TULUNGAGUNG - Perjalanan Muhammad Nur Aziz Syafi'uddin di dunia dakwah berawal dari keisengan.
Namun, ketertarikannya untuk terus tampil dan belajar justru membawanya meraih juara tiga Pagelaran Festival Dakwah (LAFESTDA) 2026.
Mahasiswa semester 5 Program Studi Manajemen Dakwah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung itu sebelumnya pernah mengikuti ajang yang sama pada 2025.
Saat itu, langkahnya terhenti sebelum final dengan selisih nilai sekitar dua atau tiga poin dari sepuluh peserta yang lolos.
Kegagalan tersebut tidak membuat Aziz berhenti.
Setahun kemudian, dia kembali mengikuti LAFESTDA 2026 dengan persiapan lebih matang hingga berhasil masuk sepuluh finalis dan mengikuti babak offline pada Juli.
Baca Juga: Gelisah Melihat Persoalan Perempuan, Khofifa Terjun ke Dunia Advokasi
“Awalnya ya coba iseng ikut-ikut dan ternyata kok terlanjur nyaman di dunia dai,” ungkap Aziz.
Aziz mulai mengenal dunia dakwah ketika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler saat SMP.
Dari pengalaman awal tersebut, dia kemudian mulai mengikuti berbagai perlombaan dan menjadikannya sebagai ruang untuk mengasah kemampuan.
Baginya, lomba tidak hanya tentang mengejar juara.
Koreksi dari juri dan penampilan peserta lain menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kemampuan berbicara, mengolah ekspresi, hingga menguasai materi.
Setiap perlombaan juga dipersiapkan secara serius.
Pemuda asal Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Nganjuk, itu mempelajari penyelenggara, tema, petunjuk teknis, serta durasi penampilan yang umumnya berkisar tujuh hingga sepuluh menit.
Dia kemudian berlatih mengatur tempo bicara agar materi yang disampaikan tidak melebihi ataupun kurang dari waktu yang ditentukan.
Naskah menjadi salah satu bagian penting dalam persiapannya.
Baca Juga: Berawal dari Hobi Dunia Event, Dhimas Bangun Usaha Persewaan Perlengkapan Hajatan
Aziz memilih menulis sendiri materi dakwah karena lebih memahami alur, persoalan, solusi, hingga hadis dan dalil yang digunakan.
“Pastinya kan lebih mudah itu naskah yang kita bikin sendiri daripada naskah yang langsung jadi dibuat orang lain. Karena kalau kita yang buat sendiri itu akan lebih mengalir dan lebih mudah untuk menghafalkan,” jelasnya.
Kemampuan Aziz semakin terasah melalui komunitas El-Himmah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Selain mendalami Alquran, hadis, dan turats, komunitas tersebut juga menjadi ruang berbagi informasi perlombaan serta menggelar pelatihan dua minggu sekali.
Pengalaman dari kegagalan LAFESTDA 2025 menjadi bekal ketika dia kembali bertanding.
Meski demikian, rasa gugup tetap muncul saat harus tampil jauh dari kampung halaman dan bertemu peserta yang dinilainya memiliki kemampuan lebih baik.
Perasaan minder dan overthinking sempat muncul sebelum tampil.
Namun, Aziz memilih tetap maju dan mengandalkan latihan yang sudah dilakukan.
Pencapaian juara tiga LAFESTDA 2026 terasa semakin berarti karena diraih sambil membagi waktu antara kuliah, kegiatan pondok, dan latihan.
Baca Juga: Hobi Pusaka Sejak 2003, Sasongko Edi Kini Jadi Edukator dan Rawat Warisan Budaya
Aziz berdomisili di Pondok Pesantren Al Bidayah, Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru.
Waktu setelah Isya biasanya digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah. Sementara hafalan teks dan latihan gerakan dilakukan di sela kegiatan pondok.
“Jadi tergolong pondok yang tidak terlalu ketat dan untuk kegiatannya itu juga bisa menyesuaikan dari kampus. Untuk latihan biasanya ya tetap latihan di pondok, hafalin teks, gerakan-gerakan,” tuturnya.
Bagi Aziz, tantangan terbesar justru berasal dari dirinya sendiri.
Rasa malas, minder, dan anggapan bahwa peserta lain lebih hebat kerap muncul sebelum tampil.
Dukungan orang-orang di sekitarnya membuatnya tetap mencoba.
“Menang kalah tidak apa-apa, yang penting dicoba dulu,” katanya.
Selain penghargaan, respons penonton menjadi hasil lain yang membuatnya bersemangat.
Aziz pernah menerima pesan dari penonton yang merasa materi dakwah yang disampaikannya sesuai dengan persoalan yang sedang mereka alami.
Kini, dia ingin membawa pengalaman tersebut ke panggung yang lebih besar.
Targetnya adalah menyelesaikan kuliah tepat waktu, memperluas pengalaman hingga tingkat nasional, mencoba ajang seperti AKSI, serta memanfaatkan media digital untuk menjangkau lebih banyak anak muda.(mg2)
Editor : Vidya Sajar Fitri