RADAR TULUNGAGUNG - Meskipun bekerja sebagai karyawan bank, Aditya Seta Bagaskara tetap berupaya menjadi penjaga eksistensi wayang. Dia pun tetap menjaga pakem pedalangan di tengah dinamika zaman.
Kemeja rapi, meja kerja, angka, dan laporan keuangan adalah keseharian Aditya Seta Bagaskara. Setiap pagi, pria 30 tahun asal Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung, ini menjalani rutinitasnya sebagai pekerja di dunia perbankan.
Namun ketika malam tiba, suasana berubah. Di hadapan kelir putih dan deretan tokoh wayang yang tersusun rapi, Adit bukan lagi seorang banker muda.
Dia menjelma menjadi penghidup cerita-cerita lama yang diwariskan turun-temurun.
Tangannya perlahan menggerakkan tokoh-tokoh pewayangan. Suaranya berganti mengikuti karakter dalam cerita. Sementara alunan gamelan menjadi pengiring perjalanan kisah yang ia bangun dari balik layar.
Bagi sebagian anak muda, wayang kulit mungkin dianggap sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan modern. Namun bagi Adit, justru di sanalah ia menemukan ruang untuk berkarya.
Kecintaannya terhadap wayang tumbuh sejak kecil. Bukan karena berasal dari keluarga seniman.
Tidak ada darah dalang maupun pengrawit dalam keluarganya. Namun, sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, dia sudah tertarik dengan dunia pewayangan.
Setiap pertunjukan yang pernah ia saksikan meninggalkan kesan mendalam. Dari sekadar menonton, rasa penasaran itu berkembang menjadi keinginan untuk memahami lebih jauh.
“Mungkin memang sudah suka sejak kecil. Lama-lama jadi seperti panggilan hati,” ujar Adit.
Ketika ketertarikannya semakin besar, dia memilih jalan yang tidak biasa. Adit tidak menempuh pendidikan formal pedalangan. Dia belajar secara mandiri, mengandalkan rasa ingin tahu dan ketekunan.
Berbagai rekaman pertunjukan dikumpulkannya. Dia menyimak suara para dalang, memperhatikan teknik memainkan wayang, memahami alur cerita, hingga mencoba sendiri setiap karakter yang ada.
Proses itu tidak selalu mudah. Tidak ada ruang kelas khusus yang menjadi tempat belajarnya setiap hari. Tidak ada guru yang selalu mendampingi setiap latihan. Hanya ada tekad untuk terus mencoba.
“Belajarnya dari rekaman, kaset, video, kemudian berdiskusi dengan teman-teman yang lebih dulu berkecimpung di seni. Setelah itu praktik sendiri,” kenangnya.
Bagi Adit, wayang bukan sekadar pertunjukan. Di balik layar kulit yang dimainkan, terdapat banyak unsur kehidupan yang menyatu. Ada sastra, musik, seni peran, filsafat, hingga pesan moral.
Karena itu, dia merasa wayang tidak pernah benar-benar tua. Yang berubah hanyalah cara manusia menikmati dan menyampaikannya.
Pandangan itulah yang membuatnya mencoba melakukan inovasi dalam setiap pementasan. Dia tetap mempertahankan pakem dan nilai utama dalam cerita pewayangan.
Namun di beberapa bagian, dia menyesuaikan bahasa dan gaya penyampaian agar lebih mudah diterima penonton masa kini.
Fenomena sosial, persoalan kehidupan sehari-hari, hingga cerita yang dekat dengan masyarakat kerap ia sisipkan melalui dialog tokoh maupun guyonan.
“Wayangnya tetap harus punya dasar. Pakem tetap dijaga. Tetapi cara menyampaikan bisa mengikuti zaman,” jelasnya.
Menurutnya, generasi muda sebenarnya masih memiliki ketertarikan terhadap budaya tradisional. Hanya saja, perlu ada pendekatan yang lebih dekat dengan dunia mereka.
Sebab, tantangan terbesar bukan hanya menjaga kesenian tetap ada, melainkan membuat generasi berikutnya merasa memiliki.
Di tengah kesibukannya sebagai pekerja perbankan, Adit tetap menyempatkan waktu untuk berlatih dan tampil.
Baginya, dua dunia yang ia jalani bukan sesuatu yang bertentangan. Justru keduanya mengajarkan hal yang sama yaitu ketelitian, tanggung jawab, dan konsistensi. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri