TULUNGAGUNG – Muhammad Faizul Muttaqin membangun usaha budi daya ikan gurame dari nol dengan modal yang dikumpulkan dari hasil bekerja sebagai kuli bangunan dan berjualan sate tahu serta usus.
Berbekal hasil jerih payah tersebut, pemuda asal Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, itu mulai merintis usaha budi daya benih dan ikan gurame konsumsi hingga berkembang seperti sekarang.
Perjalanan Muhammad Faizul Muttaqin membangun usaha budi daya ikan gurame dari nol tidak diawali dengan modal besar.
Selain menyisihkan penghasilan dari pekerjaan sebagai kuli bangunan, dia juga memanfaatkan waktu luang dengan berjualan sate tahu dan usus untuk mengumpulkan biaya memulai usaha.
Kesempatan Muhammad Faizul Muttaqin membangun usaha budi daya ikan gurame dari nol semakin terbuka ketika mendapat izin memanfaatkan kolam milik Pondok Pesantren Al Khoiriyah, Wates, sebagai tempat belajar membudidayakan benih gurame dan lele.
Pengalaman tersebut menjadi bekal awal sebelum usahanya berkembang.
Modal Dikumpulkan dari Berbagai Pekerjaan
Menjadi pembudi daya ikan gurame bukan cita-cita awal Faizul.
Sebelum menekuni usaha perikanan, dia menjalani berbagai pekerjaan untuk mengumpulkan modal agar dapat memulai usaha sendiri.
Selain bekerja sebagai kuli bangunan, Faizul juga berjualan sate tahu dan usus di kantin sekolah tempatnya menempuh pendidikan.
Seluruh hasil yang diperoleh dari kedua pekerjaan tersebut dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk membiayai usaha budi daya ikan.
Ketertarikannya terhadap dunia perikanan muncul ketika masih belajar di Pondok Pesantren Al Khoiriyah, Wates.
Saat itu, ia melihat seorang teman sekaligus tetangganya berhasil mengembangkan usaha budi daya ikan sehingga memunculkan keinginan untuk mengikuti jejak tersebut.
"Awalnya saya termotivasi melihat teman sekaligus tetangga yang lebih dulu menekuni budi daya ikan. Dari situ, saya mulai tertarik belajar dan mencoba sendiri," ujarnya.
Kesempatan belajar datang dari pengasuh Pondok Pesantren Al Khoiriyah, KH Hamid Al Muhdlor.
Faizul dipersilakan memanfaatkan beberapa kolam milik pondok sebagai tempat belajar membudidayakan benih gurame dan lele.
Baca Juga: Bermodal HP, Kreator Asal Tulungagung Ini Tembus 6 Juta Views lewat Konten Keseharian
Pernah Gagal, Tetap Bangkit Merintis Usaha
Perjalanan merintis usaha tidak selalu berjalan mulus.
Saat masih mempelajari teknik budi daya ikan, Faizul sempat mengalami kerugian besar akibat belum memahami cara menjaga kualitas air kolam.
Ia mengenang pernah menebar sekitar 50 ribu benih gurame saat musim bediding.
Namun seluruh benih tersebut mati karena kualitas air belum dikelola dengan baik.
"Yang paling saya ingat saat musim bediding. Waktu itu, saya menebar sekitar 50 ribu benih gurame, tetapi semuanya mati karena saya masih belum paham cara mengelola kualitas air. Rasanya benar-benar terpukul," kenangnya.
Meski mengalami kegagalan, Faizul tidak menghentikan usahanya.
Ia kembali memulai budi daya setelah mendapat bantuan dari seorang teman yang meminjamkan benih ikan untuk dibesarkan.
Hasil panen kemudian digunakan untuk mengembalikan pinjaman sekaligus menjadi tambahan modal agar usahanya terus berkembang.
Kini Layani Pengiriman ke Berbagai Daerah
Usaha yang dirintis dari modal hasil bekerja kini telah berkembang.
Faizul mampu melayani pengiriman benih maupun ikan gurame konsumsi ke berbagai daerah, baik di dalam maupun luar kota.
Pemasaran dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari jaringan pertemanan, wali murid, masyarakat sekitar, hingga memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan TikTok.
Menurut Faizul, perkembangan usahanya tidak hanya bergantung pada banyaknya penjualan.
Ia lebih mengutamakan kualitas benih yang diterima pelanggan sebagai bentuk tanggung jawab kepada pembeli.
"Saya selalu memastikan benih yang dikirim dalam kondisi sehat, jumlahnya sesuai pesanan, bahkan setelah dikirim saya tetap menanyakan kondisinya kepada pelanggan. Itu bentuk tanggung jawab kami kepada pembeli," katanya.
Baginya, menjaga kepercayaan pelanggan merupakan modal penting agar usaha dapat bertahan dalam jangka panjang.
Karena itu, ia memilih mengutamakan kualitas dibanding mengejar keuntungan sesaat.
Di akhir perbincangan, Faizul mengajak generasi muda untuk tidak takut memulai usaha meski harus menghadapi berbagai kegagalan.
"Gagal itu pasti, tapi menyerah bukanlah solusi. Apa pun usahanya pasti ada risiko. Yang penting tetap optimistis, terus berkarya, dan yakin bahwa usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa hasil baik untuk masa depan," pungkasnya.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri