
TULUNGAGUNG - Hari Polwan setiap 1 September menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan polisi perempuan dalam menjalankan tugas.
Di Tulungagung, Kapolsek Boyolangu AKP Retno Pujiarsih memiliki sejumlah pengalaman yang membekas selama menapaki karir sebagai polisi wanita.
Bagi Retno, menjadi Polwan bukan profesi yang dipilih secara tiba-tiba. Keinginan tersebut telah tumbuh sejak duduk di bangku SMP hingga SMA.
Sosok sang tante yang juga berprofesi sebagai Polwan turut memperkuat keinginannya untuk mengikuti jejak tersebut.
“Saya memilih menjadi Polwan karena memang sudah menjadi cita-cita sejak dulu. Sejak SMP hingga SMA, saya sudah mengagumi sosok Polwan. Kebetulan, tante saya juga seorang Polwan. Beliau menjadi role model bagi saya,” ungkap Retno.
Puluhan tahun menjalankan tugas sebagai anggota kepolisian membuat Retno menghadapi berbagai situasi.
Tidak semuanya berlangsung dalam kondisi mudah. Ada pengalaman yang mengharuskannya berhadapan dengan massa dalam jumlah besar hingga mengejar pelaku kejahatan ketika masih menjadi Polwan baru.
Salah satu pengalaman yang paling membekas dialami Retno ketika bertugas di Polsek Pakel. Saat itu, sekitar seribu simpatisan salah satu perguruan pencak silat mendatangi mapolsek.
Kedatangan massa tersebut berkaitan dengan permintaan kejelasan mengenai perkara yang sedang ditangani. Situasi tersebut tentu membutuhkan ketenangan karena jumlah massa yang datang cukup besar.
Retno memilih menghadapi mereka dan memberikan penjelasan secara langsung. Dia berusaha menyampaikan informasi menggunakan bahasa yang dapat diterima oleh para simpatisan.
Baca Juga: Mantan Kapolres Bima Kota Didik Putra Kuncoro Jadi Tersangka Narkoba, Polwan dan Istri Ikut Terjerat
“Saya tidak gentar. Saya menyampaikan penjelasan dengan bahasa yang bisa diterima oleh para simpatisan. Kami juga menangani perkara tersebut secara profesional. Alhamdulillah, setelah diberikan penjelasan, akhirnya massa membubarkan diri dengan tertib,” jelasnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bagi Retno bahwa tugas kepolisian tidak hanya berkaitan dengan penindakan.
Kemampuan berkomunikasi dan memahami kondisi masyarakat juga dibutuhkan ketika menghadapi situasi yang berpotensi menimbulkan ketegangan.
Pengalaman menegangkan lainnya terjadi ketika Retno masih menjadi Polwan baru di Polres Malang. Saat itu, seorang warga datang melaporkan kasus penjambretan ketika dirinya sedang sendirian di pos polisi.
Tanpa mengetahui dirinya tengah hamil muda, Retno langsung mengejar pelaku. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil karena pelaku berhasil ditangkap.
“Alhamdulillah, pelakunya berhasil ditangkap. Bagi saya, yang penting masyarakat bisa terlayani,” kenangnya.
Bagi Retno, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tugas Polwan membutuhkan keberanian sekaligus kemampuan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Namun, pendekatan yang digunakan dapat disesuaikan dengan situasi dan karakter masyarakat yang dihadapi.
Menurutnya, polisi perempuan memiliki pendekatan tersendiri ketika berhadapan dengan masyarakat. Pendekatan emosional dan sentuhan keibuan dapat menjadi salah satu cara untuk membangun komunikasi.
“Polwan bisa menggunakan pendekatan emosional dan sentuhan keibuan dalam menghadapi masyarakat. Meski pendekatannya berbeda, tujuannya tetap sama, yaitu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Proliga 2026: Bandung BJB Tandamata Gagal ke Final Four Usai Tumbang dari Jakarta Popsivo Polwan
Memaknai Hari Polwan, Retno menilai peringatan yang jatuh setiap 1 September tersebut bukan sekadar seremoni.
Momentum itu menjadi pengingat mengenai perjalanan Polisi Wanita Republik Indonesia dalam menjalankan tugas.
Bagi Retno, perjalanan sebagai Polwan telah memberinya berbagai pengalaman, mulai dari menghadapi massa dalam jumlah besar hingga memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat dalam situasi yang tidak terduga.
“Bagi saya, Hari Polwan sangat penting karena merupakan hari lahir Polisi Wanita Republik Indonesia,” pungkasnya.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri