RADAR TULUNGAGUNG - Dedaunan di lingkungan sekitar bisa menjadi sumber pemasukan jika dibumbui kreativitas. Dhenny Setiawan pun membuktikan dengan menjadikannya ecoprint. Bahkan, karyanya laku hingga mancanegara.
Bagi sebagian orang, daun jati yang berguguran di tepi sungai hanyalah sampah alam. Namun, di tangan Dhenny Setiawan, daun-daun liar itu justru berubah menjadi karya seni bernilai tinggi yang kini telah menembus pasar mancanegara.
Warga Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu, itu menekuni seni ecoprint sejak sekitar delapan tahun lalu. Awalnya, dia diperkenalkan teknik pewarnaan kain menggunakan bahan alami oleh seorang temannya yang tinggal di Belanda.
Berbekal rasa penasaran, Dhenny belajar secara otodidak melalui internet hingga akhirnya memberanikan diri bereksperimen.
"Karena tinggal di desa, saya sadar bahan-bahan utamanya justru ada di sekitar. Tanaman, daun, sampai buah-buahan bisa dimanfaatkan," tuturnya.
Baca Juga: Kreatif! Kusumaning Putri Sulap Kebun Sayur di Tulungagung Jadi Wisata Edukasi Petik Sayur
Percobaan pertama dilakukan menggunakan kain belacu murah. Berkali-kali gagal, ia tetap mencoba hingga menghasilkan motif yang layak dipasarkan.
Produk pertamanya berupa totebag sederhana justru laris di Jogjakarta. Sejak saat itu, Dhenny yakin ecoprint bukan sekadar hobi, melainkan peluang usaha.
Proses pembuatan ecoprint tidak sesederhana yang terlihat. Kain harus melalui proses mordanting agar mampu menyerap pigmen alami.
Setelah itu daun ditata di atas kain, digulung, lalu dikukus hingga warna alaminya berpindah ke serat kain.
Menurut Dhenny, setiap karya selalu berbeda. Jenis daun, jenis kain, hingga teknik pengolahan akan menghasilkan motif yang tidak pernah benar-benar sama.
"Jenis tanaman berpengaruh terhadap hasil akhir. Jenis kain berbeda, dengan proses yang sama, hasilnya juga bisa berbeda," jelasnya.
Untuk menjaga kualitas, dia terus belajar berbagai teknik, termasuk formulasi dari Thailand dan Amerika Serikat. Hampir seluruh bahan bakunya diperoleh dari alam Tulungagung, mulai daun jati di sepanjang sungai hingga berbagai tanaman yang diperoleh dari warga desa.
"Bahan alam itu di desa sangat banyak. Kebanyakan murah, bahkan kadang gratis," katanya.
Perjalanan membangun usaha tidak selalu mulus. Banyak percobaan berakhir gagal karena motif tidak muncul sesuai harapan. Namun, kegagalan itu justru menjadi bahan evaluasi.
"Tantangan terbesar adalah konsistensi. Harus terus belajar, menjaga kualitas, mengembangkan pemasaran, sampai mencari bahan baru," ungkapnya.
Ketekunan tersebut membuahkan hasil. Kini produk ecoprint buatannya telah sampai ke sekitar 10 negara melalui pelanggan maupun jaringan mitra di luar negeri.
Baca Juga: Borong Tiga Gelar Kejurcab FORBASI, Kontingen Asal Bandung Wakili Tulungagung ke Kejurprov
Selain menjual produk, Dhenny juga rutin mengisi workshop di sekolah, instansi, hingga komunitas, termasuk di Malaysia dan Singapura.
Meski pasar lokal masih terbatas dan sekitar 95 persen penjualannya dilakukan secara daring, Dhenny tetap optimistis. Dia berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan kekayaan alam sekitar menjadi produk bernilai ekonomi.
"Rezeki tidak harus berupa finansial. Teman-teman banyak dan saling mendukung, itu juga rezeki," ujarnya.
Bagi Dhenny, kreativitas, ketekunan, dan keberanian mencoba telah membuktikan bahwa daun liar dari pelosok Tulungagung pun bisa mengantarkan sebuah karya berkeliling dunia. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri