RADAR TULUNGAGUNG - Bukan perkara gampang membaca aksara Jawa Kuno. Namun, hal tersebut bukan jadi penghalang bagi Sugeng Riadi untuk aktif mengenalkannya ke khalayak luas. Semua merupakan wujud kecintaannya pada budaya Jawa.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, bulan Sura bukan hanya penanda pergantian tahun dalam penanggalan Jawa.
Bulan yang dikenal penuh perenungan tersebut menjadi waktu untuk kembali menata diri, memperbanyak doa, dan menjaga hubungan dengan nilai-nilai leluhur yang diwariskan turun-temurun.
Makna itu pula yang dirasakan Sugeng Riadi, pegiat budaya asal Kecamatan Ngunut, Tulungagung. Ketertarikannya terhadap budaya Jawa tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi tumbuh sejak kecil dari lingkungan keluarga yang dekat dengan kesenian tradisional.
"Saat kecil, bapak saya mendirikan grup jaranan, sehingga saya ikut mengenal dunia kesenian. Dari situ, rasa tertarik terhadap budaya mulai tumbuh," ujar Sugeng.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya mendalami aksara Jawa kuno sejak 2017. Baginya, aksara kuno bukan sekadar kumpulan simbol masa lalu yang sulit dibaca, melainkan sebuah proses untuk memahami cara berpikir leluhur sekaligus melatih karakter diri.
Menurut Sugeng, setiap guratan aksara membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Kebiasaan membaca maupun menulis aksara lama secara perlahan membentuk cara pandang yang lebih hati-hati dalam kehidupan sehari-hari.
"Setelah belajar aksara, saya merasa lebih sabar dan teliti. Kita juga tidak mudah percaya pada cerita yang belum ada buktinya karena belajar sejarah membuat kita terbiasa mencari dasar," jelasnya.
Baca Juga: Guru Muda Tulungagung Ungkap Tantangan Mendidik Generasi Digital, Pendidikan Karakter Jadi Kunci
Bagi Sugeng, aksara merupakan bagian dari identitas bangsa. Keberadaannya tidak boleh hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi harus terus dikenalkan dengan cara yang sesuai perkembangan zaman.
"Budaya itu jati diri bangsa. Pelestariannya harus kreatif agar generasi muda tertarik mengenalnya," tuturnya.
Kecintaannya terhadap budaya juga membuat Sugeng memandang ritual bulan Sura dengan sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, tradisi doa keselamatan di awal tahun merupakan bentuk harapan manusia untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.
"Bulan Sura adalah tahun baru Jawa. Banyak masyarakat mengisinya dengan doa keselamatan untuk perjalanan satu tahun ke depan," katanya.
Sugeng menyebut tradisi semacam itu sebenarnya tidak hanya ada dalam masyarakat Jawa. Berbagai budaya di dunia juga memiliki cara masing-masing dalam menyambut pergantian tahun dengan doa dan harapan.
"Setiap bangsa memiliki tradisi menyambut tahun baru. Bentuknya berbeda, tetapi intinya sama, yakni memohon kebaikan," imbuhnya.
Di tengah berkembangnya berbagai pandangan mengenai bulan Sura yang kerap dikaitkan dengan hal mistis, Sugeng memilih melihatnya dari sisi nilai dan kebijaksanaan. Karena, ritual yang dilakukan masyarakat merupakan bentuk ikhtiar batin untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
"Stigma seperti itu memang ada dan menjadi bagian dari pemahaman masyarakat. Namun yang terpenting adalah bagaimana tradisi tersebut menjadi doa dan pengingat agar manusia tetap menjaga diri," pungkasnya.
Bagi Sugeng, menjaga budaya bukan berarti terjebak pada masa lalu. Justru dari jejak leluhur itulah masyarakat bisa belajar tentang kesabaran, ketelitian, serta cara menghargai kehidupan. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri