita jauh lebih besar," pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri