TULUNGAGUNG - Usaha buket mahasiswa Amelia Wulan Ferdiana berawal dari keinginan sederhana membeli buket untuk dirinya sendiri. Namun, harga yang dinilai mahal dengan ukuran yang tidak sesuai membuat perempuan 21 tahun itu memilih mencoba membuat sendiri. Dari sana, muncul ide untuk menjadikannya sebagai usaha.
Amel, sapaan akrabnya, mulai menggeluti usaha buket sejak 2023. Ketika pertama kali merintis, dia belum memiliki toko maupun produk sendiri. Sistem pre-order (PO) menjadi pilihan dengan memanfaatkan foto produk sebagai gambaran buket yang ditawarkan kepada calon pembeli.
“Awalnya saya ingin beli buket buat diriku sendiri, ternyata kok mahal, dapatnya juga kecil. Terus aku lihat di e-commerce, barang-barangnya mudah didapat dan terjangkau harganya. Ya sudah, saya coba buat usaha buket, ternyata enjoy banget sampai sekarang,” ungkapnya.
Namun, langkah awal tersebut tidak langsung menghasilkan keuntungan. Pada tahun pertama, Amel justru harus menanggung kerugian hingga ratusan ribu rupiah. Kondisi serupa kembali dialaminya pada tahun berikutnya.
Baca Juga: Kena PHK Saat Covid-19, Prazha Bangkit dari Peternakan Ayam hingga Kini Pelihara 10.000 Ekor
Alih-alih menyerah, pengalaman tersebut dijadikan bahan evaluasi. Memasuki tahun ketiga, Amel mulai lebih berani mengembangkan usahanya dari rumah.
Penjualan dilakukan secara langsung kepada pembeli yang datang maupun melalui pesanan lewat WhatsApp. Sampai sekarang, dia belum memasarkan produknya melalui berbagai e-commerce karena masih mempertimbangkan kemampuan dalam mengelola pesanan yang lebih luas.
Tantangan membangun usaha buket bukan hanya soal mendapatkan pembeli. Amel juga harus meningkatkan kemampuan merangkai dan membungkus buket agar hasilnya sesuai harapan pelanggan.
Pada awal merintis, kemampuan wrapping-nya masih belum rapi. Kondisi itu sempat membuat beberapa pelanggan memberikan komplain.
Pengalaman tersebut mendorong Amel untuk terus memperbaiki kualitas produknya. Dia memperhatikan tatanan, susunan, hingga memperbanyak variasi buket agar pelanggan memiliki lebih banyak pilihan.
Baca Juga: Hari Polwan, Kisah Kapolsek Boyolangu Tulungagung Kejar Penjambret hingga Hadapi Seribuan Massa
“Seiring berjalannya waktu tetap upgrade diri. Wrapping-nya dibagusin lagi, tatanannya, susunannya, terus macam-macam buketnya diperbanyak supaya orang enggak bosan,” ujarnya.
Kesibukan tersebut harus dijalankan Amel bersamaan dengan aktivitasnya sebagai mahasiswa. Dia bahkan harus bolak-balik antara Tulungagung dan Mojokerto karena sebagian besar pesanan berasal dari daerah asalnya.
Kondisi itu membuatnya harus pandai menentukan prioritas antara kuliah dan memenuhi pesanan pelanggan. Pesanan yang waktunya terlalu mepet terkadang harus ditolak agar tidak mengganggu aktivitas lainnya.
“Kalau seumpama di kampus bisa ambil izin, ya sudah. Kalau di rumah ada pesanan, saya ambil izin, tapi kalau di rumah itu (Mojokerto) pesanannya mepet, kayak pesen pagi diambil sore itu sering aku tolak,” kata perempuan yang sementara berdomisili di Desa Tunggulsari, Kecamatan Kedungwaru, tersebut.
Baca Juga: Vika Cahyani Putri, Berawal dari Hobi Bernyanyi hingga Menekuni Dunia MC
Dari sisi modal, Amel juga menerapkan cara sederhana. Uang muka atau down payment (DP) dari pelanggan digunakan untuk membeli bahan yang diperlukan. Dengan sistem tersebut, dia tidak harus menyediakan seluruh modal produksi menggunakan uang pribadi.
Pendapatan usaha buket Amel sangat bergantung pada momen tertentu. Saat musim wisuda, omzetnya dapat mencapai sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Sementara pada hari biasa, omzet berada di kisaran Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.
Bagi Amel, pendapatan tersebut tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian besar digunakan untuk memutar modal dan mengembangkan usaha. Selain itu, penghasilannya juga dimanfaatkan untuk self-reward bagi dirinya dan orang tua.
Meski demikian, pencapaian terbesar Amel bukan semata-mata nominal omzet. Kepercayaan pelanggan justru menjadi ukuran keberhasilan yang lebih berarti.
Baca Juga: Dari Tulungagung ke Pasar Dunia, Azrabella Nurmala Kembangkan Bisnis Kerajinan Fosil Kayu
Salah satunya ketika pelanggan mulai memberikan pesanan dengan nilai lebih besar. Buket seharga Rp 500 ribu ke atas menjadi tanda bahwa hasil karyanya mulai dipercaya.
“Dapat pesanan yang besar-besar, buket Rp 500.000 ke atas itu pencapaian banget, karena orang-orang sudah percaya sama kita,” ungkapnya.
Kini, Amel masih terus mengembangkan usaha tersebut. Dia memandang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Baginya, rasa malu dan gengsi justru bisa menjadi penghambat ketika seseorang ingin memulai usaha.
Usaha buket yang dirintis sejak 2023 akhirnya tidak hanya menjadi sumber penghasilan. Bagi Amel, bisnis tersebut menjadi ruang untuk belajar memanfaatkan peluang, menghadapi kegagalan, sekaligus membangun usaha dari sesuatu yang awalnya dia sukai.(mg2)
Editor : Vidya Sajar Fitri