RADAR TULUNGAGUNG - Pengalaman bisa jadi modal berharga membangun usaha. Hal ini dibuktikan Melinda Yunita Sari yang sampai memiliki empat usaha yang ditekuni bersama suami. Cuannya pun cukup menggiurkan.
Ada satu keyakinan yang selalu dipegang Melinda Yunita Sari, bahwa tidak semua mimpi harus dimulai dengan modal besar.
Terkadang, modal terbaik justru berasal dari pengalaman, kesabaran, dan keberanian menunggu waktu yang tepat.
Perempuan asal Desa Wajaklor, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, itu tidak langsung menjadi pengusaha setelah lulus kuliah.
Dia memilih berdiri di balik layar lebih dulu. Menjadi karyawan, mengamati, belajar, dan menyerap setiap pelajaran yang ditemuinya di tempat kerja.
Lima tahun lamanya Melinda bekerja di sebuah usaha persewaan kamera. Hari demi hari dilaluinya bukan sekadar untuk menerima gaji, melainkan mengumpulkan bekal.
Dia mempelajari bagaimana melayani pelanggan, mengelola peralatan, hingga membangun hubungan dengan banyak orang.
"Selama lima tahun itu saya mengumpulkan ilmu, pengalaman, dan relasi. Saya berpikir tidak mungkin selamanya ikut orang. Jadi ketika merasa sudah cukup bekal, saya memberanikan diri membuka usaha sendiri," tuturnya.
Semangat belajar itu bahkan sudah tumbuh sejak masih menjadi mahasiswa semester tujuh. Di sela menyelesaikan skripsi, Melinda aktif mengikuti organisasi kampus, membantu wedding organizer, hingga mengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar.
Semua pengalaman itu ia jalani tanpa pernah menyangka kelak akan menjadi fondasi usahanya sendiri.
Usaha pertama yang ia dirikan adalah bimbingan belajar. Dari sana, kepercayaan dirinya perlahan tumbuh. Sementara itu, sang suami telah lebih dulu menekuni usaha bengkel desain.
Setelah menikah sekitar setahun lalu, keduanya memutuskan menyatukan mimpi dan membangun bisnis bersama. Yakni, usaha persewaan peralatan yang kini menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga mereka.
Namun membangun beberapa usaha sekaligus bukan berarti hidup menjadi lebih mudah. Justru tantangan baru terus berdatangan. Setiap merek usaha harus dirawat, dipromosikan, dan dijaga kualitas pelayanannya.
"Tiap brand harus dirawat, termasuk media sosialnya. Karena promosi kami sebagian besar melalui media sosial," katanya.
Kesibukan Melinda semakin bertambah sejak kelahiran anak pertamanya pada Mei lalu. Kini, kesehariannya berubah.
Di satu sisi, dia harus menyusui dan merawat buah hati, di sisi lain telepon pelanggan tetap harus dijawab, administrasi usaha harus diselesaikan, dan berbagai kebutuhan bisnis tetap berjalan.
"Dulu sebelum punya anak masih lebih mudah. Setelah melahirkan, tantangan terbesar justru membagi waktu antara mengurus keluarga dan menjalankan usaha," ungkapnya sambil tersenyum.
Baca Juga: Nyai Muklina Sohib, Denanyar: Literasi Pesantren, Cara Santri agar Up to Date
Dari seluruh usaha yang mereka jalankan, persewaan kamera berkembang paling pesat. Kepercayaan pelanggan yang terus bertambah membuat usaha tersebut menjadi penyangga bagi bisnis-bisnis lain yang sedang dirintis.
Bagi Melinda, keberhasilan usaha persewaan bukan hanya ditentukan oleh kelengkapan peralatan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pelanggan merasa nyaman sejak pertama datang hingga selesai menggunakan jasa mereka.
"Kalau menurut saya, yang paling penting itu servis. Bagaimana kita melayani pelanggan sampai mereka merasa puas dan percaya untuk kembali menyewa," jelasnya.
Meski usaha terus berkembang, Melinda mengaku belum ingin berhenti bermimpi. Bersama suami, dia berharap dapat membuka cabang baru, memperluas bisnis, sekaligus menghadirkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
"Kami ingin usaha ini bukan hanya menjadi sumber rezeki untuk keluarga, tetapi juga bisa menjadi ladang rezeki bagi orang lain," tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri