Dari Tulungagung ke Pasar Dunia, Azrabella Nurmala Kembangkan Bisnis Kerajinan Fosil Kayu

Sandy Sri Yuwana • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:23 WIB
Azrabella memilih untuk melanjutkan bisnis keluarga di bidang fosil kayu dengan modal kejujuran.
Azrabella memilih untuk melanjutkan bisnis keluarga di bidang fosil kayu dengan modal kejujuran.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Azrabella Nurmala tak sekadar meneruskan usaha keluarga. Lulusan Desain Produk Industri ITS itu membawa petrified wood atau fosil kayu khas Tulungagung menembus pasar mancanegara.

Cewek 24 tahun asal Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, yang akrab disapa Abel tersebut mulai terjun ke usaha keluarga, Petrified Art Craft, sejak September tahun lalu.

Berbekal ilmu desain produk dan bisnis yang didapat selama kuliah, Abel kini dipercaya menangani pengembangan bisnis sekaligus pengembangan produk.

Menariknya, keputusan meneruskan usaha keluarga bukanlah rencana sejak awal. Saat kuliah, Abel justru sempat mengikuti lomba dengan mengangkat material petrified wood.

Dia juga menjadikan fosil kayu sebagai objek tugas akhirnya. Dari sanalah keyakinannya tumbuh. Material yang selama ini dianggap sekadar batu ternyata memiliki nilai seni dan cerita yang tinggi.

Baca Juga: Awalnya Tak Minat Digital Marketing, Atsilah Nawal Huwaidah Raih Penghargaan di UIN KHAS Jember 

“Kayu yang seharusnya terurai justru mengeras menjadi batu karena tertimbun mineral selama jutaan tahun. Motif serabut kayunya masih terlihat,” ujarnya.

Petrified Art Craft sendiri berdiri sejak 2014. Awalnya bergerak di bidang kayu jati, sebelum beralih mengolah fosil kayu. Bukan sekadar menjual bahan mentah, fosil kayu diolah menjadi berbagai kerajinan seperti wastafel dan meja.

Kini, pasar produk tersebut justru lebih banyak berasal dari luar negeri. Rusia dan Kanada menjadi sejumlah negara yang pernah menerima produk mereka. Dalam waktu dekat, pengiriman juga diarahkan ke Amerika Serikat dan Prancis.

Abel menyebut pemasaran digital menjadi salah satu kunci. Instagram dan berbagai kanal online dimanfaatkan untuk menjangkau pembeli tanpa harus memiliki showroom besar.

Namun, perjalanan usaha itu tak selalu mulus. Pandemi Covid-19 menjadi titik terendah. Setelah mencatat penjualan tertinggi pada 2019, pesanan mendadak terhenti pada 2020.

Baca Juga: Nila Farhatun Nazilah, Gadis Kalidawir yang Gemar Traveling hingga Canyonering demi Pengalaman Baru

Beruntung, pada 2021, usaha mulai kembali bergerak dengan pengiriman ke Jerman, sebelum bangkit lebih kuat pada 2022 hingga sekarang.

Di tengah persaingan pasar global, Abel memegang satu prinsip, kualitas berawal dari kejujuran. Jika terdapat retak atau kekurangan pada produk, pembeli harus diberi tahu.

“Yang paling penting membangun kepercayaan dengan buyer,” katanya.

Kini sekitar 15–16 pekerja terlibat dalam usaha tersebut. Bagi Abel, keberhasilan bukan semata ketika produk Tulungagung sampai ke Eropa atau Amerika.

Lebih dari itu, dia ingin usaha yang diwarisi dari orang tuanya tetap mampu menghidupi masyarakat sekitar.

Menjadi penerus pun, menurutnya, bukan perkara mudah. Meski tidak memulai dari nol, tanggung jawab untuk mempertahankan bahkan melipatgandakan usaha keluarga tetap menjadi tantangan.

“Jangan malu meneruskan usaha keluarga. Memang kita tidak mulai dari nol, tetapi melipatgandakan omzet keluarga juga tidak mudah,” tuturnya. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
petrified wood desain produk fosil kayu