RADAR TULUNGAGUNG – Kisah inspiratif datang dari dunia peternakan. Seorang peternak asal Desa Sebalor, Kecamatan Bandung, Tulungagung, berhasil bangkit dari keterpurukan setelah mengalami kerugian puluhan juta rupiah akibat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).
Harapan baru itu ia temukan melalui usaha kambing kontes Tulungagung yang kini mulai berkembang pesat.
Adalah Taufiqur Rohman, peternak yang sempat kehilangan sekitar Rp 80 juta akibat ternak sapi miliknya terdampak PMK.
Namun, alih-alih menyerah, ia memilih mencari peluang baru dengan menekuni Kambing Kontes Tulungagung, sebuah sektor peternakan yang belakangan semakin diminati karena memiliki nilai ekonomi tinggi.
Kini, kandang milik Taufiq di Desa Sebalor dipenuhi deretan Kambing Kontes Tulungagung berpostur gagah dengan perawatan khusus. Jumlah ternaknya pun terus bertambah hanya dalam waktu kurang dari satu tahun.
Di balik kesuksesan tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang tidak mudah. Beberapa tahun lalu, usaha ternak sapi yang menjadi sumber penghasilan utama keluarganya terpukul akibat serangan PMK. Kerugian yang dialami mencapai sekitar Rp 80 juta.
Bagi sebagian orang, kerugian sebesar itu bisa menjadi akhir dari sebuah usaha. Namun tidak bagi Taufiq.
Di tengah kondisi sulit, ia memilih mencari peluang baru yang bisa memberinya kesempatan bangkit kembali. Titik balik itu datang saat dirinya bertemu seorang peternak kambing kontes di Kecamatan Gondang.
Dari obrolan sederhana tersebut, ia mengetahui kisah seorang peternak yang memulai usaha hanya dengan dua ekor kambing hingga berkembang menjadi puluhan ekor dan berhasil meraih berbagai prestasi di ajang kontes.
"Awalnya saya mengalami kerugian sekitar Rp 80 juta karena ternak sapi terdampak PMK. Kemudian saya bertemu seorang teman di Gondang yang awalnya hanya memiliki dua ekor kambing, tetapi berhasil berkembang menjadi sekitar 60 ekor dan sering menjadi juara di berbagai kontes," kenangnya.
Cerita itu membuat Taufiq tertarik mencoba peruntungan di dunia kambing kontes. Pada November 2025, ia memberanikan diri membeli dua ekor kambing sebagai langkah awal.
Meski banyak yang menilai usaha tersebut berisiko, Taufiq memilih fokus belajar. Ia aktif mengunjungi peternak lain, berdiskusi, hingga mengikuti komunitas peternak untuk memahami teknik pemeliharaan kambing kontes.
Usahanya mulai membuahkan hasil. Dari dua ekor kambing yang dimiliki saat memulai usaha, kini jumlah ternaknya telah berkembang menjadi 15 ekor.
"Berawal dari rasa penasaran itu saya memberanikan diri mencoba. Waktu itu saya juga hanya memiliki dua ekor kambing. Alhamdulillah sekarang sudah berkembang menjadi 15 ekor," ujarnya.
Menurut Taufiq, keberhasilan dalam beternak tidak selalu ditentukan oleh besarnya modal. Ketelatenan, kemauan belajar, dan konsistensi menjadi faktor yang jauh lebih penting.
Ia mengaku hingga saat ini masih terus mempelajari berbagai aspek dalam dunia kambing kontes yang memiliki standar pemeliharaan berbeda dibanding ternak biasa.
"Prinsip saya sederhana, telaten dulu. Urusan menambah ternak bisa belakangan. Yang penting mencari ilmu, memulai dari sekarang, fokus, konsisten, dan jangan mudah menyerah," katanya.
Baginya, kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Justru pengalaman pahit akibat PMK menjadi pelajaran berharga untuk menemukan jalan baru yang lebih menjanjikan.
"Kalau gagal ya ulangi lagi. Kita tidak pernah tahu pada percobaan ke berapa akan berhasil. Yang penting sudah berani mencoba," tambahnya.
Sementara itu, pegiat kambing kontes Tulungagung, Chalvin, menjelaskan bahwa penilaian dalam kontes kambing tidak hanya melihat ukuran tubuh. Ada banyak aspek yang menjadi perhatian juri.
"Secara umum ada 12 kriteria utama yang menjadi penilaian dalam kontes. Selain penampilan fisik, kesehatan dan kebugaran ternak juga menjadi faktor penting," jelasnya.
Beberapa kriteria tersebut meliputi bentuk kepala, panjang telinga, proporsi badan, kualitas tanduk, warna tubuh, hingga kondisi kesehatan kambing.
Karena itu, perawatan kambing kontes dilakukan secara khusus mulai dari pemberian pakan berkualitas, suplemen, perawatan bulu, hingga menjaga kebersihan kandang.
Kini, kandang yang dahulu menjadi saksi kerugian akibat PMK berubah menjadi simbol kebangkitan. Dari dua ekor kambing yang dibeli karena rasa penasaran, Taufiq berhasil membangun optimisme baru bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk menemukan peluang yang lebih besar.(bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri