Hobi Pusaka Sejak 2003, Sasongko Edi Kini Jadi Edukator dan Rawat Warisan Budaya

Tim Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 11:34 WIB
Edukator pusaka Tulungagung Sasongko Edi mengubah hobi sejak 2003 menjadi upaya merawat, mempelajari, dan mengenalkan warisan budaya kepada masyarakat.
Edukator pusaka Tulungagung Sasongko Edi mengubah hobi sejak 2003 menjadi upaya merawat, mempelajari, dan mengenalkan warisan budaya kepada masyarakat.

TULUNGAGUNG - Bagi sebagian orang, pusaka mungkin hanya dipandang sebagai benda peninggalan masa lalu yang tersimpan di lemari. Namun, bagi Sasongko Edi, 50, pusaka menyimpan cerita panjang tentang sejarah, seni, doa, hingga karakter budaya yang melekat di dalamnya.

Warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Kedungwaru, tersebut mulai mengenal pusaka pada 2003. Ketertarikannya kemudian semakin berkembang sejak 2007 dengan aktif mengikuti berbagai kegiatan berkaitan dengan pusaka, termasuk pameran dan komunitas pencinta pusaka.

Dari hobi tersebut, Sasongko kemudian mendirikan Griya Aji Nyawiji. Tempat itu menjadi ruang untuk menyalurkan kecintaannya terhadap pusaka sekaligus berbagi pengetahuan kepada masyarakat.

“Saya itu awal-awalnya cuma hobi, cuma suka. Terus ke sini-sininya karena menjadi suatu yang bisa saya salurkan untuk orang lain,” ujar Sasongko, Senin (7/9).

Sasongko tidak membuat keris atau pusaka. Perannya lebih sebagai kolektor, pencinta, sekaligus edukator yang berusaha memperkenalkan kembali sejarah dan makna di balik benda-benda warisan budaya tersebut.

Baca Juga: Gagal Jadi Duta Kampus, Ahmad Aprianto Bangkit hingga Raih Gelar Duta Berbakat

Baginya, pusaka bukan sekadar hasil karya seni tempa logam atau metalurgi. Di dalamnya terdapat cerita dan sejarah perjalanan masyarakat Nusantara yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menurut Sasongko, proses pembuatan pusaka juga melahirkan berbagai corak yang dikenal sebagai pamor. Corak tersebut bukan sekadar hiasan karena masing-masing memiliki nama dan filosofi tersendiri.

“Pusaka itu tidak hanya sebuah bilah besi, tapi sebuah hasil karya seni tempa logam,” jelasnya.

Pengetahuan itulah yang berusaha terus disalurkan Sasongko kepada masyarakat. Dia bahkan telah memiliki sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai edukator pusaka dari Kementerian Kebudayaan.

Sebagai edukator, Sasongko berupaya membantu masyarakat memahami cikal bakal pusaka. Menurutnya, pusaka perlu dikenali bukan hanya dari bentuk luarnya, tetapi juga dari sejarah dan makna yang melekat di dalamnya.

Baca Juga: Usaha Buket Mahasiswa Ini Sempat Rugi Dua Tahun, Kini Omzet Tembus Rp 2 Juta saat Wisuda

Perjalanannya sebagai edukator membawanya terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Dia pernah mewakili Pemkab Tulungagung dalam kegiatan pameran pusaka.

Pada 2025, Sasongko juga menjadi bagian dari perwakilan Museum Tulungagung dalam pameran museum se-Jawa Timur. Dalam kegiatan tersebut, dia membawa materi edukasi mengenai pusaka.

Tidak hanya di kegiatan pameran, Sasongko juga pernah diundang sejumlah SMA di Tulungagung untuk memberikan penjelasan mengenai pusaka dalam konteks seni dan budaya.

Di tengah perkembangan zaman, Sasongko melihat pusaka menghadapi tantangan untuk tetap dikenal generasi muda. Karena itu, pendidikan dinilai menjadi salah satu jalan untuk menjaga keberadaannya.

Menurutnya, seni budaya masa lampau tidak seharusnya ditinggalkan. Pusaka dapat menjadi bagian dari pembelajaran seni budaya sehingga generasi muda tidak hanya mengetahui bentuknya, tetapi juga memahami sejarah dan filosofi di dalamnya.

Di sisi lain, pusaka juga memiliki nilai ekonomi. Sebagai kolektor dan pelaku pemaharan pusaka, Sasongko memahami bahwa penghargaan terhadap sebuah pusaka dapat sangat beragam.

Kelangkaan, kualitas seni, karakter, serta kondisi pusaka menjadi bagian yang memengaruhi nilainya. Menurut Sasongko, batas penghargaan terhadap pusaka sebagai karya seni tidak sederhana untuk ditentukan.

Baca Juga: Kena PHK Saat Covid-19, Prazha Bangkit dari Peternakan Ayam hingga Kini Pelihara 10.000 Ekor

“Pemahaman untuk pusaka batas dan ukurannya tidak terbatas karena itu termasuk karya seni, selain kualitas seni dan karakter seninya ada semakin bagus otomatis pemaharan pusaka atau barang langkah harganya tidak terukur,” ujarnya.

Sebagian pusaka yang berada di tangannya bahkan berasal dari hibah. Ada pemilik yang sudah tidak mampu merawat pusaka peninggalan keluarga, kemudian menyerahkannya kepada Sasongko untuk dirawat.

“Daripada nanti rusak atau bagaimana, itu biasanya dihibahkan ke saya. Atau ya kasarnya pasrah ngopeni,” tuturnya.

Merawat pusaka membutuhkan perhatian khusus karena materialnya berbeda dengan benda logam biasa. Setelah dirawat, pusaka tersebut dapat kembali menarik perhatian para pencintanya.

Bagi Sasongko, dunia pusaka memang tidak pernah sederhana. Dia menyebut terdapat sekitar 600 jenis dapur atau karakter bilah.

Perbedaan tersebut membuat ketertarikannya terhadap pusaka tidak berhenti pada satu jenis. Ada bilah yang lurus dan ada pula yang memiliki lekukan atau luk dengan jumlah berbeda. Masing-masing bentuk bilah memiliki makna tersendiri.

Perjalanan Sasongko menunjukkan bagaimana sebuah hobi dapat berkembang menjadi ruang pengabdian. Dari sekadar menyukai benda klasik, dia memilih mempelajari, merawat, dan membagikan pengetahuan tentang pusaka kepada masyarakat.

Bagi Sasongko, merawat pusaka bukan hanya mempertahankan benda lama. Lebih dari itu, terdapat upaya menjaga cerita, seni, filosofi, dan identitas budaya agar tetap memiliki tempat di tengah kehidupan modern.(mg1)

Editor : Vidya Sajar Fitri
edukator pusaka tulungagung sasongko edi griya aji nyawiji Pusaka Tulungagung Budaya Tulungagung