
TULUNGAGUNG - Pemutusan hubungan kerja (PHK) saat pandemi Covid-19 menjadi titik balik bagi Prazha Ande Safuta, warga Desa Tanggulwelahan, Kecamatan Besuki, Tulungagung.
Kehilangan pekerjaan justru mendorongnya membangun usaha peternakan ayam yang kini berkembang hingga sekitar 10.000 ekor.
Sebelum menjadi peternak mandiri, Prazha pernah bekerja di pabrik yang bergerak di bidang kemitraan ayam.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika dirinya terkena PHK akibat pengurangan pekerjaan saat pandemi Covid-19.
“Awalnya coba-coba, terus menerapkan sedikit pengalaman dari pabrik. Saya dulunya pekerja di pabrik kemitraan ayam. Terus kena PHK, ada pengurangan pekerjaan waktu Covid. Setelah itu coba-coba mendirikan usaha peternakan ayam,” ujarnya.
Dari usaha yang awalnya sekadar coba-coba, Prazha perlahan mengembangkan kapasitas peternakannya.
Baca Juga: Hari Polwan, Kisah Kapolsek Boyolangu Tulungagung Kejar Penjambret hingga Hadapi Seribuan Massa
Dia memulai dengan sekitar 200 ekor ayam. Jumlah tersebut kemudian bertambah menjadi 600 ekor, 1.000 ekor, 2.000 ekor, hingga kini mencapai sekitar 10.000 ekor.
Usaha peternakan ayam tersebut telah dijalankan selama sekitar enam hingga tujuh tahun. Selama menjalankan usaha, berbagai tantangan harus dihadapi, mulai dari ketersediaan bibit ayam hingga kondisi cuaca.
Selain bibit dan cuaca, pakan menjadi salah satu faktor yang turut menentukan biaya produksi.
Ketika harga pakan meningkat, biaya pemeliharaan ayam ikut terdampak. Namun, saat harga pakan lebih murah, kualitasnya tetap perlu menjadi perhatian.
Prazha juga menempatkan kesehatan ayam sebagai bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Kebersihan kandang menjadi salah satu hal yang rutin diperhatikan, termasuk sanitasi dan sirkulasi udara.
Baca Juga: Vika Cahyani Putri, Berawal dari Hobi Bernyanyi hingga Menekuni Dunia MC
Penyemprotan disinfektan dilakukan secara berkala untuk menjaga kondisi kandang tetap bersih.
“Yang terutama kebersihan kandang. Sanitasi sama sirkulasi. Kebersihan kandang harus dijaga, kemudian setiap dua atau tiga hari sekali disemprot disinfektan,” jelasnya.
Ketika harga ayam mengalami penurunan, Prazha berupaya melakukan efisiensi, salah satunya dengan mencampurkan jagung ke dalam pakan.
Cara tersebut dilakukan untuk menekan biaya pakan jadi yang menjadi salah satu komponen pengeluaran dalam usaha peternakan.
Untuk pemasaran, Prazha tidak menjual ayam hasil ternaknya sendiri ke pasar. Seluruh hasil ternak disetorkan kepada perusahaan mitra sesuai dengan pola kemitraan yang dijalankan.
Perkembangan peternakan ayam tersebut belum membuat Prazha berhenti mengembangkan usahanya.
Dari kapasitas sekitar 10.000 ekor saat ini, dia memasang target untuk meningkatkan jumlah ayam yang dipelihara hingga puluhan ribu ekor.
“Targetnya sampai 40.000. Insya Allah. Bisa 40.000 sampai 50.000,” katanya.
Baca Juga: Dari Tulungagung ke Pasar Dunia, Azrabella Nurmala Kembangkan Bisnis Kerajinan Fosil Kayu
Target tersebut menjadi bagian dari rencana pengembangan usaha yang telah dirintis setelah kehilangan pekerjaan saat pandemi.
Pengalaman bekerja di pabrik kemitraan ayam menjadi bekal awal yang kemudian diterapkan untuk menjalankan peternakan sendiri.
Tidak hanya ayam, Prazha kini juga mulai mengembangkan usaha peternakan kambing. Keuntungan dari usaha ayam secara bertahap dialihkan untuk mengembangkan kandang kambing.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upayanya memperluas usaha peternakan. Dia berharap pengembangan kambing dapat mencapai target terlebih dahulu sebelum kembali menambah kandang ayam.
“Harapannya ke depan sementara ini masih mengembangkan peternakan kambing. Laba dari ayam saya alihkan ke kambing. Nanti kalau kambing sudah memenuhi target, insya Allah buka kandang lagi,” pungkasnya.
Perjalanan Prazha menunjukkan bagaimana pengalaman kerja yang dimiliki sebelum PHK tetap dapat menjadi modal untuk memulai usaha baru.
Dari awal hanya 200 ekor ayam, peternakannya kini berkembang hingga sekitar 10.000 ekor dan masih menyimpan target pertumbuhan yang lebih besar.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri