Cara Unik Dewi Sahabat Jaksa Kenalkan Hukum kepada Anak Lewat Drama, Lagu, dan Karakter Super Jaksa

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 11:08 WIB
Bagi Dewi Isna Tsamrotul Fikriyah, hukum bisa diperkenalkan melalui cerita, drama, lagu, hingga permainan yang dekat dengan dunia anak.
Bagi Dewi Isna Tsamrotul Fikriyah, hukum bisa diperkenalkan melalui cerita, drama, lagu, hingga permainan yang dekat dengan dunia anak.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Mengenalkan hukum kepada anak-anak tidak selalu harus dengan bahasa formal. Bagi Dewi Isna Tsamrotul Fikriyah, hukum justru bisa diperkenalkan melalui cerita, drama, lagu, hingga permainan yang dekat dengan dunia anak.

Sejak bergabung sebagai Sahabat Jaksa pada 9 Desember 2025, Dewi aktif mendampingi berbagai kegiatan edukasi hukum bersama jajaran kejaksaan.

Mulai dari Jaksa Masuk Sekolah (JMS), outing class SUPER JAKSA, hingga mengikuti proses persidangan.

Untuk anak-anak TK, edukasi dilakukan melalui karakter Super Jaksa, Adhi dan Yaksa. Sementara pelajar SMP dan SMA diajak membahas persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka, seperti antikorupsi, narkotika, penggunaan media sosial, bullying, dan kekerasan.

"Untuk anak-anak TK, kami fokus mengenalkan profesi jaksa melalui maskot Super Jaksa. Sedangkan untuk SMP dan SMA lebih banyak berdiskusi tentang edukasi antikorupsi, taat hukum, bahaya narkotika, media sosial, bullying dan kekerasan," jelasnya.

Baca Juga: Dikenalkan Orang Tua sejak Kelas III SD, Ilma Naafi’an Tekuni Aeromodelling hingga Raih Prestasi

Salah satu pengalaman paling berkesan baginya terjadi saat melihat antusiasme anak-anak ketika tim Sahabat Jaksa datang dengan kostum Super Jaksa. Melalui drama interaktif, anak-anak diajak memahami konsep taat hukum dengan cara menyenangkan.

"Melihat pemahaman mereka berkembang dari sekadar tahu 'jaksa itu menangkap koruptor' menjadi 'jaksa adalah pahlawan keadilan' adalah momen yang tak ternilai," tuturnya.

Tidak hanya berinteraksi dengan pelajar, Dewi juga mendapat kesempatan melihat proses persidangan secara langsung.

Pengalaman tersebut membuat pemahamannya mengenai penegakan hukum semakin luas karena dapat melihat bagaimana ilmu yang selama ini dipelajari diterapkan dalam proses penanganan perkara.

Menurut cewek berjilbab ini, pengalaman terjun langsung bersama para jaksa juga memberikan pelajaran bahwa penegakan hukum membutuhkan ketelitian dan tanggung jawab.

Baca Juga: Kisah Gufron Herlambang, Pemuda Tulungagung Sukses Budi Daya Ikan Koi hingga Tembus Pasar Vietnam dan Filipina

Namun, upaya membangun kesadaran hukum tidak harus selalu dimulai melalui proses penindakan.

"Edukasi menjadi langkah penting untuk mencegah pelanggaran sejak awal. Karena itu, penyampaian pesan hukum harus menyesuaikan usia dan karakter orang yang menerima informasi agar tidak berhenti sebagai pengetahuan semata," terangnya.

Pengalaman tersebut juga mengubah cara pandang Dewi terhadap hukum. Menurutnya, hukum bukan hanya tentang menangkap atau menghukum, tetapi juga tentang melindungi dan mencegah terjadinya pelanggaran.

"Ilmu yang paling berharga adalah strategi komunikasi dan pendekatan persuasif. Hukum adalah alat untuk melindungi dan menegakkan kebenaran, dimulai dari langkah kecil seperti berkata jujur dan menghargai hak orang lain," katanya.

Dari pengalaman itu, Dewi berusaha membawa nilai-nilai tersebut ke lingkungan sekitar. Ia mengajak teman-temannya untuk jujur, taat hukum, menjauhi korupsi, penipuan, narkotika, serta bijak bermedia sosial.

Baginya, menjadi Sahabat Jaksa juga berarti menjadi jembatan informasi agar masyarakat lebih memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Kesadaran hukum, kata dia, seharusnya tumbuh sebelum seseorang berhadapan dengan persoalan hukum. 

"Sadarilah bahwa hukum hadir untuk melindungi kita. Jangan takut pada hukum, tapi pahamilah. Mulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat," pungkasnya. (bac/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
super jaksa jaksa masuk sekolah sahabat jaksa jaksa