RADAR TULUNGAGUNG - Berada di negara empat musim membutuhkan daya adaptasi. Hal ini yang ditemui Rahmad Setyo Jadmiko saat berada di Belanda. Bahkan saking keringnya udara membuat bibirnya pecah-pecah.
Ketika pesawat yang ditumpanginya mendarat di Rotterdam, Rahmad Setyo Jadmiko tidak hanya membawa materi kuliah dan pengetahuan tentang bahasa Jawa.
Dosen Universitas Bhinneka PGRI (UBhi) Tulungagung itu juga membawa kesiapan untuk belajar menjadi "orang baru" di negeri yang sama sekali berbeda dengan kampung halamannya.
Tak butuh waktu lama baginya menyadari bahwa hidup di Belanda berarti belajar beradaptasi dari hal-hal paling sederhana. Bukan salju atau suhu dingin yang pertama kali membuatnya terkejut. Justru udara yang kering menjadi tantangan awal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Yang paling terasa justru kulit menjadi sangat kering. Bibir sampai mlethek-mlethek, kulit juga mudah kering. Itu yang pertama kali membuat saya harus beradaptasi," kenangnya.
Saat itu, Belanda memang sedang memasuki musim panas. Namun, panas di Eropa ternyata berbeda dengan panas yang selama ini dikenalnya di Indonesia.
Matahari memang bersinar terik, tetapi kelembapan udaranya jauh lebih rendah dibandingkan Pulau Jawa. Perbedaan itulah yang membuat tubuhnya harus beradaptasi dengan cepat.
Di luar persoalan cuaca, Jadmiko juga mulai mengenal ritme kehidupan masyarakat Belanda yang serba disiplin. Ketepatan waktu menjadi budaya yang benar-benar dijaga.
Transportasi berjalan sesuai jadwal, begitu pula aktivitas masyarakat yang nyaris tak pernah meleset dari waktu yang telah ditentukan.
Beruntung urusan perut tak menjadi persoalan besar. Di Rotterdam, dia masih bisa menemukan berbagai toko dan rumah makan Indonesia. Rasa rindu terhadap masakan kampung halaman pun sedikit terobati.
"Padahal kangen masakan khas Tulungagungan," ungkapnya lantas tertawa.
Namun, tantangan sesungguhnya justru menanti ketika ia memasuki ruang kelas. Sebagai pengajar Bahasa Jawa, dia tidak bisa langsung berbicara menggunakan bahasa yang hendak diajarkannya.
Baca Juga: Nyai Muklina Sohib, Denanyar: Literasi Pesantren, Cara Santri agar Up to Date
Para peserta berasal dari latar belakang yang beragam dan sebagian besar tidak memahami bahasa Indonesia.
Karena itu, hampir seluruh penjelasan harus disampaikan dalam bahasa Inggris. Pada beberapa istilah tertentu, dia juga menyelipkan bahasa Belanda agar peserta lebih mudah menangkap maksud yang disampaikan.
"Kalau langsung menggunakan bahasa Jawa tentu mereka bingung. Jadi, penjelasannya memakai bahasa Inggris, kadang diselingi bahasa Belanda," ujarnya.
Mengajarkan bahasa daerah kepada warga negara asing ternyata membutuhkan kesabaran ekstra.
Ayah dua putra ini harus memulai dari pengenalan bunyi huruf, cara melafalkan kata, hingga menjelaskan makna yang terkandung di balik setiap ungkapan.
Tak jarang peserta kesulitan mengucapkan bunyi-bunyi khas dalam bahasa Jawa yang tidak mereka temukan dalam bahasa ibu mereka.
Dia pun harus mengulang pelafalan berkali-kali, bahkan menghubungkannya dengan kebiasaan masyarakat Jawa agar lebih mudah dipahami.
Bagi Jadmiko, pelajaran yang ia bawa ke Rotterdam sejatinya bukan hanya soal bahasa. Dia sedang mengenalkan cara masyarakat Jawa menghormati orang lain, memahami tata krama, hingga filosofi hidup yang selama ini tumbuh dalam budaya Nusantara.
"Yang saya kenalkan bukan hanya bahasanya, tetapi juga budaya dan cara berpikir orang Jawa," tuturnya.
Semakin lama berada di Belanda, dia justru menemukan kenyataan yang membuatnya bangga. Budaya Jawa yang sering dianggap biasa di tanah kelahirannya ternyata memunculkan rasa ingin tahu yang besar di mata masyarakat Eropa.
Dari ruang kelas sederhana di Rotterdam, dia melihat bahasa mampu menjadi jembatan yang menghubungkan dua budaya yang dipisahkan ribuan kilometer. Perjalanan itu pun tak berhenti di ruang kuliah.
Di sela-sela aktivitas mengajar, Jadmiko juga mendapat kesempatan tampil dalam berbagai pertunjukan seni yang mempertemukan budaya Jawa dengan masyarakat internasional.
"Saya senang bisa menampilkan kekayaan budaya Jawa di Belanda," tandasnya.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri