TULUNGAGUNG - Prestasi hebat membutuhkan pengorbanan yang tak sedikit. Hal ini yang dibuktikan Gianandini Satya Waskita yang merebut medali perunggu kejurnas karate Indonesia Open 2026.
Medali perunggu yang dibawa pulang Gianandini Satya Waskita dari Kejuaraan Nasional Indonesia Open 2026 bukan sekadar simbol kemenangan.
Di balik pencapaian atlet muda Kyokushin Karate asal Tulungagung itu, tersimpan perjalanan panjang yang dipenuhi latihan rutin, pengorbanan waktu, hingga proses bangkit dari kekalahan.
Bertanding di nomor Kumite U-17 kelas 60 kilogram, Gianandini mampu melangkah hingga babak semifinal sebelum akhirnya mengakui keunggulan lawannya asal Salatiga, Jawa Tengah.
Hasil tersebut mengantarkannya berdiri di podium ketiga sekaligus mengharumkan nama Tulungagung di ajang nasional.
Baca Juga: Bermodal HP, Kreator Asal Tulungagung Ini Tembus 6 Juta Views lewat Konten Keseharian
“Ini kakaknya, Gianandini Satya Waskita, juara tiga Kumite U-17 kelas 60 kilogram,” ujar Gautama Sastra Waskita, ayah sekaligus pembinanya, dengan nada bangga.
Namun, bagi keluarga, prestasi itu bukanlah tujuan akhir. Medali hanyalah buah dari proses yang telah ditempuh sejak Gianandini mengenal dojo pada usia dini.
Setiap pekan, Gianandini menjalani latihan rutin dua kali. Menjelang kejuaraan, intensitas latihan meningkat. Sepulang sekolah, waktunya terbagi antara mengerjakan tugas, berlatih fisik, mengulang teknik dasar (kihon), hingga mempersiapkan mental agar siap menghadapi tekanan pertandingan.
“Perjalanan mereka tidak instan. Semua berawal dari latihan rutin di dojo sejak usia dini. Setiap kejuaraan menjadi proses belajar untuk terus berkembang,” tutur Gautama.
Di balik rutinitas itu, Gianandini juga harus belajar menjalani kehidupan layaknya remaja seusianya. Menyeimbangkan sekolah, latihan, dan waktu bersama keluarga menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi rasa lelah, gugup sebelum bertanding, hingga kekecewaan ketika hasil tidak sesuai harapan.
Justru fase-fase itulah yang membentuk karakter putranya.“Dalam perjalanan tentu pernah mengalami kekalahan, cedera ringan, bahkan rasa gugup sebelum bertanding.
Tapi kami selalu mengajarkan bahwa setiap kekalahan adalah bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti,” katanya.
Prinsip itu pula yang menjadi ruh pembinaan di dojo Kyokushin. Bagi mereka, atlet hebat bukan hanya soal jumlah medali, melainkan pribadi yang disiplin, rendah hati, menghormati lawan, dan mampu mengendalikan diri dalam setiap keadaan.
Karena itu, latihan tidak hanya berisi pukulan, tendangan, atau strategi bertanding. Pembentukan karakter mendapat porsi yang sama besarnya dengan peningkatan kemampuan teknik.
“Pola latihan kami tidak hanya berfokus pada kemampuan bertanding. Anak-anak juga dibina soal disiplin, sportivitas, rasa hormat, dan mental yang kuat. Atlet yang baik bukan hanya yang meraih medali, tetapi juga memiliki etika,” jelas Gautama.
Prestasi Gianandini menjadi bukti bahwa pembinaan jangka panjang masih mampu melahirkan atlet berprestasi dari daerah.
Di tengah keterbatasan, konsistensi latihan dan dukungan keluarga menjadi modal utama untuk bersaing di level nasional.
Bagi Gianandini, podium Kejurnas bukanlah garis akhir. Medali perunggu itu justru menjadi pijakan untuk terus berlatih dan mengejar target yang lebih tinggi pada kejuaraan-kejuaraan berikutnya.
“Alhamdulillah, pencapaian ini tidak lepas dari dukungan keluarga, bimbingan para Shihan, Sensei, dan Senpai di dojo, serta pembinaan Pengda Jawa Timur. Prestasi ini adalah hasil kerja keras dan kolaborasi banyak pihak,” pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri