RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah perubahan zaman dan derasnya hiburan digital, sosok Siswoyo, 68, memilih tetap berdiri di jalur yang sama.
Dari Desa Gendingan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, dia terus menjaga agar kesenian tradisional tersebut tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.
Bunyi kendang itu seperti napas yang tak boleh putus. Ditabuh beriringan dengan gerak para penari, membentuk irama khas Reog Kendang Tulungagung yang telah hidup dan diwariskan lintas generasi dan tetap eksis hingga saat ini.
Di antara bunyi tersebut, tampak seorang pria sepuh yang tidak asing di dunia seni budaya Tulungagung.
Dialah Siswoyo yang merupakan pendiri Sanggar Seni Reog Dhodhog Sajiwo Djati. Puluhan tahun hidupnya dihabiskan untuk mengenalkan, mengajarkan, sekaligus mempertahankan reog kendang kepada generasi muda.
Baca Juga: Cara Unik Dewi Sahabat Jaksa Kenalkan Hukum kepada Anak Lewat Drama, Lagu, dan Karakter Super Jaksa
Bagi Siswoyo, melestarikan kesenian bukan sekadar perkara mempertahankan gerakan tari maupun bunyi kendang. Ada rasa, disiplin, dan tanggung jawab budaya yang harus diwariskan.
“Yang penting rasa, hati. Wirasa, wirama, dan wiraga itu harus menjadi satu,” tuturnya.
Kakek 68 tahun itu mengaku sudah mengenal reog kendang sejak masih kecil. Bahkan, kecintaannya terhadap kesenian tersebut telah berlangsung lebih dari setengah abad.
Dia tidak lagi menghitung secara pasti kapan pertama kali mulai terlibat dalam dunia reog kendang.
Namun, satu hal yang dia ingat. Kesenian itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Dari yang semula hanya mengenal beberapa penari, perlahan Siswoyo membangun kelompok kesenian.
Baca Juga: Dikenalkan Orang Tua sejak Kelas III SD, Ilma Naafi’an Tekuni Aeromodelling hingga Raih Prestasi
Sanggar yang didirikannya menjadi ruang belajar bagi anak-anak untuk mengenal reog kendang sejak usia dini.
Kini, anggota yang belajar di sanggarnya datang dari berbagai jenjang pendidikan. Mulai taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga sekolah menengah. Jumlahnya pun tidak sedikit. Sekitar 200 anak pernah belajar dan berlatih di lingkungan sanggar tersebut. Regenerasi menjadi kunci utama agar reog kendang tidak kehilangan penerus.
“Jangan sampai punah kesenian yang ada di sini,” tegasnya.
Reog kendang memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kesenian tari lainnya. Para penari tidak hanya dituntut mampu mengikuti irama, tetapi juga harus mampu menyatukan gerakan tubuh dengan tabuhan kendang.
Gerakan yang tampak sederhana bagi penonton justru membutuhkan latihan dan kekompakan. Setiap bagian tubuh memiliki peran dalam membangun satu kesatuan pertunjukan.
Karena itu, Siswoyo tidak ingin anak-anak yang belajar di sanggarnya hanya mengejar kemampuan tampil. Ada nilai kedisiplinan yang harus mereka pahami.
“Yang penting disiplin. Ciri khas reog kendang jangan sampai hilang,” pesannya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri