RADAR TULUNGAGUNG - Tepuk tangan memenuhi ruangan ketika namanya dipanggil sebagai Runner Up 1 Miss Hijab Jawa Timur 2026. Mahkota dikenakan, selempang disematkan, senyum mengembang di wajah Eva Amalia.
Namun, di balik kemeriahan itu, cewek asal Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, itu justru memikirkan bagaimana gelar yang baru diraihnya bisa membawa manfaat bagi orang lain.
"Bagi saya, ajang kecantikan bukan sekadar panggung untuk mencari popularitas. Tetap sebagai ruang untuk memperluas pengabdian kepada masyarakat," tuturnya.
Eva, sapaan akrabnya, mengaku keinginannya mengikuti Miss Hijab Jawa Timur berawal dari informasi yang ia temukan di media sosial. Pengalaman mengikuti sejumlah ajang serupa membuatnya tidak asing dengan dunia pageant.
Namun, motivasinya berbeda. Ia ingin memiliki ruang yang lebih luas untuk menyuarakan isu pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
"Saya memang senang berinteraksi langsung dengan masyarakat, menjadi narasumber, berbagi pengetahuan, dan melakukan kegiatan yang memberikan dampak positif," tuturnya.
Perjalanan menuju panggung final pun tidak mudah. Di tengah padatnya rangkaian seleksi, Eva tetap harus menjalankan perannya sebagai mahasiswa sekaligus aktif di lebih dari dua organisasi.
Jadwal rapat, kegiatan kampus, hingga persiapan kompetisi kerap saling bertabrakan. Alih-alih menyerah, ia memilih belajar mengatur waktu. Menentukan prioritas menjadi kunci agar seluruh tanggung jawab dapat berjalan beriringan.
"Tantangan terbesar memang membagi waktu. Tetapi saya belajar menentukan skala prioritas sehingga semua kegiatan bisa dijalani dengan baik," katanya.
Justru dari proses itulah Eva memperoleh pengalaman yang paling berharga. Ia bertemu perempuan-perempuan muslimah dari berbagai daerah di Jawa Timur dengan latar belakang yang berbeda.
Ada yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, kewirausahaan hingga pemberdayaan masyarakat.
Pertemuan tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa perempuan berhijab memiliki potensi besar menjadi pemimpin sekaligus agen perubahan.
"Mereka luar biasa. Saya semakin yakin perempuan muslimah mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat," ujarnya.
Karena itu, mahkota yang kini dikenakannya tak pernah ia anggap sebagai simbol kemenangan. Baginya, mahkota hanyalah pengingat bahwa setiap prestasi membawa tanggung jawab yang lebih besar.
Pemikiran itu kemudian diwujudkan melalui program Satgas Literasi, sebuah gerakan yang ingin ia kembangkan untuk meningkatkan budaya membaca dan belajar di tengah masyarakat.
Program tersebut menyasar anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Eva percaya, perubahan sosial selalu diawali dari pengetahuan. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami persoalan dan menemukan solusi.
"Saya berharap Satgas Literasi bisa meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus mendorong lahirnya generasi yang lebih peduli terhadap pendidikan dan kesehatan," tandasnya. (bac/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri