RADAR TULUNGAGUNG - Konsistensi Miftakhurrizza berlatih lari berbuah manis.
Raihan podium sebuah event bergengsi bisa dikatakan menjadi makanan sehari-harinya.
Padahal, butuh perjuangan keras untuk meraih prestasi itu.
Di balik rimbunnya hutan, tanjakan terjal, dan jalur berbatu, ada kepuasan yang tak selalu bisa diukur dengan medali.
Bagi Miftakhurrizza, setiap langkah di lintasan trail running adalah perjalanan menikmati proses, bukan sekadar perlombaan mengejar garis finis.
Cewek asal Desa Ngunut, Kecamatan Ngunut, Tulungagung, itu tengah menikmati hasil dari konsistensi latihannya.
Baca Juga: Borong Tiga Gelar Kejurcab FORBASI, Kontingen Asal Bandung Wakili Tulungagung ke Kejurprov
Dalam waktu berdekatan, dia berhasil naik podium pertama pada ajang Mantra 116 kategori 17 kilometer dan podium kedua Ring of Lawu (ROL) kategori 21 kilometer.
Dua capaian yang menjadi bukti perkembangan pelari muda yang baru menekuni trail running secara serius.
Namun, Miftakhurrizza mengaku perjalanan menuju prestasi tersebut masih terbilang singkat.
Dia baru mengenal trail running pada 2024 melalui komunitas Tulungagung Runners yang rutin menggelar kelas Sabtu dan fun trail di kawasan lereng Gunung Wilis melalui Jurang Senggani.
"Dari situ mulai mengenal trail running. Tapi benar-benar ingin menekuninya baru sekitar akhir 2025 sampai sekarang," ujarnya kepada Radar Tulungagung, Selasa (28/7).
Menurut dia, trail running menawarkan pengalaman berbeda dibanding road running.
Bukan hanya soal lintasan yang lebih menantang, melainkan juga suasana alam yang membuat latihan terasa lebih menyenangkan.
"Jalurnya lebih variatif. Pemandangan juga lebih segar sehingga tidak mudah bosan," katanya.
Meski kini mulai akrab dengan podium, Miftakhurrizza mengaku tidak pernah menjadikan kemenangan sebagai beban.
Baginya, hasil perlombaan hanyalah cerminan dari proses latihan yang sudah dijalani.
"Sebelum lomba, saya pasrah saja. Percaya dengan latihan. Kalau bisa mengejar ya dikejar, kalau belum ya berarti latihan harus dievaluasi dan ditambah lagi," tuturnya.
Sikap itu pula yang membuatnya tetap realistis saat mengikuti Ring of Lawu.
Dia sadar masih memiliki kekurangan, terutama pada latihan kecepatan dan kekuatan otot.
"Saya merasa latihan speed dan strength masih kurang, jadi tidak berani memaksakan diri terus mengejar. Takut justru cedera," ungkapnya.
Persiapan menghadapi dua ajang bergengsi itu pun disusun cukup matang.
Latihannya memadukan easy run, long run di jalur datar, jalan berelevasi, hingga latihan di medan trail.
Setelah menyelesaikan Mantra 116, dia masih memiliki waktu sekitar tiga pekan sebelum Ring of Lawu.
Kesempatan itu dimanfaatkan dengan pola latihan bertahap.
Pekan pertama digunakan untuk pemulihan, pekan kedua meningkatkan intensitas latihan, lalu pekan terakhir kembali mengurangi beban latihan agar kondisi tubuh tetap prima saat perlombaan.
Di balik pencapaiannya, Miftakhurrizza menegaskan dukungan keluarga dan komunitas menjadi kekuatan terbesar.
Keluarganya tidak pernah melarang dirinya menekuni olahraga yang identik dengan medan ekstrem tersebut.
"Orang tua dan keluarga selalu mendukung. Teman-teman komunitas juga ikut senang, bangga, sekaligus terus memberi semangat. Dari mereka, saya banyak belajar tentang trail running," ujarnya.
Perjalanannya tentu tidak selalu mulus. Cedera beberapa kali sempat datang, terutama setelah mencoba latihan kecepatan tanpa dibarengi latihan penguatan otot yang cukup.
Namun, dia memilih tidak menganggapnya sebagai kegagalan.
"Saya mencoba bertanggung jawab dengan pilihan sendiri dan menikmati prosesnya. Musuh terbesar saya justru rasa malas. Biasanya semangat muncul lagi setelah mendapat motivasi dari teman atau melihat pengalaman pelari lain di media sosial," katanya.
Kini, Miftakhurrizza memasang target bertahap. Dalam satu hingga dua tahun ke depan, dia ingin fokus bersaing di kategori middle trail.
Namun, mimpi terbesarnya justru sederhana. "Saya ingin tetap bisa berlari sampai tua dalam kondisi sehat,"tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri