Asaka Rayan Fahrul Rozi Juara 1 Pencak Silat Bupati Trenggalek Cup 2026, Konsisten Latihan Jadi Kunci Prestasi

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:12 WIB
Latihan keras 
dan intensif 
menjadi kunci 
Asaka mampu 
meraih juara 
di kejuaraan 
pencak silat.
Latihan keras dan intensif menjadi kunci Asaka mampu meraih juara di kejuaraan pencak silat.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Latihan keras dan disiplin menjadi kunci Asaka Rayan Fahrul Rozi untuk meraih prestasi di cabor silat.

Bahkan baru-baru ini dia mampu meraih prestasi di Kejuaraan Pencak Silat Bupati Trenggalek Cup 2026. 

Di arena pertandingan, Asaka Rayan Fahrul Rozi tampil tenang.

Setiap gerakan jurus tunggal dibawakan dengan penuh konsentrasi. 

Tak banyak yang melihat bahwa penampilan tersebut merupakan hasil dari latihan panjang, disiplin, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri. 

Siswa kelas IX salah satu sekolah negeri di Tulungagung itu akhirnya membawa pulang gelar Juara 1 kategori Jurus Tunggal Putra dalam Kejuaraan Pencak Silat Bupati Trenggalek Cup 2026.

Baca Juga: Kisah Siswoyo, 68 Tahun Dedikasikan Hidup untuk Melestarikan Reog Kendang Tulungagung dan Mencetak Generasi Penerus

“Senang dan bangga. Prestasi ini menjadi penyemangat untuk terus berkembang di pencak silat,” ujarnya. 

Bagi Asaka, medali juara bukanlah garis akhir. Justru, capaian tersebut menjadi pemantik untuk berlatih lebih keras.

Dia sadar mempertahankan prestasi membutuhkan proses yang tidak kalah berat dibandingkan saat meraihnya. 

Hampir setiap hari, waktu Asaka terbagi antara sekolah dan latihan.

Fisik, teknik, hingga mental bertanding terus diasah. 

Baginya, konsistensi menjadi kunci utama karena penampilan jurus tunggal menuntut ketepatan dalam setiap detail gerakan.

“Latihan fisik, teknik, mental, dan yang paling penting konsisten menjalani latihan,” katanya. 

Baca Juga: Cara Unik Dewi Sahabat Jaksa Kenalkan Hukum kepada Anak Lewat Drama, Lagu, dan Karakter Super Jaksa

Di nomor seni tunggal, pesilat tidak cukup hanya menghafal rangkaian jurus.

Gerakan harus memiliki tenaga, keseimbangan, irama, dan ekspresi yang tepat. Kesalahan kecil dapat memengaruhi penilaian.

Asaka mengaku tantangan terbesar justru menjaga kualitas penampilan dari awal hingga akhir. 

Tekanan pertandingan harus mampu dikendalikan agar setiap gerakan tetap sesuai dengan yang dilatih.

“Yang paling sulit itu menjaga ekspresi sekaligus menggabungkan jurus dengan interval gerakan,” ungkapnya. 

Saat berada di arena, Asaka berusaha tidak memikirkan hasil akhir.

Dia memilih fokus pada rangkaian jurus yang sudah dipersiapkan.

Baca Juga: Dikenalkan Orang Tua sejak Kelas III SD, Ilma Naafi’an Tekuni Aeromodelling hingga Raih Prestasi

Strategi sederhana itu membantunya tetap tenang meski harus tampil di hadapan dewan juri. 

Di balik pencapaiannya, ada sosok pelatih yang terus mengingatkan agar Asaka tidak mudah puas.

Konsistensi dan mental pantang menyerah menjadi bekal yang terus ditanamkan selama latihan.

“Pelatih selalu mengingatkan supaya tetap semangat, konsisten, dan tidak pantang menyerah dalam menjalani proses latihan,” tuturnya. 

Dukungan juga datang dari keluarga. Kedua orang tua Asaka selalu mendampingi perjalanan kompetisinya.

Doa dan kehadiran mereka menjadi sumber kepercayaan diri tersendiri bagi Asaka ketika menghadapi pertandingan.

“Orang tua selalu mendoakan dan mendampingi saya setiap bertanding. Itu yang membuat saya lebih percaya diri,” katanya.  

Sekolah pun memberi ruang bagi Asaka untuk mengembangkan kemampuan di luar bidang akademik.

Dukungan tersebut membuatnya semakin leluasa menjalani latihan sekaligus mengejar prestasi sebagai atlet muda. 

Kini, setelah berdiri di podium tertinggi, Asaka kembali menatap target berikutnya.

Dia berencana mengikuti Bapopsi pada nomor seni tunggal putra. Medali yang baru diraih tidak ingin membuat langkahnya berhenti.

Baca Juga: Kisah Gufron Herlambang, Pemuda Tulungagung Sukses Budi Daya Ikan Koi hingga Tembus Pasar Vietnam dan Filipina

“Target berikutnya ikut Bapopsi dan tetap turun di nomor seni tunggal,” ujarnya. 

Bagi Asaka, setiap pertandingan bukan sekadar soal siapa yang membawa pulang medali.

Arena menjadi tempat untuk mengukur kemampuan, belajar dari lawan, sekaligus membentuk mental agar semakin matang. 

Dia berharap pencapaiannya dapat menjadi pemantik bagi pelajar lain untuk berani mengembangkan bakat.

Sebab, menurutnya, prestasi tidak lahir secara instan.

Ada latihan yang harus dijalani, kegagalan yang perlu diterima, serta dukungan orang-orang terdekat yang membuat seorang atlet terus melangkah. 

“Yang penting jangan mudah menyerah. Terus latihan, belajar, dan nikmati prosesnya,” pungkas Asaka. (*/c1/rka)

 

 

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
asaka rayan fahrul rozi bupati trenggalek cup 2026 pencak silat latihan