Kisah Hana Kaysha Aziza, Mulai Hafal Alquran Usia 3,5 Tahun hingga Juara 1 Lomba di Jogjakarta

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:46 WIB
Hana saat mengikuti perlombaan hafalan Alquran. Di usia 5 tahun, dia berhasil meraih juara pertama setelah mulai menghafal sejak usia 3,5 tahun.
Hana saat mengikuti perlombaan hafalan Alquran. Di usia 5 tahun, dia berhasil meraih juara pertama setelah mulai menghafal sejak usia 3,5 tahun.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Butuh perjuangan untuk meraih sesuatu. Hal ini juga dialami Hana Kaysha Aziza yang meraih prestasi membanggakan di bidang hafalan Alquran.

Bahkan, dia pernah juara 1 di sebuah event di Jogjakarta.

Perjalanan Hana dalam menghafal Alquran dimulai sejak usia sekitar 3,5 tahun. Saat itu, hafalan tiga surat pendek menjadi salah satu syarat masuk PAUD.

Dari hafalan sederhana tersebut, Hana kemudian melanjutkan hafalan Juz 30.

Leni Nurhayati, ibu kandung Hana, mengatakan hafalan dilakukan secara bertahap. Saat PAUD, Hana menghafal Surat An-Naba hingga Al-Ghasyiyah.

Ketika TK A, hafalannya dilanjutkan dari Al-Infitar hingga An-Nas.

Baca Juga: Kerja Padat Bikin Mudah Lelah, Fira Agung Temukan Cara Jaga Kebugaran dan Redakan Stres lewat Poundfit dan Yoga

“Awalnya, sebelum masuk PAUD, sekitar usia 3,5 tahun, Hana mulai menghafal tiga surat pendek sebagai salah satu syarat masuk sekolah. Setelah itu dilanjutkan dengan hafalan dari Juz 30, dimulai dari Surat An-Naba,” ujar Leni.

Dalam mendampingi putrinya, Leni Nurhayati menyesuaikan metode dengan karakter Hana yang aktif.

Dia menggunakan metode talqin, membacakan ayat kemudian meminta Hana mengikuti dan mengulanginya.

Ayat yang panjang juga dipecah menjadi beberapa bagian agar lebih mudah dihafalkan.

“Hana ini anaknya cukup kinestetik, jadi masih sulit duduk tenang dalam waktu lama tanpa bergerak. Kadang saya menggunakan bantuan gerakan saat menghafal supaya dia lebih mudah mengingat,” jelasnya.

Baca Juga: Makna Kemerdekaan bagi Sheva Millanisty, Gadis Tulungagung yang Ingin Bebas Belajar, Berkarya dan Mengejar Cita-Cita

Leni pun tidak memaksakan hafalan ketika Hana sedang lelah. Menurutnya, bermain tetap menjadi bagian penting dari masa kanak-kanak Hana.

Karena itu, waktu murajaah disesuaikan dengan kondisi dan suasana hati sang anak.

“Kalau Hana sedang lelah, saya tidak memaksakan untuk murajaah. Saya biarkan dia bermain atau beristirahat. Dia tetap bermain dengan teman dan melakukan aktivitas anak-anak lainnya,” katanya.

Selain pendampingan di rumah, peran ustazah di sekolah turut membantu perkembangan hafalan Hana.

Adanya jadwal murajaah membuat Hana terbiasa mengulang hafalan, sementara Leni juga rutin berkomunikasi dengan guru untuk mengetahui perkembangannya.

Di usia lima tahun, Hana mengikuti ujian tasmi’ Juz 30. Setelah menyelesaikan hafalan tersebut, dia mulai melanjutkan hafalan ke Juz 29.

Baca Juga: Asaka Rayan Fahrul Rozi Juara 1 Pencak Silat Bupati Trenggalek Cup 2026, Konsisten Latihan Jadi Kunci Prestasi

Proses yang dijalani sejak usia dini itu kemudian membuahkan prestasi.

Semua berbuah manis. Hana akhirnya berhasil meraih Juara 1 dalam perlombaan yang berlangsung di Nueve Malioboro Hotel, Jogjakarta.

Bagi Leni Nurhayati, pencapaian tersebut menjadi kebanggaan sekaligus pengingat agar Hana tetap rendah hati.

“Sebagai ibu kandung, tentu saya sangat senang dan bangga ketika Hana mendapatkan juara. Tapi saya juga selalu mengingatkan, piala ini bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain,” ungkapnya.

Menurutnya, keberhasilan Hana tidak hanya diukur dari kemampuan menghafal atau piala yang diperoleh.

Dia berharap hafalan Alquran dapat berjalan seiring dengan pembentukan karakter dan sikap Hana dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya ingin Hana tetap rendah hati, menyayangi teman-temannya, dan terus belajar. Bagi saya, juara yang paling indah bukan hanya anak yang membawa pulang piala, tetapi anak yang tetap punya hati baik setelah mendapatkannya,” pungkasnya.(*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
hafalan alquran an-naba event prestasi