RADAR TULUNGAGUNG - Bagi Ayu Kartika Putri, menulis bukan sekadar merangkai kata. Perempuan muda asal Desa Bendiljati Wetan, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, ini menjadikan platform blogspot pribadi miliknya sebagai medium katarsis utama dan ruang aman untuk menyuarakan isu gender secara bebas.
Kegelisahan terhadap ketimpangan di lingkungan sekitar menjadi pemantik utama baginya untuk mengaktifkan ruang digital pribadi tersebut sejak masa sekolah, guna menampung keresahan yang tak berwadah.
"Pemantik awal saya menulis itu berangkat dari rasa kegelisahan di setiap isu yang ada di lingkungan sekitar, bahkan di dalam dinamika kehidupan saya sendiri," ujar Ayu.
Bagi Ayu, konsistensi merawat blog tidak diukur dari ketatnya algoritma digital atau tuntutan industri, melainkan dari ketajaman merespons fenomena sosial.
Melalui laman pribadinya tersebut, ia aktif mengupas isu krusial seputar perempuan dan agama, di samping beberapa kali mengirimkan gagasannya ke web eksternal.
"Konsistensi itu bukan perihal di-up berapa minggu sekali. Setiap ada isu tentang perempuan, saya lebih suka menuangkannya dalam bentuk ulasan kritis dan biasanya saya unggah di second account Instagram," imbuhnya.
Di balik ketajaman catatan-catatan di blog pribadinya, ada dorongan personal yang kuat. Ayu mengaku secara terbuka bahwa ambisinya membela kaum sesamanya lewat tulisan lahir dari pengalaman masa kecilnya yang kelam.
"Saya sangat berambisi mengajak teman-teman terkhusus perempuan, karena saya sendiri sejak kecil sering menjadi korban pelecehan. Maka dari itu, saya sangat menyayangkan sekali jika teman saya sendiri terkena hal yang sama, bahkan sampai malu untuk cerita," ungkap Ayu.
Melalui lembar-lembar digital di blognya, ia bertekad meruntuhkan stigma agar para korban tidak lagi merasa terisolasi dalam trauma, melainkan berani bersuara dan saling merangkul.
Bagi dara asal Sumbergempol ini, dunia literasi mandiri yang ia tekuni memiliki fungsi ganda untuk pemulihan diri sekaligus ruang bertumbuh secara intelektual.
"Aktivitas menulis ini mencakup dua hal bagi saya. Di satu sisi sebagai tempat pelepasan emosi, dan di sisi lain bertindak untuk batu loncatan serta wadah belajar saya," pungkasnya. (bac/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri