Kisah Mamik Endarni Bangun Tulip House dari Mesin Jahit Manual, Kini Produknya Tembus Pasar Amerika Serikat

Sandy Sri Yuwana • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 11:19 WIB
Owner Tulip House Tulungagung Mamik Endarni berawal dari modal pinjaman koperasi dan mesin jahit manual, kini usahanya tersebut mampu menembus pasar internasional hingga Amerika Serikat.
Owner Tulip House Tulungagung Mamik Endarni berawal dari modal pinjaman koperasi dan mesin jahit manual, kini usahanya tersebut mampu menembus pasar internasional hingga Amerika Serikat.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Ketekunan membuahkan hasil menggembirakan. Hal ini yang dialami Mamik Endarni. Produk crafting-nya pun tembus ke pasar Amerika Serikat.

Di tangan Mamik Endarni, tumpukan kain dan bahan spunbond bukan sekadar bahan produksi. Dari benda-benda itu, perempuan 62 tahun asal Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, tersebut membangun harapan.

Harapan agar ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya bisa memiliki penghasilan sekaligus membantu perekonomian keluarga.

Perjalanan itu dimulai sekitar akhir 2015 hingga awal 2016. Saat itu, Mamik yang masih berprofesi sebagai guru SD kerap melihat para ibu yang mengantar anak ke sekolah hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol. Dari situlah muncul gagasan sederhana.

"Kalau ibu-ibu diberi pekerjaan, mungkin bisa menghasilkan sesuatu untuk membantu ekonomi keluarga,” kenang Mamik saat ditemui di pabriknya, Selasa (7/7/2026).

Baca Juga: Kisah Jaksa Devika Beliani di Tulungagung, Dari Daerah Perbatasan hingga Jadi Penggerak Program Super Jaksa

Awalnya, dia mendapat tawaran mengerjakan sebuah produk. Namun, Mamik belum memiliki penjahit maupun mesin jahit.

Suaminya kemudian membantu memotong bahan. Sementara proses menjahit diberikan kepada wali murid di sekolah tempatnya mengajar.

Usaha itu perlahan berkembang. Lima penjahit menjadi bagian awal perjalanan Tulip House.

Modalnya pun sangat terbatas. Mamik bahkan harus memanfaatkan pinjaman dari koperasi sekolah untuk membeli mesin jahit manual dengan pedal.

Mesin-mesin itu kemudian dipinjamkan kepada para penjahit. Pekerjaan dibawa ke rumah masing-masing. Mamik cukup memberikan pola dan catatan ukuran, kemudian melakukan pengecekan ketika pekerjaan telah selesai.

"Yang selalu kami jaga adalah kualitas. Jahitan harus rapi agar konsumen tetap percaya,” ujarnya.

Baca Juga: Pengakuan Mengejutkan dari Mahfud MD tentang Jokowi: Beliau Tak Pernah Tinggalkan Salat Meski Hadiri KTT ASEAN, Ini Kesaksiannya

Tantangan terbesar bukan hanya soal produksi. Arus keuangan menjadi persoalan tersendiri. Sebab, sebagian besar penjahit merupakan ibu rumah tangga yang membutuhkan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, pembayaran dari pelanggan tidak selalu diterima secara tunai.

Tak jarang, barang sudah selesai diproduksi tetapi pembayaran masih berjangka. Bahkan, ada pula pelanggan yang sudah memesan dan barang telah dibuat, namun tidak kunjung mengambilnya.

Kerugian juga bisa terjadi ketika bahan telah dipotong, tetapi ternyata tidak sesuai dengan keinginan pelanggan. Barang yang sudah jadi pun terpaksa dijual dengan harga balik modal.

Namun, tantangan itu tak membuat Mamik berhenti. Justru, salah satu momentum penting Tulip House datang ketika pandemi Covid-19 melanda.

Saat itu, Tulip House sudah telanjur membeli bahan baku. Pandemi membuat pesanan terhenti. Di tengah kebingungan, muncul ide memanfaatkan bahan tersebut untuk membuat alat pelindung diri (APD).

Baca Juga: Pecatur Muda Tulungagung Vania Fradella Mayra Shafa Raih Medali Emas Kejurprov Jatim, Target Berikutnya Kejurnas

Hasilnya, sekitar 10 ribu APD berhasil diproduksi dan didistribusikan ke sejumlah daerah serta rumah sakit. Untuk Kabupaten Tulungagung sendiri, sekitar 500 APD turut disalurkan. Sejak saat itu, nama Tulip House semakin dikenal.

Kini, usaha yang dirintis dari mesin jahit manual tersebut telah berkembang. Produk Tulip House bahkan menembus pasar internasional. Salah satu pesanan terbaru datang dari Amerika Serikat berupa kantong silika untuk kontainer.

Sebelumnya, produk mereka juga pernah dikirim ke sejumlah negara seperti Turki dan Jerman.

"Untuk ekspor memang tidak selalu rutin karena menyesuaikan PO. Karena itu, kami juga tetap mengerjakan pesanan lokal agar para penjahit tetap memiliki pekerjaan,” jelasnya.

Selain produk ekspor, Tulip House juga menerima berbagai pekerjaan maklon. Mulai pakaian, mukena, jaket, sprei, sarung bantal hingga berbagai produk lainnya.

Kini, sekitar 30–35 orang bekerja secara internal. Sementara penjahit eksternal yang mayoritas ibu rumah tangga mencapai sekitar 50 orang.

Baca Juga: Berawal dari Ditunjuk Ikut Porseni, Virly Chalysta Aprilia Kini Sabet Medali Perak Kejurprov Catur Jatim 2026

Mereka bekerja dari rumah dan mendapatkan pekerjaan sesuai kemampuan masing-masing.

Di balik perkembangan usaha tersebut, Mamik menyimpan cita-cita besar. Dia ingin para karyawan Tulip House bisa merasakan hasil dari perjalanan panjang usaha yang dibangun bersama.

“Insya Allah, kami ingin memberangkatkan empat karyawan untuk umrah,” tuturnya.

Mamik menyadari, perjalanan Tulip House hingga berada di titik ini tidak lepas dari peran anak-anaknya yang kini melanjutkan usaha tersebut.

Perusahaan yang dulu dirintisnya dengan keterbatasan kini tumbuh lebih cepat dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Dia berharap para penjahit yang selama ini bekerja secara mandiri juga bisa berkembang menjadi kelompok-kelompok usaha baru.

Dengan bahan dan pekerjaan dari Tulip House, mereka dapat mengerjakan pesanan dari rumah dan membangun kelompok kerja sendiri. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
tulip house mesin jahit spunbond kedungwaru crafting