Kisah Mega Tunjung Hapsari, Penari Asal Tulungagung yang Dua Kali Tampil di Istana Negara hingga Harumkan Indonesia di Malaysia

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 11:33 WIB
Mega mempelajari berbagai jenis tari, mulai dari balet, modern dance, hingga tari tradisional.
Mega mempelajari berbagai jenis tari, mulai dari balet, modern dance, hingga tari tradisional.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Bagi sebagian orang, menari mungkin hanya sekadar hobi. Namun, bagi Mega Tunjung Hapsari, seni tari telah menjadi jalan hidup yang membentuk karakter, membuka peluang, hingga mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional.

Seni tari bukanlah hal asing bagi Mega Tunjung Hapsari. Perempuan asal Desa Karangtalun, Kecamatan Kalidawir, Tulungagung, itu mengenal dunia tari sejak duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. 

Ketertarikan yang semula hanya berawal dari rasa senang bergerak mengikuti irama musik perlahan berkembang menjadi bakat yang terus diasah melalui latihan tanpa henti.

Mega mempelajari berbagai jenis tari, mulai dari balet, modern dance, hingga tari tradisional. Ketekunan itu membuahkan hasil.

Selama menempuh pendidikan dari SD hingga SMA, dia berkali-kali dipercaya mewakili Tulungagung pada ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni). Bahkan, dua kali ia memperoleh kesempatan tampil di Istana Negara.

Baca Juga: Kisah Mamik Endarni Bangun Tulip House dari Mesin Jahit Manual, Kini Produknya Tembus Pasar Amerika Serikat

“Saya belajar balet, modern dance, dan tari tradisional sejak kelas 3 SD. Ternyata menari adalah bakat dan minat saya. Sejak SD hingga SMA, saya dipercaya mewakili Tulungagung dalam ajang Porseni, bahkan dua kali mendapat kesempatan tampil di Istana Negara,” kenangnya.

Kemampuan yang terus berkembang membuat Mega mendapat kepercayaan menjadi asisten pelatih di Sun Flower Dance Company saat masih duduk di bangku kelas 6 SD.

Di usia yang masih sangat muda, dia sudah mulai mengajar anak-anak usia PAUD hingga SD, sekaligus menerima berbagai pekerjaan sebagai penari profesional.

Peran sebagai pelatih menjadi pengalaman berharga yang membentuk kedisiplinan dan tanggung jawabnya sejak kecil.

“Menjadi pelatih tidak mudah karena muridnya mulai dari anak PAUD hingga SD. Kuncinya harus telaten, disiplin, dan mau terus belajar. Dari mengajar dan menerima job menari, sejak SD, saya sudah bisa memperoleh penghasilan sendiri,” ujarnya.

Baca Juga: Kisah Jaksa Devika Beliani di Tulungagung, Dari Daerah Perbatasan hingga Jadi Penggerak Program Super Jaksa

Deretan prestasi pun terus menghiasi perjalanan Mega. dia pernah meraih Juara 1 Dance Developmental Basketball League (DBL) Jawa Timur.

Saat menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya, kreativitasnya di bidang koreografi juga mendapat pengakuan setelah dua kali dinobatkan sebagai Best Koreografer pada Gebyar Festival Tari Universitas Brawijaya.

Di balik sederet pencapaian itu, Mega meyakini tidak ada keberhasilan yang lahir secara instan.

Menurutnya, proses panjang, kerja sama tim, dan kemampuan mengatur waktu merupakan fondasi utama dalam meraih prestasi.

“Tidak ada proses instan dalam sebuah pencapaian. Kerja sama tim yang baik dan manajemen waktu adalah kunci keberhasilan. Nikmati setiap proses, terus belajar. Kalau gagal, ya mencoba lagi, introspeksi, lalu berkolaborasi untuk menemukan hal-hal baru yang lebih baik,” tuturnya.

Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam perjalanan kariernya terjadi saat mengikuti program pertukaran mahasiswa di Universiti Utara Malaysia.

Baca Juga: Pengakuan Mengejutkan dari Mahfud MD tentang Jokowi: Beliau Tak Pernah Tinggalkan Salat Meski Hadiri KTT ASEAN, Ini Kesaksiannya

Dalam forum internasional tersebut, Mega dipercaya membawakan tari tradisional hasil koreografinya sendiri sebagai representasi budaya Indonesia.

Kepercayaan itu menjadi kebanggaan tersendiri karena bukan hanya membawa nama kampus, melainkan juga memperkenalkan kekayaan seni budaya Indonesia kepada peserta dari berbagai negara.

“Saya dipercaya menampilkan karya tari saya sendiri. Kesempatan seperti ini tidak hanya membawa nama kampus, tetapi juga nama kesenian Indonesia di mata dunia. Karena itu, saya mempersiapkan semuanya sebaik mungkin. Alhamdulillah, penampilan tersebut mendapat apresiasi yang luar biasa dari peserta dari berbagai negara,” katanya.

Bagi Mega, kesempatan hanya akan berubah menjadi prestasi ketika dibarengi kesiapan yang matang.

“Keberuntungan sering kali dibentuk dari pertemuan antara kesempatan dan kesiapan. Momen seperti ini tidak datang dua kali sehingga saya berusaha memberikan yang terbaik,” tambahnya.

Kini, di tengah kesibukannya sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Tulungagung, Mega tetap menjaga kedekatannya dengan dunia tari.

Baca Juga: Pecatur Muda Tulungagung Vania Fradella Mayra Shafa Raih Medali Emas Kejurprov Jatim, Target Berikutnya Kejurnas

Aktivitas berlatih masih rutin dilakukan, bukan hanya untuk mempertahankan kemampuan, melainkan juga sebagai cara menjaga kebugaran di tengah aktivitas akademik.

Tahun ini, perempuan yang telah lama mengabdikan diri di dunia seni itu juga dipercaya menjadi master of ceremony (MC) nasional dalam Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PMB PTKIN) 2026.

Meski telah meraih berbagai pencapaian, Mega tetap memiliki harapan besar terhadap generasi muda Tulungagung.

Baginya, seni tari bukan sekadar pertunjukan, melainkan media untuk membentuk karakter, menanamkan disiplin, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri.

Dia berharap anak-anak muda tidak melupakan seni budaya daerah di tengah derasnya arus modernisasi.

Menurutnya, mempelajari tari tradisional harus berjalan seiring dengan keterbukaan terhadap tari modern maupun balet agar wawasan dan kemampuan olah tubuh semakin berkembang. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
istana negara porseni budaya seni tari