Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Dosen Tulungagung Mengajar Bahasa Jawa di Belanda, Banyak Warga Eropa Rela Belajar Demi Mengenal Budaya Jawa

Sandy Sri Yuwana • Rabu, 15 Juli 2026 | 10:22 WIB
Jadmiko (duduk tengah) bersama warga keturunan dan diaspora di Belanda yang tertarik belajar Bahasa Jawa.
Jadmiko (duduk tengah) bersama warga keturunan dan diaspora di Belanda yang tertarik belajar Bahasa Jawa.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Bahasa Jawa harus tetap hidup dan lestari. Misi inilah yang dipegang Rahmad Setyo Jadmiko saat mengajar Bahasa Jawa di Belanda. Ternyata banyak yang berminat untuk mempelajarinya.

Sugeng enjing…”

Sapaan itu meluncur dari bibir sejumlah warga Belanda di sebuah ruang belajar di Rotterdam. Logat mereka memang belum sempurna.

Beberapa masih terbata-bata mengucapkan huruf “ng” atau membedakan penggunaan kula dan aku. Namun, semangat mereka belajar bahasa Jawa begitu terasa.

Di depan kelas berdiri seorang pria asal Desa Purworejo, Kecamatan Ngunut, Tulungagung. Namanya Rahmad Setyo Jadmiko, 38.

Dosen Universitas Bhinneka PGRI (Ubhi) Tulungagung itu kini menjadi penghubung antara budaya Jawa dan masyarakat Negeri Kincir Angin.

Baca Juga: Nyai Muklina Sohib, Denanyar: Literasi Pesantren, Cara Santri agar Up to Date

Sejak pertengahan Juni 2026, Jadmiko, sapaan akrabnya, berada di Rotterdam untuk mengajar bahasa Jawa di sebuah yayasan budaya.

Bukan hanya mengajarkan kosakata, melainkan juga mengenalkan filosofi, tata krama, hingga nilai-nilai yang hidup di balik setiap ungkapan dalam bahasa Jawa.

Semua bermula ketika ia menjadi penyiar di sebuah radio komunitas yang didengar hingga mancanegara.

Dari sana, dia berkenalan dengan seorang diaspora Indonesia yang aktif di sebuah yayasan budaya di Belanda. Obrolan sederhana perlahan berubah menjadi kesempatan yang tak pernah ia bayangkan.

Awalnya saya diminta membantu mengajar secara daring. Setelah berjalan, akhirnya dipercaya datang langsung ke Belanda,” tuturnya kepada Radar Tulungagung melalui sambungan telepon.

Di kelasnya, peserta datang dari beragam latar belakang. Ada diaspora Indonesia yang ingin kembali mengenal bahasa leluhurnya. Ada keturunan Indonesia-Belanda yang ingin memahami akar keluarganya.

Baca Juga: Eva Amalia Asal Tulungagung Raih Runner Up 1 Miss Hijab Jawa Timur 2026, Siapkan Program Satgas Literasi untuk Masyarakat

Bahkan, tidak sedikit warga Belanda yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan Indonesia, tetapi tertarik mempelajari budaya Jawa karena alasan akademik maupun rasa ingin tahu.

Banyak yang penasaran dengan budaya Jawa. Mereka ingin belajar dari dasar, mulai nol,” katanya.

Suasana belajar pun jauh dari kesan kaku. Dengan menggunakan bahasa Inggris dan sesekali bahasa Belanda, Jadmiko mengajarkan percakapan sehari-hari, pelafalan, hingga makna kesopanan dalam budaya Jawa.

Bagi para peserta, belajar bahasa bukan sekadar menghafal kata, melainkan memahami cara pandang masyarakat Jawa terhadap kehidupan.

Pengalaman itu menghadirkan ironi yang terus terlintas di benak Jadmiko. Saat sebagian anak muda di Indonesia mulai meninggalkan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari, justru masyarakat Eropa rela menyisihkan waktu dan biaya untuk mempelajarinya.

Pemandangan itulah yang membuat saya semakin yakin bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas budaya yang harus dijaga,” tuturnya.

Baca Juga: Kisah Intan Dwi Asiani, Mahasiswi UIN SATU Tulungagung yang Sukses Merintis Usaha Make Up Artist dari Media Sosial

Selama berada di Rotterdam, Jadmiko juga terlibat dalam berbagai kegiatan seni dan budaya Indonesia. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada masyarakat internasional melalui jalur pendidikan dan kebudayaan.

“Sekalian mengenalkan budaya Indonesia di sana,” imbuhnya.

Baginya, perjalanan ke Belanda bukan sekadar kesempatan mengajar di luar negeri. Ada tanggung jawab yang lebih besar sebagai lulusan Pendidikan Bahasa Jawa untuk memastikan bahasa warisan leluhur tetap hidup, bahkan di tempat yang jauh dari tanah kelahirannya.

Ini menjadi tanggung jawab saya agar orang luar negeri bisa berbahasa Jawa dengan baik dan benar,” ujarnya.

Dari sebuah desa di Tulungagung hingga ruang kelas di Rotterdam, Jadmiko membuktikan bahwa bahasa Jawa tak mengenal batas geografis.

Selama masih ada yang mau belajar dan ada yang bersedia mengajarkan, bahasa yang lahir dari kampung-kampung di Pulau Jawa itu akan terus hidup, bahkan bergema hingga Negeri Kincir Angin. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
dosen tulungagung jadmiko bahasa jawa belanda