Kisah Gufron Herlambang, Pemuda Tulungagung Sukses Budi Daya Ikan Koi hingga Tembus Pasar Vietnam dan Filipina

Sandy Sri Yuwana • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 10:02 WIB
Berawal dari kolam sederhana pada 2017, kini koi hasil budi daya Gufron Herlambang berhasil menembus pasar nasional hingga Vietnam dan Filipina berkat konsistensinya menjaga kualitas.
Berawal dari kolam sederhana pada 2017, kini koi hasil budi daya Gufron Herlambang berhasil menembus pasar nasional hingga Vietnam dan Filipina berkat konsistensinya menjaga kualitas.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Gufron Herlambang kini menikmati kesuksesan dari budi daya koi. Usaha yang dirintis sembilan tahun lalu bisa menembus pasar Asia Tenggara. Padahal, semua dimulai dari kolam sederhana.

Bau tanah basah dari kolam berlapis terpal masih membekas dalam ingatan Gufron Herlambang. Sembilan tahun lalu, selepas lulus kuliah pada 2017, pemuda asal Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, itu memulai usaha budi daya ikan koi dengan segala keterbatasan.

Tempat pembuangan sampah bekas disulap menjadi kolam pembesaran, sementara pompa akuarium kecil menjadi andalan untuk menjaga kehidupan ikan-ikannya.

Tak ada yang menyangka, dari kolam sederhana itu, koi hasil budi dayanya kini berenang hingga pasar Vietnam dan Filipina.

Awalnya, Gufron tidak pernah membayangkan akan menjadi peternak koi. Ketertarikannya muncul setelah melihat koleksi ikan milik mertuanya.

Corak warna, bentuk tubuh, dan nilai jual ikan koi membuatnya penasaran. Rasa ingin tahu itu berkembang menjadi kesungguhan untuk belajar secara otodidak.

"Awalnya cuma kagum melihat koi milik mertua. Lama-lama saya belajar soal jenis, pola warna, sampai teknik pembenihan," tuturnya.

Baca Juga: Jauza Cikal Fairus Najla, Teller Bank yang Sukses Jadi Penyanyi, Ungkap Rahasia Membagi Waktu dan Pernah Jadi Pembuka Konser Mahalini

Langkah pertama dimulai dari hal kecil. Dia menjual benih koi seharga Rp 2.000 per ekor sembari terus mempelajari teknik pembesaran dan pembenihan menggunakan metode stripping.

Perlahan usahanya berkembang. Kini, dia mengelola lima kolam milik sendiri dan empat kolam mitra.

Bagi Gufron, kualitas selalu menjadi prioritas. Dia lebih memilih menghasilkan koi premium daripada mengejar jumlah produksi.

Bentuk tubuh yang besar, proporsional, serta warna yang tajam menjadi ciri ikan hasil budi dayanya.

Untuk menjaga kualitas itu, dia rutin mengontrol kondisi air, memantau kadar oksigen dan pH, memberi pakan tiga kali sehari, hingga mengarantina ikan yang menunjukkan gejala sakit agar tidak menular ke kolam lain.

Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Salah satu kegagalan terbesar terjadi ketika satu kolam penuh ikan siap jual mati mendadak akibat perubahan cuaca ekstrem.

Suhu panas di siang hari disusul hujan deras pada malam hari memicu lonjakan amonia dan menurunkan kadar oksigen.

Baca Juga: Freya Rafasya Aurelio, Siswa Tulungagung Raih Juara II Silat Seni Tunggal di Festival Seni Santri Nusantara Cup, Kini Bidik Juara Bapopsi

"Satu kolam mati semua. Padahal ukurannya sudah sekitar 50 sentimeter dan siap dijual," kenangnya.

Kerugian serupa juga pernah dialami akibat kelalaian saat proses pengurasan kolam. Meski demikian, setiap kegagalan justru dijadikannya pelajaran untuk memperbaiki sistem budi daya.

"Kalau gagal pasti dicari penyebabnya. Mental harus kuat. Jangan berhenti di tengah jalan," katanya.

Usahanya sempat mencapai puncak saat pandemi Covid-19. Ketika tren memelihara ikan hias meningkat, permintaan koi melonjak hingga omzetnya mencapai belasan juta rupiah setiap pekan. Dia bahkan mampu mempekerjakan lima karyawan.

Kini, pasar memang tak lagi seramai masa pandemi. Harga ikan menurun, biaya produksi naik, dan jumlah pekerja berkurang menjadi dua orang.

Namun, semangatnya tetap sama. Melalui jaringan diler dan transhipper, koi-koi Boyolangu terus dikirim ke berbagai daerah, bahkan menembus Vietnam dan Filipina.

Bagi Gufron, keberhasilan bukan sekadar soal omzet. Dari kolam yang dulu dibangun dengan segala keterbatasan, dia mampu menghidupi keluarga, membangun rumah, sekaligus membuka lapangan pekerjaan.

"Jangan takut memulai. Kalau mau belajar budi daya koi, silakan datang. Saya senang kalau semakin banyak anak muda berani membuka usaha sendiri," pesannya. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
budi daya koi COVID-19 peternak kolam