RADAR TULUNGAGUNG - Kerja sosial memang tidak terlalu memikirkan pendapatan. Hal tersebut pun dilakoni Siti Maisaroh yang selama 36 tahun menjadi bagian Rumah Duka Rukun Sejati Tulungagung.
Banyak hal yang dipelajarinya saat melayani masyarakat yang berduka cita.
Ada banyak pekerjaan yang menuntut kesiapan sepanjang waktu seperti yang dijalani Siti Maisaroh. Selama 36 tahun, perempuan asal Kelurahan Kenayan, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, ini menjadi bagian dari Rumah Duka Rukun Sejati, sebuah tempat yang mengajarkannya arti pelayanan, ketulusan, dan menghargai keberagaman.
Perjalanan panjang itu dimulai sejak 1990. Sejak pertama kali bergabung, Siti sudah memahami bahwa pekerjaannya bukan sekadar menjalankan rutinitas, melainkan harus selalu siap ketika masyarakat membutuhkan.
"Di sini harus standby 24 jam. Tidak bisa bepergian seenaknya karena sewaktu-waktu ada pengguna jasa yang datang," ujar Siti.
Bagi Siti, bekerja di rumah duka memiliki tantangan tersendiri. Ketika jumlah pengguna jasa meningkat, seluruh pengurus dan karyawan harus bergerak cepat mempersiapkan berbagai kebutuhan agar pelayanan tetap berjalan maksimal.
"Harus mempersiapkan banyak hal karena kebutuhan masyarakat berbeda-beda. Permintaannya juga beragam, termasuk hal kecil seperti penggunaan karpet," ungkapnya.
Meski berhadapan dengan suasana kehilangan dan kesedihan, Siti justru merasa banyak mendapatkan pengalaman berharga. Dia menyebut pekerjaannya lebih banyak memberikan cerita baik dibanding duka.
"Yang saya rasakan lebih banyak sukanya. Bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan keyakinan," katanya.
Selama puluhan tahun melayani, Siti memahami bahwa setiap keluarga memiliki kebutuhan dan cara berbeda dalam menghadapi masa berduka. Karena itu, pelayanan harus dilakukan dengan penuh empati.
"Kerja di sini harus dengan hati, karena ini kerja sosial. Kami berusaha memberikan pelayanan semaksimal mungkin bersama semua pengurus dan karyawan," tutur Siti.
Disinggung ada tidaknya pengalaman mistis yang dialami, wanita ramah ini mengaku tidak pernah. Dengan begitu, dia tetap bekerja dan mengabdi seperti biasa.
"Saya sendiri tidak pernah. Tapi kepekaan setiap orang memang berbeda-beda," tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri