RADAR TULUNGAGUNG - Berawal dari hobi yang dikenalkan orang tua sejak kelas III SD, Ilma Naafi'an kini terus menekuni olahraga aeromodelling. Tidak jarang dia meraih prestasi di salah satu jenis olahraga dirgantara ini.
Tidak banyak anak yang memilih menghabiskan waktu luangnya dengan menerbangkan pesawat aeromodelling. Namun, bagi Ilma Naafi'an, hobi tersebut justru menjadi jalan untuk mengasah keterampilan sekaligus meraih prestasi.
Cewek asal Desa Doroampel, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, itu telah menekuni olahraga aeromodelling sejak duduk di bangku kelas III sekolah dasar.
Kecintaannya terhadap aeromodelling berawal dari lingkungan keluarga. Orang tuanya lebih dahulu memiliki ketertarikan pada cabang olahraga tersebut dan sering mengajak Ilma mengikuti berbagai kegiatan maupun latihan.
Dari pengalaman itulah, rasa penasaran tumbuh hingga akhirnya ia memutuskan untuk ikut berlatih secara serius.
"Awalnya dikenalkan oleh orang tua yang memang lebih dulu memiliki ketertarikan di bidang ini. Dari situ, saya sering diajak melihat dan mengikuti berbagai kegiatan aeromodelling hingga akhirnya ikut berlatih," ujarnya.
Sejak kelas III SD, Ilma mulai mengikuti berbagai kejuaraan tingkat provinsi. Meski awalnya hanya mengikuti ajakan orang tua, lama-kelamaan dia semakin menikmati setiap proses latihan maupun kompetisi.
Baginya, aeromodelling kini bukan sekadar hobi, melainkan olahraga yang terus ia tekuni hingga sekarang.
Untuk menjaga kemampuan, Ilma menjalani latihan secara rutin di lapangan terbuka dengan menyesuaikan kondisi cuaca.
Sebelum pesawat diterbangkan, dia selalu memastikan seluruh komponen dalam kondisi baik, mulai dari mesin atau baterai hingga sistem kendali.
Setelah pengecekan selesai, latihan difokuskan pada berbagai teknik dasar, seperti lepas landas, menjaga kestabilan saat terbang, melakukan manuver, hingga mendarat dengan aman.
"Setiap tahapan membutuhkan ketelitian karena kesalahan kecil dapat memengaruhi performa pesawat," ungkapnya.
Meski terlihat menyenangkan, Ilma mengakui aeromodelling memiliki tantangan yang tidak ringan. Faktor cuaca menjadi kendala terbesar karena sangat menentukan keamanan dan kelancaran penerbangan.
Selain itu, konsentrasi saat bertanding harus benar-benar terjaga agar pesawat tetap dapat dikendalikan dengan baik.
"Tantangan terbesar lebih ke faktor cuaca karena tidak bisa diprediksi dan sangat memengaruhi penerbangan pesawat. Selain itu, menjaga konsentrasi saat bertanding juga menjadi tantangan tersendiri karena kesalahan kecil dapat menyebabkan pesawat kehilangan kendali," katanya.
Dia juga mengungkapkan bahwa biaya perawatan maupun perbaikan pesawat relatif besar sehingga diperlukan komitmen untuk terus menekuni olahraga tersebut.
Bagi Ilma, pengalaman paling berkesan adalah ketika berhasil meraih prestasi setelah melalui latihan yang panjang. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa kerja keras dan semangat untuk terus belajar akan memberikan hasil yang sepadan.
"Prestasi bukan hanya soal memenangkan perlombaan, tetapi juga kesempatan untuk menambah pengalaman dan memperluas relasi," tuturnya.
Ke depan, Ilma berharap olahraga aeromodelling di Tulungagung semakin berkembang dan mampu melahirkan lebih banyak atlet berprestasi.
Dia juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu mencoba aeromodelling. Apalagi, olahraga ini bukan hanya tentang menerbangkan pesawat, melainkan juga melatih ketelitian, kesabaran, kreativitas, serta kemampuan di bidang teknologi.
"Dengan mengenalkan aeromodelling secara langsung, masyarakat akan lebih mudah memahami bahwa olahraga ini bukan sekadar bermain pesawat, tetapi juga mengembangkan kreativitas dan kemampuan di bidang teknologi," pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri